Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 55. Pertengkaran Azril dan Reno


__ADS_3

Mami memandangi wajah papi dan Zeya bergantian. Tampak keraguan dari pancaran wajahnya.


"Tapi mami dengar tadi kamu memanggil papi dengan om Reno. Kamu seperti sudah sangat akrab dengan papi."


"Aku masih canggung memanggil papi, mi."


"Tapi kalau mami tak salah dengar kamu memaki papi dengan kata bejat."


"Aku dan Zeya lagi bicarakan tokoh drama,mi. Mana mungkin Zeya berani mengatakan mertuanya bejat."


"Papi betul. Zeya tak mungkin begitu. Papi, jika nanti ada Azril,.mami mohon jangan bertengkar lagi."


"Aku tak pernah memulai, mami tau sendiri gimana kerasnya Azril."


"Tapi papi bisakan mengalah. Malu sama Zeya, pi. Ia pasti bertanya-tanya kenapa anak dan papinya tak pernah akur."


"Iya, mi. Papi usahakan mengalah demi Zeya." Tampak papi bermain mata pada Zeya. Mami tak memperhatian karena sibuk memotong kue.


"Mami bawa ini ke depan buat teman dulu, ya."


"iya, mi."


Mami membawa kue buatan Zeya untuk tamunya. Begitu mami pergi Zeya juga melangkah, ia tak mau lagi tetap di dapur. Karena tak mau berdebat dengan om Reno.


Saat Zeya melewati om Reno, tangannya langsung di pegang Reno. Ia menahannya agar Zeya tak pergi.


"Lepaskan tanganku, om."


"Kita belum selesai bicara."


"Tak ada yang perlu kita bicarakan lagi."


"Aku pernah mengatakan padamu, jika suatu hari kamu harus mau melayaniku."


"Dasar pria gila. Apakah om sadar dengan ucapan itu. Aku saat ini telah menjadi menantu om."

__ADS_1


"Kenapa emangnya kalau menantu."


"Itu berarti aku saat ini adalah anaknya om juga."


"Kenapa ... mana yang kamu pilih, melayaninya atau aku buka aibmu pada mami."


"Silakan om buka aibku pada mami. Dari pada aku melayani nafsu bejat om. Sadar om, itu dosa besar."


"Jangan sok suci lagi,Zeya. Kamu itu juga telah bergelimang dosa."


"Karena aku sadar, jika aku ini bergelimang dosalah makanya aku berusaha berubah jadi manusia yang lebih baik."


"Sekali saja kamu melayaniku. Aku akan tutup mulut selamanya."


Zeya yang sudah terbawa emosi mengangkat tangan dan menampar wajah Reno.


Reno yang tak mengira jika Zeya berani melakukan itu tampak kaget. Ia berdiri dari duduknya. Reno mengangkat tangannya, ingin membalas tamparan Zeya.


Zeya langsung menutup wajahnya ketika melihat tangan Reno yang melayang. Tapi Zeya heran karena Reno batal menamparnya. Ia lalu membuka mata dan melihat Azril yang mencekal pergelangan tangan Reno.


"Udah aku katakan, jangan sentuh istriku."


"Wanita ini istriku." Azril memeluk pundak Zeya yang ketakutan.


"Jangan bodoh dan dibutakan karena cinta Azril. Kamu pasti tau jika wanita ini adalah wanita penghibur. Ia telah banyak melayani pria. Apakah kamu tidak jijik berhubungan badan dengan wanita bekas banyak pria."


Mendengar ucapan papinya Azril melayangkan tinju ke wajah Reno. Sudut bibir Reno tampak mengeluarkan darah segar.


"Sudah mas. Jangan bertengkar. Kita pergi saja." Zeya memeluk tubuh suaminya agar tak melayangkan tinju lagi.


"Pria ini harus diberi pelajaran agar tak mengganggu kamu terus."


"Kamu berani menampar papimu hanya untuk melindungi wanita sampah itu. Tubuhnya saja udah banyak dinikmati pria. Kamu pasti tak sadar jika ia telah menjebak kamu."


"Zeya tak pernah menjebakku."

__ADS_1


"Bagaimana bisa kamu katakan ia tak menjebakmu. Kamu tau jika ia telah melayani banyak pria, apakah kamu yakin jika anak kembar itu anakmu. Bisa saja itu anak orang lain. Karena benih di rahimnya dari banyak pria."


Azril melepaskan pelukan Zeya dan berdiri tepat dihadapan ayahnya.


"Kau yang baj*ngan. Apa ada seorang pria yang mengaku sebagai papi menggoda kekasih anaknya sendiri."


"Aku tak pernah menggoda Shinta. Wanita itu yang awalnya menggodaku. Wanita itu murahan. Kamu saja yang tak tau. Seperti saat ini, kamu selalu saja dibutakan cinta. Kenapa kamu selalu suka dengan wanita nakal dan penggoda. Dan lebih parah lagi, saat ini kamu bahkan menikahinya. Apa kamu tidak takut tertular penyakit dan tak merasa jijik. Aku aja jijik melihatnya."


Tampak wajah Azril memerah menahan amarahnya. Ia kembali melayangkan tinjunya., kali ini dengan tendangan.


Zeya tampak ketakutan melihat anak dan ayah itu berkelahi. Karena Reno yang juga melawannya.


Zeya berlari memeluk tubuh Azril saat ia melihat Reno yang mengambil teflon ingin memukul anaknya itu. Akhirnya punggung Zeya yang terkena pukulan itu. Reno kaget melihat Zeya yang terkena pukulan darinya.


"Awww ...." teriak Zeya . Ia merintis menahan perih di punggung yang terkena pukulan dari Reno.


"Sayang, kenapa kamu melindungiku," ucap Azril panik.


Azril mengangkat tubuh Zeya dan membawanya masuk kamar. Ia meninggalkan Reno seorang diri.


Mami masuk ke dapur setelah tamunya pulang. Ia sayup-sayup tadi mendengar pertengkaran mereka. Tapi ia segan meninggalkan tamunya.


Setelah meletakkan tubuh Zeya di atas tempat tidur, Azril kembali ke dapur.


"Jika terjadi sesuatu dengan Zeya, aku tak akan pernah lagi memaafkan kamu. Sudah aku katakan, jangan pernah menyentuh Zeya." teriak Azril.


"Ada apa ini, Azril?"


"Tanyakan pada suami mami tercinta itu."


"Katakan papi, ada apa ini?"


Papi tampak menarik nafasnya. Ia tak tau harus berkata apa.


Bersambung

__ADS_1


********************


Terima kasih buat semuanya. Tetap setia ya menanti kelanjutannya. ❤❤❤❤💜💜💜💜


__ADS_2