Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 70. Zeya yang makin manja.


__ADS_3

Sinar matahari yang masuk melalui celah jendela membangunkan Azril. Setelah solat subuh tadi ia dan Zeya kembali tidur.


Dilihatnya wajah Zeya yang tertidur dengan lelapnya sambil memeluk lengannya. Sudah satu minggu ini Zeya memang selalu tidur dengan memeluknya. Istrinya itu bertambah manja.


Azril senang melihat istrinya yang manja, karena Zeya selalu saja ingin dipeluk dan dikecup pipinya.


Azril mengecup pipi Zeya dan bibirnya untuk membangunkan. Zeya membuka matanya, tapi bukannya bangun ia malah makin mempererat pelukannya. Ia membenamkan kepala ke dada bidang suaminya itu.


Zeya mengendus dada Azril. Ia sangat senang mencium bau badannya. Azril yang tidur selalu bertelanjang dada menjadi geli.


"Sayang, kamu ngapain."


"Masih ngantuk," ucap Zeya dan menutup matanya lagi.


"Sayang, jangan begini! Aku geli," bisik Azril. Tapi Zeya tak pedulikan ucapan suaminya, ia terus saja mengendus dan sesekali mengecup dada Azril.


"Sayang, aku serius loh. Jangan begini. Kamu membangunkan sesuatu yang tidur."


"Mas ...." ucap Zeya pelan. Azril mendengarnya seperti Zeya sedang mendes*h.


Tanpa pikir panjang lagi Azril menaiki tubuh istrinya. Mengecup dari mata hingga bibir. Azril ******* bibir mungil istrinya itu. Zeya membalas permainan lidah suaminya. Sehingga ciuman itu menjadi panas.


Azril bangun dan melecuti seluruh pakaian Zeya dan juga dirinya sendiri. Akhirnya pagi itu berakhir dengan pergulatan panas mereka.


Setelah mandi Azril dan Zeya keluar kamar bergabung dengan mami untuk sarapan pagi.


"Selamat pagi, Mi," ucap Zeya dan mengecup dahi mertuanya itu. Zeya emang sangat menyayangi mami.


"Lama banget sih bangunnya. Kenapa? Kamu kurang sehat?" tanya mami begitu Zeya dan Azril duduk.


"Nggak kok ,mi. Aku ketiduran aja." Setelah mengucapkan itu Zeya memandangi suaminya. Ia merasa bersalah karena telah membohongi mertuanya itu.


"Raja dan Ratu di mana, Mi," ucap Azril.


"Bermain di taman dengan pengasuh mereka."


"Apakah udah sarapan."


"Sudah, tadi mami suapin."


"Maaf,Mi. Aku jadi merepotkan," gumam Zeya semakin merasa bersalah.


"Raja dan Ratu itu cucu mami. Kenapa mami harus merasa direpotkan. Jangan ngomong gitu. Mami tak suka."

__ADS_1


"Iya, Mi. Terima kasih."


Mereka bertiga menyantap hidangan yang telah disediakan bibi. Zeya hanya makan sedikit saja. Ia tak menghabiskan makanannya.


"Kenapa nggak habis, Zeya. Kamu tidak sakit, kan?"


"Nggak kok, mi. Cuma sudah hampir satu minggu ini aku kurang ada selera makan."


"Itu artinya kamu sakit, Sayang. Kenapa nggak ngomong. Nanti kita periksa ke dokter."


"Tapi Mas, aku tidak merasakan apa-apa kecuali sedikit pusing dan mual. Hanya butuh istirahat aja."


"Jangan ke toko. Kamu harus di rumah aja. Biar karyawan lain yang mengelola."


"Tapi aku tetap harus ke toko. Hanya untuk memantau saja, Mas."


"Biar aja, mami. Kamu memang sebaiknya ke dokter. Kamu telah datang bulan ini."


"Kenapa mami tanyakan itu?"


"Mami hanya ingin tau."


"Seharusnya emang seminggu yang lalu aku telah datang bulan. Mami ... jangan bilang Mami berpikir aku ini hamil?"


"Kamu hamil, Sayang. Tak sia-sia usahaku pagi ini. Kamu langsung hamil," ucap Azril girang.


Zeya mencubit lengan suaminya itu. Ia melihat mami yang memandangi mereka silih berganti. Zeya tau mami pasti curiga mendengar ucapan Azril.


"Sakit, Sayang. Kenapa aku di cubit."


"Mas itu kalau ngomong hati-hati. Mami judi curiga," bisik Zeya.


"Kenapa kalau mami tau kita usaha pagi-pagi. Semua ini juga demi mami. Kita akan memberikan cucu selusin buat mami."


"Kamu pikir Zeya mesin pencetak anak."


"Biar bisa buat satu team sepak bola, Mi."


"Mas, ngomong apa sih?"


"Habis ini, kita hubungi dokter kenalan tante Febby. Janjian buat ketemu. Semoga kamu hamil kembar lagi. Biar rumah ini rame," gumam Azril.


"Azril benar, Zeya. Sebaiknya biar mami yang ke toko. Kamu istirahat aja dulu di rumah. Nanti setelah pasti tentang kehamilan kamu, biar mami yang mengawasi jalannya toko. Kamu istirahat aja di rumah hingga kandungan kamu memasuki bulan ke tiga."

__ADS_1


"Aku setuju. Mulai hari ini Mami yang akan mengawasi toko roti Zeya. Tapi apa Mami bisa.," ucap Azril.


"Bukankah karyawan kamu Zeya telah mahir membuat roti. Mami hanya tinggal mengawasi saja."


"Betul begitu, Sayang."


"Iya, Mas."


"Jika kamu benar hamil, biar mami yang menjalankan toko hingga kamu melahirkan."


"Mas, kasihan mami jika harus bolak balik ke toko."


"Mami masih sanggup kok. Kamu jangan sepelekan mami," ujar Mami.


"Bukan sepelekan, Mami."


"Udah, perdebatan ditutup. Mami yang akan mengurus toko selama kamu hamil. Kamu di rumah aja."


"Jika aku bosan," lirih Zeya.


"Kamu boleh sesekali ke toko. Tapi bersamaku. Dan sesekali bermain ke kantor aku saja."


"Terserah mas saja."


"Kamu tuh emang istri penurut," ucap Azril mengacak rambut Zeya yang ditutupi jilbabnya.


Setelah sarapan Azril menghubungi dokter kenalan tante Febby. Ia janji ketemu dua jam lagi. Azril meminta Zeya buat bersiap-siap.


Sementara itu Zahra yang juga sedang berobat dengan dokter kandungan juga bersiap-siap menuju ke rumah sakit.


Bersambung


*********************


Selamat pagi pencinta novel NODA MERAH PERNIKAHAN. Selamat Tahun Baru. Semoga Tahun ini akan lebih baik dari tahun sebelumnya. Aamiin. ❤❤❤❤❤❤


Terima kasih buat semua dukungan yang telah diberikan selama ini.



Mama mau kenalkan novel teman mama nih. Sambil menunggu novel ini update, bisa mampir kesini.


__ADS_1


__ADS_2