Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 78. Rumah Kediaman Zeya


__ADS_3

Malam ini Azril dan Zeya mengundang Albirru serta Zahra makan malam di rumahnya saja saat Albirru mengajak bertemu di salah satu pusat keramaian. Ia tak ingin bertemu di luar.


Azril memang sedikit protektif pada Raja dan Ratu. Ia takut terjadi sesuatu jika mereka sering di bawa ke tempat umum yang ramai dikunjungi. Mereka hanya membawa Raja dan Ratu sesekali ke mal.


Albirru sampai di sebuah rumah mewah yang di jaga seorang satpam. Melihat ada mobil yang parkir depan pagar rumah Azril, satpam itu mendekati mobilnya Albirru.


"Ada yang bisa saya bantu," ucap Satpam itu ketika Albirru membuka kaca mobilnya.


"Apa benar ini rumah bapak Azril dan ibu Zeya."


"Benar, boleh saya tau nama bapak."


"Albirru."


"Tunggu sebentar pak, saya hubungi pak Azril dulu"


Satpam itu menghubungi Azril melalui telepon yang ada di pos. Setelah mendapat kepastian dari Azril jika mereka tamunya barulah satpam itu membuka pintu pagar dan mempersilakan Albirru masuk.


Albirru di antar bibi menuju ruang keluarga di mana Azril dan anak-anaknya sedang bermain sambil menonton.


"Assalamualaikum, Azril, Zeya."


"Waalaikumsalam, Al. Silakan duduk."


Albirru dan Zahra menyalami mami sebwkum duduk.


"Mi, kenalkan ini Albirru ayahnya Raja dan Ratu." Azril memperkenalkan Albirru.


"Jadi ini ayahnya Raja dan Ratu."


"Iya, bu."


"Jangan panggil ibu, panggil aja mami seperti Azril dan Zeya."


"Baik, mi."


"Raja, Ratu, salam dengan ayah dan tante," ujar Mami.


Raja dan Ratu turun dari sofa dan menyalami Albirru dan Zahra.


"Apakabar anak-anak ayah."

__ADS_1


"Aku baik, kalau Ratu sedikit flu. Kebanyakan makan es krim."


"Betul, Ratu. Sini ayah peluk biar sakitnya hilang."


"Apa ayah dokter," tanya Ratu.


"Bukan, tapi dengan pelukan seorang ayah akan membuat sakit anaknya berkurang."


"Aku mau dipeluk Daddy aja. Daddy pasti dapat menghilangkan sakitku. Daddy selalu aja bisa melakukan apapun yang aku mau." Ratu lalu berlari menuju Azril dan naik kepangkuannya.


"Kamu mau apa, Ratuku," ujar Azril mengecup pipinya.


"Aku mau di peluk Daddy. Kata ayah kalau daddy peluk, maka sakit aku akan hilang."


"Baiklah, Ratuku." Azril lalu memeluk erat tubuh Ratu, membawa kedalam dekapan dadanya.


"Aku juga mau dipeluk, Daddy," ucap Raja.


"Sini Raja ayah yang peluk."


"Aku maunya sama Daddy."


"Sini , daddy peluk keduanya."


"Sayang, nggak boleh gitu. Daddy itu milik Ratu dan juga Raja. Harus mau berbagi," ujar Zeya.


"Baik, bunda," ucap Ratu sambil menunduk.


"Raja dan Ratu tidak ada yang mau ayah gendong. Ayah juga bisa peluk, bisa main kuda-kudaan."


"Aku mau sama Daddy aja." Raja berucap dengan melipatkan kedua tangannya di dada.


"Mas, bagaimana jika kita makan lagi. Ini sudah lewat dari jam makan malam."


"Zeya benar, Azril. Pasti Albirru dan Zahra telah lapar," ucap Mami.


"Baiklah, Al mari kita makan."


Ratu yang takut didekati Albirru dan Zahra tak mau turun dari gendongan Azril. Albirru dan Zahra berjalan dibelakang Azril. Raja setelah di bujuk Albirru akhirnya mau memegang tangannya menuju dapur.


Mata Albirru dan Zahra takjub melihat kemegahan dapur di rumah Azril. Pria itu memang mendesain dapur rumahnya mewah untuk kenyamanan Zeya. Ia tau istrinya itu sangat senang memasak.

__ADS_1



Setelah makan malam, Albirru mengajak Raja dan Ratu bermain. Awalnya mereka tak mau, tapi atas bujukan Azril akhirnya mereka mau.


Satu jam Albirru bermain dengan putra dan putrinya. Akhirnya ia pamit. Mereka besok akan kembali ke Pekanbaru lagi. Saat ini Raja dan Albirru sedang duduk di taman.


"Ayah besok akan pulang ke Pekanbaru. Satu bulan lagi ayah pasti akan datang bertemu Raja dan Ratu kembali."


"Rumah ayah di mana."


"Di Pekanbaru, suatu hari Raja mau ikut dengan ayah ke sana."


"Kalau Daddy ikut, aku mau." Jawaban Raja membuat dada Albirru terasa sesak. Ia menarik nafasnya.


"Jika memang Raja maunya dengan Daddy, Raja bisa ajak daddy dan bunda untuk datang ke Pekanbaru."


"Baiklah, jika Daddy mau."


"Ayah sangat berharap Raja dan Ratu bisa menyayangi ayah seperti sayangnya Raja pada Daddy."


"Kenapa?"


"Karena ayah ini orang tuanya Raja dan Ratu, sama seperti bunda dan Daddy."


"Aku paling sayang Daddy. Apa lagi Ratu, ia tak akan tidur jika Daddy belum pulang. Ratu itu kesayangan daddy."


"Orang tua itu hanya ada dua, Daddy dan bunda."


"Raja dan Ratu anak yang istimewa. Memiliki dua ayah."


"Aku tak ngerti."


"Jika Raja telah dewasa pasti mengerti. Sekarang yang perlu Raja ingat adalah, ayah ini juga orang tua Raja dan Ratu. Ayah juga menyayangi Raja dan Ratu seperti daddy. Walau ayah tidak bisa berada disamping kalian berdua setiap saat, tapi di hati ayah selalu ada nama Raja dan Ratu."


"Iya, Ayah." Albirru lalu memeluk Raja erat. Air matanya tak bisa lagi dibendung, jatuh membasahi pipi.


Bersambung


**********************


Terima kasih buat semua pembaca setia novel ini. Nantikan terus ya kelanjutannya. 😘😘😘😘😘😘😘.

__ADS_1


Sementara menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama ini.



__ADS_2