
Sampai dikediamannya Azril langsung memeluk mami yang sedang menonton televisi bersama Raja dan Ratu. Ia mengecup pipi mami berulang kali.
"Kamu kenapa?" ucap mami keheranan. Raja juga menatap daddynya dengan heran.
"Zeya hamil," ucapnya dan kembali memeluk mami erat.
"Aduh, meluknya jangan kuat-kuat."
Raja yang melihat daddynya terus memeluk mami dengan erat lalu berdiri. Dan memukul kaki Azril dengan mainan pedangnya.
"Daddy jahat. Sakit nanti Oma," ucapnya terus memukul Azril.
Azril melepaskan pelukannya, dan berjongkok di hadapan Raja. Ia lalu memeluk Raja dan menghujani ciuman pada seluruh bagian di wajah putranya itu.
"Daddy senang banget, Sayang. Sebentar lagi kamu akan punya adik," ucap Azril masih menciumi wajah anaknya.
"Adik ...."
"Iya, adik. Kamu akan memiliki adik, " ulang Azril.
"Adik bayi, Daddy."
"Iya,.sayang? "
"Hore punya adik. Kayak temannya aku disekolah ya, Daddy. Ada adik kecil yang didorong itu."
"Iya, Sayang."
Zeya duduk di samping mami memperhatikan Raja dan Azril. Ratu melihat bundanya langsung naik kepangkuan Zeya. Melihat itu Azril berdiri dan langsung menggendong Ratu, putri kesayangannya.
"Dengar Ratuku, mulai besok kamu tak boleh minta gendong dengan bunda. Mintanya sama Daddy aja. Di perut bunda ada dedek bayi. Nanti adiknya sakit kalau bunda gendong kamu."
"Di perut bunda ada adik. Ratu mau lihat."
"Sekarang belum bisa dilihat. Masih kecil banget."
"Daddy bohong ...." rengek Ratu.
"Daddy nggak bohong, Ratuku." Azril mengecup seluruh bagian di wajah Ratu hingga gadis cilik itu marah dan mendorong kepala daddy nya.
"Geli, Daddy. Lemas juga."
"Mas, kalau cium suka gitu deh. Nggak puas sekali."
"Sama bunda juga gitu," ucap Raja.
"Kamu ngomong apa, Raja?" ujar Zeya malu.
"Udah berapa usia kandunganmu, Zeya. Nggak ada masalah,kan?"
__ADS_1
"Memasuki usia lima minggu, mi. Dan Alhamdulilah semua baik. Bayinya sehat."
"Jaga baik-baik kandunganmu, Zeya. Hamil muda itu rentan keguguran. Jangan banyak kerja. Toko roti biar mami yang urus."
"Apa tak merepotkan, Mami."
"Mami paling nggak suka kalau kamu berkata gitu. Mami tak pernah merasa kamu repotkan. Kamu sudah mami anggap seperti anak sendiri. Sayang mami padamu sama seperti sayang mami pada Azril. Atau kamu hanya menganggap mami ini mertuamu saja tidak orang tuamu."
"Mami jangan ngomong gitu, aku sayang mami. Aku merasakan kasih sayang seorang ibu lagi sejak aku menikah sama Azril." Zeya memeluk mami erat dan mengecup pipinya.
"Mulai hari ini kamu nggak boleh masak, nggak boleh kerja di toko roti lagi," ujar Azril.
"Tapi aku masih boleh main ke toko roti, kan?"
"Nggak boleh keseringan," ujar Azril lagi dan berlalu.
Azril menggendong Raja dipunggung dan Ratu di depan, ia membawa mereka bermain ke taman belakang.
..........
Di kota lain, Albirru sedang menyantap makan siangnya. Thalita istri mudanya meminta Albirru pulang setiap jam makan siang. Ia tak mengizinkan suaminya makan di kantor.
Albirru makan sambil melamun. Dan itu tampak oleh Thalita.
"Mas Al, mikir apa?" ucap Thalita membuat Albirru kaget.
"Oh, nggak mikir apa-apa."
"Enak kok." Albirru menyuapi nasinya.
Zahra sedang apa ya. Apa aku sebaiknya menyusul dirinya saja. Kasihan dia sendirian.
"Mas ... melamun lagi, kan." Tampak Thalita mulai kesal dengan Albirru.
"Maaf, Thalita. Mas lagi mikirin Zahra."
"Oh, jadi dari tadi mas mikirin mbak Zahra," ucap Thalita kesal.
"Mas mau nyusul ke Jakarta besok, kamu nggak apa, kan?"
"Emang aku boleh melarang. Tentu saja itu semua terserah mas aja."
"Nanti kamu menginap di rumah mama aja. Mas mungkin seminggu di sana."
"Iya, terserah mas aja."
"Jangan marah. Kasihan Zahra hanya sendirian di kota sebesar itu."
"Iya, Mas," ucap Thalita penuh penekanan.
__ADS_1
"Kamu mau mas belikan apa buat ole-ole."
"Aku mau mas selamat pulangnya. Itu aja."
"Kamu tuh selalu aja bisa buat mas senang," ucap Albirru dengan tersenyum.
.............
Keesokan harinya Albirru mengantar Thalita kerumah orang tuanya sebelum ia berangkat ke Jakarta. Ia tak mengatakan kedatanganya pada Zahra. Ingin memberi kejutan pada istrinya itu.
Kemarin malam ia telah menanyakan alamat dimana istrinya menginap. Tapi tak mengatakan akan menyusul.
Zahra yang janjian bertemu Zeya bersiap-siap pergi. Ia telah menghubungi Zeya.
Jam sebelas siang Zahra telah berada di toko roti Zeya. Ia dipersilakan duduk sama salah satu karyawan Zeya.
Setelah menunggu sepuluh menit tampak Zeya yang datang. Ia langsung menghampiri Zahra.
"Maaf, Zahra. Harus menunggu."
"Tak apa, mbak."
"Kamu mau minum apa?"
"Nggak usah, Mbak. Jika aku haus nanti aku bisa minta." Zahra meminta Zeya nggak usah repot membuatkan air minum. Zeya kemudian duduk dihadapan Zahra. Mereka mulai berbincang.
Ponsel di tas Zahra berbunyi saat mereka sedang berbincang. Ia melihat ke ponsel dan tampak nama Albirru.
"Maaf, Mbak. Aku angkat telepon dari mas Albirru dulu."
"Silakan," ucap Zeya. Zahra lalu mengangkat ponselnya.
"Assalamualaikum, Zahra. Kamu dimana. Mas saat ini ada di tempat kamu menginap."
"Apa ...." ucap Zahra kaget.
"Kamu di kamar berapa?"
"Aku saat ini tak ada dipenginapan, Mas."
"Kamu lagi di mana?"
"Di toko roti mbak Zeya."
"Zeya ...." ujar Albirru kaget.
Zahra memandangi wajah Zeya saat mengucapkan itu. Ia takut Zeya marah karena mengatakan di mana ia saat ini.
Bersambung
__ADS_1
******************
Apakah Albirru akan menyusul ke tempat Zeya?. Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. ❤❤❤❤. Terima kasih.