
Setelah hampir setengah jam tak sadarkan diri, akhirnya Mama Thalita bangun. Papa membantu mama duduk. Ia telah dipindahkan ke ruang IGD.
"Pa, aku cuma bermimpikan," ucap mama saat pertama sadar.
"Ma, kita harus merelakan kepergian Thalita, agar ia bisa tenang di sana."
"Pa, kenapa harus Thalita? Kenapa bukan mama saja." Tangis mama Thalita akhirnya pecah.
"Ma, istighfar. Berdosa ngomong gitu. Semua yang terjadi atas kehendaknya."
"Thalitanya mana,Pa?"
"Jenazahnya akan dibawa ke Pekanbaru. Albirru ingin Thalita dikuburkan dibelakang rumah saja. Kebetulan tanah rumah tempat tinggal Thalita kemarin di bagian belakangnya masih besar."
"Aku mau di Duri saja, Pa."
"Tapi Albirru suaminya Thalita,Ma. Albirru yang lebih berhak," gumam Papa.
"Aku ibunya, aku yang telah mengandung Thalita selama sembilan bulan. Dan aku juga yang selama ini telah membesarkan Thalita. Albirru baru satu tahun menjadi suaminya."
"Kita bicarakan dengan Albirru dulu, Ma."
"Ini semua gara-gara Albirru."
"Ma, semua ini takdir. Kita tidak boleh menyalahkan siapa-siapa."
Albirru dan Zahra masuk ingin mengatakan jika jenazah Thalita akan segera dibawa menuju Pekanbaru.
"Maaf Pa, Ma ... jenazah Thalita akan segera di bawa menuju rumah kami."
"Mama nggak setuju. Thalita harus dikuburkan di Duri."
"Ma, aku mohon izinkan Thalita dikuburkan di Pekanbaru."
"Aku ibunya. Aku yang berhak menentukan dimana ia akan dikuburkan."
"Tante, aku bicara berdua sama mas Al dulu."
Zahra membawa Albirru keluar dari kamar di mana mama Thalita berada.
"Mas, aku rasa biarkan aja Thalita dikuburkan di dekat tempat tinggalnya. Mas harus mengerti dengan perasaan Tante saat ini. Jika Mas masih ngotot untuk menguburkan Thalita di Pekanbaru, aku takut nanti Tante akan bertambah marah dengan Mas."
__ADS_1
"Mas ingin Thalita dikuburkan di Pekanbaru agar saat mas ingin ziarah, bisa kapanpun."
"Duri itu dapat di tempuh dalam dua jam perjalanan. Aku rasa mas juga bisa sering ziarah."
Zahra berusaha membujuk Albirru agar setuju jika Thalita dikuburkan di kota Duri. Akhirnya setelah sekian lama Zahra membujuk, Albirru setuju.
Jenazah di berangkatkan menuju kota Duri. Sebelum orang tua Thalita membawa jenazah anaknya, ia menyempatkan melihat cucunya yang berada di ruang NICU.
Mama Thalita berada dalam ambulan bersama dengan jenazah anaknya Thalita. Thalita merupakan putri bungsu mereka. Dua saudaranya tinggal di kota Batam. Saat ini mereka dalam perjalanan.
Zahra dan Albirru menggunakan mobil perusahaan. Albirru tadi menghubungi salah satu karyawannya untuk datang.
Di dalam mobil Zahra mencoba menghubungi Zeya. Ia ingin menyampaikan tentang meninggalnya Thalita. Sambungan ponselnya terhubung.
"Assamualaikum, Mbak Zeya."
"Waalaikumsalam, kamu kenapa menangis?"ujar Zeya mendengar suara isak Zahra.
"Thalita, Mbak."
"Kenapa dengan Thalita, Zahra?"
"Thalita telah meninggalkan kita untuk selamanya, Mbak."
"Iya, Mbak."
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un."
Zahra menceritakan semua yang terjadi. Abi dan Umi yang sedang koma dan berada di ruang ICU juga tak lupa Zahra katakan.
"Kami akan segera menguburkannya besok pagi. Saat ini kami sudah dalam perjalanan menuju ke kota Duri. Akan dikuburkan di TPU dekat rumahnya."
"Mbak usahakan sore ini juga berangkat."
"Terima kasih, Mbak."
Sambungan ponsel terputus. Albirru masih tampak kacau. Ia hanya terdiam dan termenung.
Arti sebuah kehadiran akan terasa saat kehilangan telah merenggutnya, jika itu terjadi, maka hanya penyesalanlah yang akan tercipta. Kadang manusia harus sampai kepada titik “KEHILANGAN” untuk mengerti arti sebuah kehadiran, kasih sayang & kesetian.Jika kesabaran tak cukup menyadarkan. Mungkin kehilangan akan menyadarkan.
...........
__ADS_1
Zeya telah mengabarkan pada Azril mengenai berita meninggalnya Thalita. Ia langsung menghubungi orang kepercayaannya untuk membelikan tiket keberangkatan ke Pekanbaru.
Mami juga ikut bersama mereka. Jam lima sore mereka berangkat dari kota Jakarta menuju kota Pekanbaru.
"Kita mau kemana, Dad," tanya Raja saat dipesawat.
"Kita akan takziah lagi. Tante Thalita meninggal."
"Meninggal seperti Opa," tanya Ratu.
"Iya, Sayang."
"Tante yang mana, Dad. Aku lupa," ucap Raja.
"Tante yang lagi hamil, yang pernah datang bersama Ayah."
"Ya, aku ingat."
"Kenapa meninggal, Dad." Kali ini Ratu yang bertanya.
"Karena sakit."
"Aku tak mau Daddy dan Bunda sakit."
"Kamu doakan agar Daddy dan Bunda sehat selalu."
"Aku akan berdoa setiap solat."
Mami dan Zeya yang duduk diseberang mereka tersenyum Raja dan Ratu yang sangat pintar. Kedua anaknya itu memeluk erat Azril, dan mengecup pipinya.
Di rumah sakit, Umi dan Abi Zahra baru sampai. Ia diminta buat menjaga Abi, Umi, dan anaknya Albirru.
Dokter tampak sibuk di ruangan yang ada Abi. Keadaan Abi saat ini sangatlah kritis.
Bersambung
*******************
Apa yang akan terjadi dengan Abi atau Umi?. Nantikan terus kelanjutan novel ini. Terima kasih.
Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama ini.
__ADS_1