Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 41. Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Raja dan Ratu telah semakin besar. Wajahnya Raja tampak makin mirip dengan ayahnya Albirru. Apa lagi jika ia sedang tersenyum.


Usia Raja dan Ratu saat ini telah memasuki bulan ke.enam. Para pelanggan toko roti bunda Zeya banyak yang mengenalnya. Mereka akan selalu gemas jika melihat kedua bayi kembar itu.



Pagi ini Azril mengajak Zeya bertemu maminya. Ia sudah sangat merindukan Raja dan Ratu.


Azril yang datang menjemput langsung menuju sikembar, kedua anak yang sangat ia sayangi.


Raja dan Ratu langsung tertawa melihat Azril. Mereka berdua emang sangat dekat dengannya.


"Selamat pagi Raja dan Ratunya daddy." Azril memeluk dan mencium kedua bocah itu.


"Selamat pagi daddy." Zeya membalas ucapan Azril seolah kedua bayi itu yang berucap.


"Kita langsung berangkat."


"Boleh, mas. Aku ambil pakaian Raja dan Ratu dulu," ujar Zeya. Ia berjalan masuk ke kamar dan mengambil tas yang berisi semua perlengkapan bayinya.


Sejak kehadiran Raja dan Ratu, Azril lebih sering menggunakan supir. Ia tidak tega melihat Zeya yang harus mengurus kedua bocah itu sendirian jika ia yang menyetir.


Tiga jam perjalanan mereka sampai dikediaman mami Azril. Mami yang langsung membukakan pintu.


"Sayang Oma. Sudah kangen banget Oma denganmu." Oma mengambil Ratu dari gendongannya Azril.


"Biar Raja aku yang gendong. Kamu pasti capek."


"Mas juga capek menggendong Ratu dari tadi."


"Aku nggak capek. Sini Rajanya. Kamu duduk aja. Ada yang ingin mami omongkan."


Zeya memberikan Raja ke tangan Azril dan ia menyusul mami ke ruang keluarga.


"Mi, kata mas Azril ada yang ingin mami omongkan."

__ADS_1


"Ya, Zeya. Mami meminta Azril membawa kamu ke sini selain kangen Raja dan Ratu juga untuk mengatakan sesuatu."


"Apa, mi?"


"Mami ingin kamu dan Azril menikah minggu depan. Semua surat-surat yang dibutuhkan buat pernikahan kalian sudah di urus pengacara kami."


"Jadi mas Azril meminjam KTP aku kemarin buat mengurus surat nikah."


"Mami yang minta. Apa kamu keberatan."


"Nggak mami. Aku dan mas Azril memang harus menikah secepatnya untuk menghindari fitnah. Dan memang tak baik laki-laki dan wanita selalu pergi bersama."


"Berarti kamu telah setuju menikah minggu depan."


Azril yang berdiri di belakang maminya tampak tersenyum semringah mendengar jawaban Zeya. Ia takut Zeya marah dan tersinggung karena mendaftarkan pernikahan tanpa izin. Itu sebemadnya ide mami. Azril juga baru mengetahui.


"Duduklah, Azril.Ada yang ingin mami bicarakan."


"Ya, mi."


"Apakah pesta pernikahan akan langsung dilaksanakan hari itu juga. Atau menunda dulu."


"Satu hari juga bisa. Semua bisa dikerjakan asal ada cuan."


"Terserah mami saja. Mana yang terbaik buat mami."


"Menurut kamu gimana, Zeya?"


"Aku juga terserah mami."


"Yang mau nikah kamu apa mami. Kok terserah aja."


"Mami, aku nggak tau tentang pesta. Aku ini hanyalah orang kampung dan berasal dari keluarga tak mampu. Pesta aja jarang aku datangi. Karena aku merasa tak pantas."


"Kamu jangan bicara begitu. Mami tak suka orang-orang yang selalu saja membedakan status sosial. Bagi kami sama saja. Membedakan seseorang itu adalah sikapnya. Percuma kaya jika tak bermoral dan beradap. Lebih baik miskin harta tapi kaya hati."


"Mami, aku senang banget bisa mengenal mami dan mas Azril. Dulu di sekolah aku selalu dikucilkan karena aku hanyalah anak yatim piatu yang untuk makan saja harus kerja serabutan. Walau aku tinggal bersama saudara sepupu ayah, tapi ia hanya memberikan aku tempat berteduh dan makan sekali sehari. Jika aku masih lapar, aku harus berusaha sendiri mencari uang buat beli makanan."

__ADS_1


"Jangan diingat masa-masa itu lagi."


"Mami, boleh aku tau kenapa mami bisa merestui hubunganku dan Mas Azril. Padahal wanita mana saja pasti mau menjadi istri mas Azril. Apakah mami nantinya tidak akan menyesal."


"Dari awal mami melahirkan Azril, mami udah janji tidak akan pernah melarang hubungannya dengan siapapun nanti. Karena mami menyaksikan sendiri kakak kandung mami yang harus mengakhiri hidupnya karena orang tua yang melarang hubungannya."


"Maksud mami, saudara kandung mami dulu ada yang bunuh diri."


"Ya, karena dilarang menikah dengan seorang anak petani. Teman kuliahnya. Dan sejak kakak kandung mami meninggal, keluarga mami jadi posesif. Mami tak diizinkan berpacaran sama siapa saja. Mami dan papi Azril itu dijodohkan. Dan mami bisa merasakan bagaimana berumah tangga karena jodoh bukan cinta. Itu jugalah yang menjadi alasan mami tak pernah menentang hubungan Azril dengan siapapun itu."


"Zeya, aku mencintaimu.Dan tak ada alasan mami menentang hubungan kita."


"Mami hanya ingin melihat Azril bahagia."


"Jadi aku harus ngapain,mi. Untuk persiapan pesta itu."


"Besok kita ke butik buat beli pakaian pesta. Kamu nggak keberatan jika pesta diadakan dirumah ini aja, Zeya."


"Nggak apa, mi. Boleh aku meminta, mi."


"Apa ... "


"Aku ingin pestanya sederhana saja. Hanya mengundang orang terdekat saja."


"Baiklah, tak masalah. Jadi mulai besok kita akan pergi ke butik buat pesan pakaian. Dan juga kita akan mencari WO yang tepat."


"Aku ikut saja, mi."


Mami langsung menghubungi temannya yang memiliki sebuah butik. Dan ia juga minta rekomendasi WO yang terbaik. Pernikahan akan dilaksanakan minggu depan sesuai kesepakatan.


Bersambung


*******************


Selamat pagi semuanya. Pasti nggak sabaran menunggu Azril dan Zeya menikah.


Sementara mempersiapkan pakaian buat kondangan Azril dan Zeya, kalian bisa mampir ke novel teman mama ini.

__ADS_1



__ADS_2