Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 69. Zeya istriku yang cengeng.


__ADS_3

Sampai di rumah, Zeya mengajak Azril masuk ke kamar. Beruntung mami dan anak-anak telah tidur.


"Ngapain, Sayang. Pengin ya," ucap Azril karena tangannya di tarik Zeya masuk ke kamar.


"Aku mau penjelasan dari Mas,"


"Penjelasan apa?" ucap Azril berpura-pura tak mengerti.


"Mas jangan pura-pura lagi. Pasti ngerti maksud aku." Azril duduk di sofa. Zeya mengikutinya.


"Mas, kenapa berbohong selama ini?" ucap Zeya lagi.


"Sayang, aku tak pernah berbohong."


"Mas blokir nomor mas Albirru."


"Iya, emang salah."


"Mas, kenapa mas harus memblokirnya. Pasti selama ini mas Albirru dan orang tuanya mengira aku sengaja menutup akses buat mereka bertemu Raja dan Ratu."


"Aku emang sengaja melakukannya untuk itu," jawab Azril santai.


"Mas, aku udah janji sama mereka untuk tidak melarang bertemu."


"Yang berjanji hanya kamu. Aku tak pernah menjanjikan apa-apa. Aku juga melakukan semua itu hanya untuk melindungi kamu dan anak-anak. Aku tak suka sejak mereka meminta hak asuh salah satu anakku. Kamu mau marah atau apapun yang akan kamu lakukan padaku, akan kuterima.Raja dan Ratu, itu anakku. Walau bukan berasal dari darah dagingku, tapi aku menyayangi mereka melebihi diriku sendiri. Aku tak akan biarkan siapapun mengambil mereka. Mau dibilang egois, aku tak peduli. Karena aku sadar aku memang egois kalau menyangkut orang-orang yang aku cintai."


Azril tampak sedikit emosi mengatakan semua itu. Zeya tampak kaget melihat reaksi Azril. Tak pernah Zeya melihat Azril emosi sejak mereka berkenalan.


"Maafkan aku, mas. Aku mengerti maksud mas baik. Aku juga tau jika mas sangat menyayangj mereka." Zeya berkata pelan karena menahan tangisnya.

__ADS_1


Azril memandangi istrinya yang menunduk karena menahan air matanya agar tak jatuh. Ia membawa Zeya ke dalam pelukannya.


"Maafkan mas karena terbawa emosi." Azril mengecup pucuk kepala wanita yang sangat ia cintai itu.


"Aku takut ...." cicit Zeya.


"Maaf ...." ulang Azril.


Tangis Zeya akhirnya pecah di dada Azril. Tubuhnya bergetar menahan isak tangis.


"Mas marah," ucap Zeya terbata.


"Aku nggak marah denganmu, Zeya. Aku memang selalu terbawa emosi jika menyangkut Raja dan Ratu. Dari dalam kandunganmu, aku telah mencintai mereka. Aku tau apa yang kulakukan ini salah. Albirru ayah kandung mereka. Ia juga punya hak atas mereka. Tapi aku tak suka dengan sikap orang tuanya yang ingin meminta hak asuh salah satu dari mereka. Aku akan melindungi dan mempertahankan mereka dengan cara apapun."


Azril mengusap air mata istrinya yang terus mengalir membasahi pipinya. Ia mengecup mata Zeya.


"Jangan menangis lagi. Aku sudah janji tidak akan membuat air matamu jatuh. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menghubungi Albirru untuk meminta maaf?" Zeya menggeleng sebagai jawabannya.


"Jangan menangis, Zeya. Jika aku salah melakukan semua itu, kamu bisa memukulku. Tapi jangan menangis. Aku tak tau harus berbuat apa jika kamu terus menangis."


"Aku minta maaf. Aku tadi hanya bertanya. Aku hanya kaget mendengar Zahra mengatakan jika mas memblokir nomor mas Albirru. Aku tau pasti semua yang mas lakukan demi kebaikanku dan anak-anak."


"Kalau gitu kamu hapus air mata dan jangan menangis lagi."


"Aku boleh tanya, mas?"


"Silakan ...."


"Apakah selama dua tahun ini mas Albirru memang tak pernah datang."

__ADS_1


"Ada dua kali. Tapi aku tak mengizinkan bertemu. Kami sempat adu mulut. Aku katakan padanya jika ia tak ada hak sedikitpun pada Raja dan Ratu karena kamu dan Albirru hanya nikah siri. Dan aku berjanji tak akan menyembunyikan kebenaran tentang dirinya pada Raja dan Ratu. Tapi saat ini hingga usia anak-anak cukup, aku memang tak mengizinkan ia bertemu. Aku tak mau Raja dan Ratu jadi ragu karena memiliki dua orang ayah. Jadi ini aku lakukan untuk menjaga perkembangan psikis Raja dan Ratu, hingga ia mengerti."


"Aku terserah mas aja," ucap Zeya akhirnya.


"Jadi perempuan itu tak boleh cengeng. Baru ngomong sedikit keras gitu aja udah nangis. Kamu itu harus kuat, biar bisa lindungi anak-anak. Jika ibunya lemah, bagaimana anaknya bisa kuat."


"Aku takut mas marah dan meninggalkan aku," cicit Zeya.


"Bodoh banget jika kamu berpikir begitu. Aku tak mungkin meninggalkan kamu. Kamu dan anak-anak segalanya bagiku."


"Gombal ...." ucap Zeya memeluk Azril. Tangannya masuk ke dalam baju Azril dan bermain di dada suaminya itu, membentuk tulisan abstrak. Azril menangkap tangan Zeya dan menghentikan gerakannya.


"Jangan memancingku, Zeya. Kamu membangunkan jerry."


"Aku emang pengin," ucap Zeya pelan.


"Apaaa ...." ucap Azril kaget.


"Nggak jadi. Aku mau tidur aja." Zeya bangun dari duduknya. Belum sempat ia berjalan, tubuhnya ditarik Azril dan jatuh ke pangkuan pria itu.


"Kamu tak bisa lari setelah membangunkan jerry." Azril mengangkat tubuh Zeya dan meletakkan di tempat tidur.


Ia dengan segera melecuti seluruh pakaian Zeya dan dirinya. Selanjutnya .... (bayangkan sendiri ya adegan selanjutnya. Mama mau ke kamar juga ....🤣🤣🤣)


Bersambung


********************


Terima kasih buat semua pembaca setia novel ini. Mama sangat berterima kasih atas semua dukungannya. Love you more ❤❤❤❤

__ADS_1


Selamat Tahun Baru untuk semuanya. Semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya.


__ADS_2