Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 56. Apa yang terjadi antara Azril dan papi?


__ADS_3

Mami masuk ke dapur setelah tamunya pulang. Ia sayup-sayup tadi mendengar pertengkaran mereka. Tapi ia segan meninggalkan tamunya.


Setelah meletakkan tubuh Zeya di atas tempat tidur, Azril kembali ke dapur.


"Jika terjadi sesuatu dengan Zeya, aku tak akan pernah lagi memaafkan kamu. Sudah aku katakan, jangan pernah menyentuh Zeya." teriak Azril.


"Ada apa ini, Azril?"


"Tanyakan pada suami mami tercinta itu."


"Katakan papi, ada apa ini?"


Papi tampak menarik nafasnya. Ia tak tau harus berkata apa.


"Ini masalah aku dan Azril," ucap papi.


"Masalah kamu dan Azril, aku juga berhak tau. Kamu suamiku dan Azril anakku. Sebenarnya apa yang menjadi persoalan kalian ini. Kenapa tak pernah akur. Mami sudah katakan pada mu Azril, jika mami sudah ikhlas dan merelakan papi kamu menikah lagi. Jadi jangan bahas itu lagi."


"Ini bukan hanya masalah papi menikah lagi Tak ini tepatnya tentang sikap dan kelakuan buruk suami mami itu."


"Apa yang papi kamu lakukan."


"Mami tau siapa yang papi nikahi itu? Siapa wanita simpanannya?"


"Mami pernah melihatnya," cicit mami.


"Gundiknya papi itu adalah mantan kekasihku. Tepatnya aku putus setelah aku tau ia bermain dibelakangku bersama papi."


"Maksud kamu, wanita itu kekasihmu ....?"


"Ya, aku pernah mengenalkan Shinta pada papi saat aku ke kantornya. Tak pernah aku duga, hari itu adalah hari dimana aku akan kehilangan kekasihku. Sejak perkenalan itu mereka berdua ternyata ada main. Aku curiga saat wanita itu tak mau aku kenalkan pada mami."


Mami tampak kaget dan langsung lemas. Ia menarik kursi dan duduk.


"Kenapa kamu baru mengatakan sekarang," cicit mami.

__ADS_1


"Itu semua tak benar. Shinta yang mengejarku. Aku juga pria normal. Jika setiap hari ia terus merayu dan menggodaku, aku mana bisa tahan," ucap papi.


"Itu karena papi yang emang tak setia. Jika papi setia dan mencintai mami, Apapun dan bagaimanapun cara wanita itu merayu, tak akan tergoda," teriak Azril.


"Sudah, sudah ... sekarang mami baru mengerti kenapa kamu selalu saja marah pada papi."


Mami menarik rambutnya. Tampak sekali jika ia sangat kaget setelah mendengar kenyataannya.


"Apa kah tidak ada wanita lain sehingga kamu tega mengkhianati aku dan Azril sekaligus," gumam Mami.


"Maafkan aku. Aku memang salah karena berhubungan dengan kekasaih anakku."


"Lalu apa yang membuat kamu sampai memukul papi. Apakah masih karena Shinta."


"Bukan ...."


"Lalu ...."


"Karena dia menghina dan melecehkan Zeya."


"Jangan mengada-ngada, Azril. Aku tak melecehkan dan menghina istrimu itu. Tapi emang wanita itu telah hina dari awalnya," ujar papi.


"Apa yang papi katakan? Jangan pernah menghina Zeya jika papi tak ingin aku melakukan sesuatu yang lebih." Azril yang masih emosi, mengangkat tangannya dan akan melayangkan bogem mentah kembali. Tapi mami menahannya.


"Ada apa ini, katakan sejujurnya," teriak mami sambil memeluk Azril, menahannya agar tak maju mendekati papinya.


"Zeya itu bukan wanita baik," gumam Papi.


"Maksud papi, apa?"


"Katakan saja apa yang ingin papi katakan." teriak Azril." Jika Zeya bukan wanita baik, apa sebutan untuk pria yang sering jajan di luar."


"Apa lagi ini," ucap Mami. Ia memandangi wajah Azril dan suaminya bergantian meminta jawaban dan penjelasan.


"Aku saja tak mengerti ucapan Azril."

__ADS_1


"Katakan saja apa yang ingin papi sampaikan, aku tak akan takut. Aku mencintai Zeya. Tak akan ada yang bisa menggoyahkannya. Baik itu papi atau mami. Aku tau siapa yang pantas mendampingi aku dan yang berhak menjadi ibu untuk anak-anakku."


Zeya yang mendengar teriakan Azril dan maminya keluar dari kamar. Ia mendekati Azril dan kedua orang tuanya.


"Mas, biar aku aja yang mengatakan pada mami," ucap Zeya.


"Apa sebenarnya yang sedang kalian sembunyikan dari mami."


"Mami, aku ingin bicara dengan mami. Kita duduk dulu ya."


"Sudahlah sayang, lain kali kita katakan. Aku obati dulu punggung kamu."


"Kenapa punggung, Zeya," ujar mami cemas.


"Terkena pukulan suami mami."


"Mas, aku nggak apa-apa. Sebaiknya kita jujur pada mami tentang masa laluku. Mami aku dan mas Azril ingin bicara. Di ruang keluarga aja."


"Papi pamit ...." ucap papi.


"Kenapa ... seharusnya kamu ada. Karena aku juga ingin mami tau bagaimana kelakuan papi di luar sana."


"Terserah kamu mau bicara apa. Yang jelas kamu itu pria yang bodoh yang mau menerima bekas pakai orang banyak." Reno bergumam.


Mendengar ucapan papinya, Azril kembali mengangkat tangannya. Zeya cepat menahannya.


"Udah mas. Biarkan aja papi kamu mengatakan apa aja. Itu memang kenyataannya," cicit Zeya.


"Aku menyesal memiliki seorang ayah seperti kamu. Kenapa aku ditakdirkan lahir dari darahmu?" teriak Azril.


Zeya memeluk lengan suaminya itu dan mengusapnya untuk meredakan amarah Azril.


Bersambung


******************

__ADS_1


Bagaimana nanti ya reaksi mami mendengar cerita masa lalu Zeya. Apakah mami bisa menerimanya? Tunggu ya kelanjutan novel ini di bab berikutnya.


__ADS_2