Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 111. Umi yang telah siuman


__ADS_3

Akbirru tampak gelisah sepanjang perjalanan. Ia takut berhadapan dengan Umi. Ia belum siap jika Umi bertanya tentang Abi dan Thalita.


Sampai dihalaman rumah sakit Albirru langsung turun dari mobil. Ia berjalan di lorong rumah sakit dengan perasaan tak menentu.


Umi telah dipindahkan ke ruang rawat inap. Albirru berjalan perlahan dan membuka pintunya.


Tampak Umi sedang memandangi langit kamar rumah sakit itu. Albirru mendekati ranjang Umi dan langsung menciumi tangan wanita yang paling ia hormati itu.


"Alhamdulilah Umi telah sadar. Maafkan aku, Umi." Tangis Albirru langsung pecah. Ia memeluk tubuh Uminya.


"Sudah Umi maafkan. Lain kali kamu harus lebih berhati-hati. Jika capek dan mengantuk jangan memaksakan diri."


"Baik, Umi. Maafkan aku."


"Nggak apa-apa. Bagaimana keadaan Thalita dan Abah. Dimana mereka? Apakah masih di rawat juga? Kandungannya Thalita bagaimana?" Umi bertanya dengan beruntun.


"Alhamdulilah bayi Thalita selamat, sekarang masih ada diruang NICU. Tapi keadaannya makin hari sudah makin membaik."


"Syukurlah, ibu kuatir terjadi sesuatu dengan Thalita dan kandungannya. Abi bagaimana."


"Umi, maafkan aku. Aku harap Umi bisa tabah san sabar menerima semuanya. Aku tau semua ini salahku. Tidak seharusnya aku mengemudi dalam keadaan capek dan mengantuk."


"Apa sebenarnya yang terjadi. Katakan saja sejujurnya. Jangan kamu sembunyikan lagi."


"Thalita dan Abi telah pergi meninggalkan kita untuk selamanya," ucap Albirru terbata.


"Apa yang kamu katakan? Apakah Umi tidak salah mendengarnya? ucap Umi pelan.


"Benar Umi. Thalita dan Abi telah mendahului kita menghadap Tuhan."


Umi memegang dadanya. Tampak nafasnya memburu. Dan sebelum tak sadarkan diri kembali, Umi sempat mengatakan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un"


Albirru kaget, ia segera memanggil dokter. Setelah setengah jam pingsan, Umi kali sadar.


Tampak air mata mengalir dari sudut matanya. Umi melihat ke samping. Albirru tertidur di tepi ranjang dengan tangannya yang menggenggam tangan Umi.


Umi mengusap kepala Albirru, membuat pria itu terbangun.


"Umi, Umi telah sadar." Umi hanya menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


"Apa yang Umi rasakan? Apa ada yang sakit? Aku panggil dokter dulu."


Saat Albirru ingin pergi, Umi menahannya dengan memegang pergelangan tangan Albirru.


"Umi mau ziarah ke kuburan Thalita dan Abi."


"Nanti setelah Umi sembuh aku bawa ziarah. Thalita dikuburkan di pemakaman dekat rumah orang tuanya di Duri. Abi dekat rumahku," gumam Albirru


"Apa Thalita dan Abi meninggal ditempat kejadian."


"Bukan,Umi.Thalita meninggal saat melahirkan dan Abi meninggal kemarin."


"Udah berapa lama Umi tak sadarkan diri."


"Udah empat hari ...."


"Apa yang akan Umi lakukan tanpa Abi? Selama ini Umi selalu berdua melakukan apapun. Apa Umi bisa tanpa Abimu?"


"Umi akan tinggal bersamaku."


"Kenapa Abi pergi mendahului Umi? Kenapa Abi tak membawa Umi sekalian?" ucap Umi terisak.


Albirru menjeda ucapannya. Ia menarik nafasnya mencoba mengusir sesak di dada.


"Aku merasa bersalah yang teramat besar. Gara-gara aku dua orang terdekat yang aku sayangi harus meninggal karena kelalaian diriku. Jika saja bunuh diri itu tidak dosa, mungkin aku akan menyusul mereka. Dari pada aku hidup penuh dengan penyesalan. Tapi aku masih ada sedikit iman, aku sadar mungkin semua yang terjadi padaku adalah bentuk teguran dari Allah karena aku pernah melakukan kesalahan."


Umi mengusap tangan Albirru dan kembali air mata tumpah dari mata Umi.


"Maafkan Umi. Bukannya Umi menolak takdir, tapi memang berat rasanya menerima semua kenyataan ini."


Albirru memeluk tangan Umi dan tangisnya pecah.


"Maafkan aku, Umi. Umi bisa menghukumku. Umi boleh memarahi aku dan memukulku, karena semua memang atas kelalaianku."


Albirru dan Umi menangis terisak berdua. Sekitar lima belas menit mereka menumpahkan tangisnya.


Albirru menghapus air matanya saat mendengar pintu kamar tempat Umi nya menjalankan pengobatan di ketok.


"Masuklah ...." sahut Albirru

__ADS_1


Orang itu membuka pintu. Ternyata yang datang Zahra, Zeya, Azril dan si kembar.


Albirru berusaha tersenyum walau hatinya masih sedih.


Zeya dan si kembar berjalan mendekati tempat tidur Umi. Zeya memegang tangan Umi. Tangis Umi kembali pecah. Zeya yang melihat Umi menangis ikutan menangis.


"Umi yang sabar dan ikhlas. Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan umat-Nya. Umi dan Mas Albirru pastilah orang terpilih, sehingga Allah menguji dengan cobaan ini."


"Maafkan, Umi," ucap Umi terbata.


"Umi tak ada salah. Kenapa harus meminta maaf."


"Apakah ini balasan atas apa yang pernah Albirru dan Umi lakukan padamu. Mungkin Ini dan Albirru terlalu melukai perasaanmu. Sehingga Allah membahas dengan semua cobaan ini."


"Bukan Umi. Aku rasa ini bukan balasan atas perbuatan Umi. Aku juga telah memaafkan mas Albirru. Semua yang terjadi adalah atas kehendak-Nya. Mungkin ini jalan dari Allah sehingga aku bisa bertemu dengan suamiku saat ini. Percayalah Umi, aku tak ada dendam atau marah pada Mas Albirru apa lagi Umi."


Zeya mengusap tangan Umi untuk meyakinkan wanita mantan ibu mertuanya itu dan memeluknya.



..............


Dua hari setelah tahlilan Zeya dan Azril kembali ke Jakarta. Ia kembali menjalani hari seperti biasanya.


Walau tampak berat, Umi bisa menerima kenyataan jika suami dan menantunya telah tiada. Saat ini Umi lebih banyak diam. Ia tinggal bersama Albirru dan Zahra.


Bersambung


*****************


Terima kasih untuk semua pembaca yang masih setia menunggu novel ini.


Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel terbaru mama LOVE IS RAIN.


❤❤❤❤❤💜💜💜💜💜💜



Mampir juga ke novel teman mama. Ceritanya tak kalah menarik. 😘😘😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2