Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 36. Pesan dari Zeya


__ADS_3

Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik." - Ali bin Abi Thalib


Zahra duduk disamping Albirru yang berhadapan dengan ke dua mertuanya. Albirru tampak sedikit syok mendengar perkataan Abi dan Uminya.


"Maaf, Umi. Kapan Umi bertemu mbak Zeya." Zahra tak bisa lagi menyembunyikan rasa ingin taunya.


"Seminggu yang lalu."


"Dimana Umi bertemu, kenapa tak Umi minta Zeya pulang." Albirru bertanya setelah hilang rasa kagetnya.


"Jika Zeya emang berniat pulang, dari kemarin-kemarin pasti ia tidak akan bersembunyi. Zeya bukan anak kecil lagi yang segala sesuatunya harus kita yang minta."


"Bagaimana keadaan Zeya, Umi." Albirru tampak mulai antusias.


"Sehat, dan yang Umi lihat Zeya makin terlihat cerah dan bahagia."


"Katakan dimana Umi bertemu. Aku akan mencarinya, semoga bisa bertemu. Seharusnya Umi membujuk Zeya agar mau pulang."


"Albirru, seorang wanita yang pergi dari rumah biarkan saja. Sampai saatnya nanti ia telah sadar dan ingin kembali," ucap Abi.


"Sabda Rasulullah Shallahu alaihi wasalam: "Siapa saja perempuan yang keluar rumahnya tanpa ijin suaminya dia akan dilaknat oleh Allah sampai dia kembali kepada suaminya atau suaminya redha terhadapnya." ( HR. Al Khatib ). Kamu pasti dapat memahami hadist ini."


"Aku akan memaafkan Zeya, Abi. Aku redha," gumam Albirru.


Zahra yang duduk di samping Albirru menggenggam tangan pria itu.


"Dan apa hubungannya kedatangan Umi dan Abi."


"Zeya mengirim pesan buat Umi, karena lusa akan ke sini."

__ADS_1


"Kenapa Zeya hanya mengirim pesan pada Umi, tidak denganku," lirih Albirru lagi.


"Mungkin belum, atau ia memang tak mengirim pesan padamu karena merasa sudah cukup pesan buat Umi aja. Dan Umi yang akan menyampaikan padamu."


Albirru menunduk, entah apa yang ada dipikirannya. Begitu juga Abi, Umi dan Zahra.


Setelah sekian lama terdiam, Zahra mengawali bicara.


"Sebaiknya kita makan malam dulu Abi, Umi. Nanti kita bicara lagi. Mas, mungkin sebentar lagi atau besok mbak Zeya pasti mengirimi mas pesan. Mbak Zeya sengaja mengirim pesan pada Umi lebih awal agar Umi dan Abi bisa ke sini lebih awal."


"Semoga memang begitu, Zahra."


"Mari kita makan dulu. Abi, Umi ... mari kita makan."


Abi dan Umi berdiri diikuti Albirru. Mereka makan tanpa suara. Mungkin masih memikirkan tentang Zeya.


Sebesar apakah kecewamu pada mas, Zeya. Sehingga selama ini kamu bersembunyi dan menghindar dari mas. Mas akan berusaha memperbaiki semua kesalahan mas. Pulanglah, Zeya. Mas sangat merindukan kamu.


"Mas .... " Zahra berucap sambil memukul lengan suaminya yang sedang termenung. Albirru kaget dan langsung tersadar dari lamunannya.


"Mas masih memikirkan kenapa mbak Zeya tidak mengirim pesan pada mas tapi pada Umi."


"Zeya... aku tau pastilah kamu begitu marah dan kecewa. Sehingga kamu pergi selama ini tanpa ada kabar berita, padahal ia berada tak jauh dari kota ini."


"Jika mbak Zeya tidak kecewa pastilah ia tak akan pergi dari rumah. Seharusnya mas senbg mendengar kabar jika Abi dan Umi telah bertemu Zeya dan ingin bicara dengan kita berempat. Semoga ini awal yang baik. Dan mbak Zeya akan kembali."


"Semoga yang kamu katakan itu benar adanya."


"Sekarang mas mandilah. Dan temani Abi serta Umi mengobrol."

__ADS_1


"Ya, Zeya. Mas mandi dulu."


Pastilah mas Albirru begitu merindukan mbak Zeya, karena ia sering salah menyebut namaku dan memanggilku Zeya.


Zahra tampak kaget karena Albirru yang salah menyebut namanya. Akhir-akhir ini Albirru sering salah memanggil dirinya. Tepatnya semenjak ia di rawat.


.................


Pagi hari ditempat yang berbeda tampak Zeya yang sedang memandikan kedua bayinya. Hari ini ia akan pergi ke kota tempat Albirru tinggal.


Kota dimana ia pernah menjalani kehidupan menjadi wanita malam dan juga kota kenangan saat ia pertama bertemu dengan pria pertama yang membuatnya jatuh cinta.


Zeya telah menyiapkan semua kebutuhan buat Raja dan Ratu selama tiga hati nanti di kota. Ia juga telah menitipkan toko rotinya pada Mira.


Zeya memutuskan untuk pergi bersama Azril dan kedua bayi kembarnya saja.


Zeya menanti kedatangan Azril di toko sambil melayani konsumen.


Ku harap kamu terus mengingat jika titik tertinggi dari kekecewaan adalah tidak peduli lagi sama sekali. Setiap orang butuh untuk dihargai perjuangannya. Pilihannya adalah ia menjadi senang karena telah dihargai atau menjadi luka batin karena tidak pernah merasa dihargai.


Bersambung.


*********************


Terima kasih telah membaca novel ini. Bagaimana kisah di bab ini. Pasti makin tak sabar menanti saat Zeya dan Albirru bertemu.


Sementara menunggu novel ini update siang nanti, bisa mampir di novel teman mama yang satu ini


__ADS_1


__ADS_2