
Setelah jenazah Papi diturunkan ke liang lahat, Azril mengatur letaknya. Azril metakkan jenazah Papi miring ke kanan menghadap ke arah kiblat dengan menyandarkan tubuh sebelah kiri ke dinding kubur supaya tidak terlentang kembali.
Azril juga membukakan kain kafan, pipi jenazah ditempelkan langsung ke tanah. Simpul tali yang mengikat kain kafan pun dilepas dan membacakan doa dan mengazankan.
Setelah mengadzankan, Azril naik lagi dan jenazah papi siap untuk dikuburkan. Perlahan tanah mulai menutupi tubuhnya.
Saat tanah sudah menutupi seluruh jenazah Papi, tangis mami akhirnya pecah. Walaupun dari awal pernikahan Papi tak mencintainya, tapi papi selama ini tak pernah kasar dengan mami.
Papi tetap memberikan perhatiannya buat Mami, dan sebagai ayah ia sangat menyayangi putranya Azril.
Raja dan Ratu yang berada dalam gendongan Albirru dan Zahra memperhatikan semuanya.
"Ayah, kasihan Opa. Pasti Opa sakit dikuburkan dengan tanah," ucap Raja.
"Opa tidak akan merasakan sakit lagi, Nak."
Mendengar ucapan Albirru, ia memandangi wajah ayahnya. Mungkin masih belum paham.
Ustad membacakan doa buat jenazah Papi. Mami menaburkan bunga dengan berurai air mata.
"Selamat jalan Papi. Semoga kamu tenang disana. Dan diampuni semua dosa Papi," ucap Mami. Zeya memeluk tubuh Mami.
Papi, mungkin sebagai seorang suami kamu banyak melakukan kesalahan. Kamu sering mengkhianati diriku. Tapi yang tak bisa aku lupakan, perhatianmu padaku dan Azril tetap sama.
Perlahan para pelayat meninggalkan area pemakaman. Yang tersisa hanya Mami, Azril, Zeya, dan keluarga Albirru.
__ADS_1
Mami dan Azril juga Zeya berlutut di depan makam papi.
"Papi, selamat jalan. Aku sebagai anak pasti ada melakukan kesalahan, maafkan aku. Semua salah papi telah aku maafkan. Semoga papi berada ditempat terindah-Nya."
Shinta yang masih berada dipemakaman, maju mendekat. Ia kembali memeluk Azril.
"Azril, aku dengan siapa setelah om Reno pergi." Azril yang kaget, spontan mendorong tubuhnya.
Mami yang sedang berdoa dan berlutut didepan kuburan Papi berdiri dan berjalan mendekati Shinta diikuti Zeya.
"Dengarkan Shinta, ini pertama dan terakhir kali aku katakan ... jangan pernah kamu dekati Azril. Ia telah berkeluarga, jika kamu nekad mengganggunya, kamu akan berhadapan denganku. Cukup aku saja yang merasakan sakit hati saat suamiku berselingkuh denganmu. Tidak akan aku biarkan kamu juga menyakiti Zeya. Bagiku dia bukan hanya menantu, tapi sudah seperti anakku sendiri."
Mami tampak menarik nafasnya setelah mengucapkan itu pada Shinta. Wanita itu hanya terdiam mendengar ucapan mami.
Azril lalu berdiri dan mendekati Shinta. Ia tampak juga terbawa emosi. Beruntung pelayat dan kerabat telah pulang.
Zeya mendekati Azril dan memeluk lengan suaminya itu. Ia takut Azril berbuat nekad.
"Sudah, Mas. Kasihan Mami. Kita masih berduka, jangan layani orang gila." Zeya berkata sambil mengusap lengan suaminya itu.
"Jaga mulutmu. Seenaknya kamu katakan aku gila. Apa kamu sudah merasa hebat karena dinikahi Azril. Kamu lupa jika kamu itu sampah, berasal dari tempat yang hina dan kotor. Jadi jangan sombong," ucap Shinta.
Azril yang mendengar ucapan Shinta, tak bisa menahan emosinya lagi. Dilepasnya tangan Zeya yang memeluk lengannya. Ia mendekati Shinta dan menampar pipinya cukup keras. Dari sudut bibirnya tampak darah mengalir akibat tamparan itu.
Shinta merintis kesakitan. Memegang pipinya yang terasa panas bekas tamparan Azril.
__ADS_1
"Kamu tega Azril. Kamu menamparku hanya karena wanita itu," gumam Shinta.
"Kenapa tidak. Zeya itu istriku. Apapun akan aku lakukan jika ada yang berani menyakitinya."
"Kamu lebih membelanya dari pada aku," teriak Shinta.
"Emangnya kamu siapa. Kamu itu bukan siapa-siapa aku lagi. Aku aja menyesal pernah mengenalmu. Aku malu pada dirimu. Kamu pikir dirimu lebih suci dari Zeya. Apa kamu lupa jika kamu juga telah berkumpul dengan papi sebelum menikah siri dengannya."
Azril mengucapkan itu sedikit keras. Raja dan Ratu yang melihat Daddy nya berkata dengan suara keras menjadi takut. Baru kali ini ia melihat Daddynya marah.
"Daddy ...." panggil Ratu sambil menangis digendongan Zahra.
Azril yang mendengar suara Ratu putrinya menjadi tersadar dari emosinya. Azril meninggalkan Shinta dan mendekati Zahra. Mengambil Ratu dari gendongannya.
"Daddy kenapa marah?"
"Maafkan, Daddy. Tak akan Daddy ulangi lagi. Wanita itu tadi jahat sama bunda."
"Aku takut," ucap Ratu lagi.
"Sekali lagi maafkan Daddy. Mari kita pulang saja. Aku tak mau berbuat hal yang lebih buruk lagi," ucap Azril.
Azril mengajak Zeya dan mami meninggalkan pemakaman. Dibelakangnya ada Albirru dan keluarga mengikuti.
Bersambung
__ADS_1
********************
Tak tau malu banget Shinta ya. Apa di dunia nyata ada wanita seperti Shinta ini? Nantikan terus kelanjutan novel ini. Terima kasih.