Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 58. Wanita dari masa lalu Azril


__ADS_3

Shinta menanyakan tentang Raja dan Ratu yang bermain bersama Azril.


"Tentu aja ia anak-anakku. Dan itu istriku," ucap Azril menunjuk ke arah Zeya yang sedang berjalan menuju mereka.


"Sayang, udah selesai diobati lukanya."


"Udah, mas."


"Kenalkan ini Shinta. Ibu tiriku."


Zeya memandangi wajah cantik Shinta. Ia mengulurkan tangannya.


"Zeya ...." ucap Zeya.


Shinta menyambut uluran tangan Zeya dan memandangi Zeya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Ini istrimu ...."


"Ya, maaf aku pamit. Ayo, sayang," ujar Azril. Ia menggendong Raja dan Ratu.


"Biar aku yang menggendong Raja, mas."


"Biar aku aja, sayang.Punggungmu sakit." Azril meminta Zeya memeluk pinggangnya saja.


"Azril ... maafkan aku," ujar Shinta begitu mereka sampai dihalaman klinik. Rupanya Shinta mengikuti.


Azril meminta Zeya tetap berjalan. Ia mengabaikan ucapan Shinta. Tapi wanita itu tak mau tinggal diam. Ia mengikuti Azril.


Ketika Azril akan masuk setelah mendudukkan anaknya, tangannya ditahan Shinta.


"Azril, aku mau bicara. Jangan menghindar terus. Aku akan menjelaskan semuanya."

__ADS_1


"Apa yang harus kamu jelaskan. Aku telah tau semuanya." Azril berdiri dihadapan Shinta. Zeya masuk ke mobil. Ia takut Azril dan Shinta tak nyaman mengobrol jika ada dirinya.


"Aku mau kamu tau jika aku terpaksa memilih papi dari pada kamu."


"Aku sudah tau, semua karena uang, kan."


"Azril, aku terpaksa."


"Alasan ... kamu pikir aku akan percaya."


"Aku memang salah, karena dengan mudah tergoda dan terayu papi," cicit Shinta.


"Aku tak peduli, alasan apapun itu yang membuat kamu tergoda dengan papi. Aku telah melupakan semuanya. Bagiku kamu hanyalah masa lalu yang harus aku lupakan. Dan aku harap kamu juga begitu. Jangan pernah temui aku lagi. Atau datang ke kantor. Aku sudah memiliki istri dan anak-anak yang sangat aku cintai."


"Itu bukan anak-anakmu. Kamu dan wanita itu baru menikah sebulan."


"Siapa yang mengatakan jika itu bukan anakku. Kami telah lama menikah siri. Dan baru dirayakan karena menunggu anak-anakku besar. Aku hanya minta kamu menjaga papi, jangan sampai ia juga meninggalkan kamu seperti mami. Aku tak akan membencimu ,jika pria yang kamu nikahi itu bukan papi. Aku marah dan membencimu karena kehadiranmu telah merampas kebahagiaan mami." Azril masuk ke mobil dan meminta supir segera menjalankan mobil.


Shinta menahan pintu mobil saat Azril ingin menutupnya.


Azril membuka pintu," Aku sudah tak peduli apapun yang akan kamu lakukan. Karena itu tak akan merubah semua yang telah terjadi. Jika kamu datang dan mencariku selama ini hanya untuk minta maaf. Aku memaafkanmu. Jadi jangan pernah ganggu aku lagi. Aku tak mau istriku salah paham nantinya. Dihadapan istriku, aku katakan padamu. Aku tak ada perasaan apa-apa lagi padamu. Jangan pernah kamu mengatakan pada teman-teman jika aku masih mencintai. Aku selama ini tak mau menemui kamu bukan karena aku masih mencintai atau aku belum bisa move on, tapi karena aku memang telah melupakan semua masa lalu. Aku hanya ingin berjalan ke depan bersama anak dan istriku. Prioritas utamaku saat ini anak dan istriku. Siapapun itu yang menyakiti istri dan anakku, ia harus berhadapan denganku. Hanya satu pintaku, jaga papi baik-baik. Ingatkan padanya, jika usianya bukan muda lagi. Seharusnya ia taubat."


Azril melepaskan tangan Shinta yang memegang gagang pintu mobil dan ia meminta supir segera melajukan mobil.


"Azril maafkan aku, aku menyesal menyakitimu. Aku masih mencintaimu," teriak Shinta.


Azril menarik nafasnya dan memandangi wajah Zeya yang ada di samping.


"Kenapa kamu hanya diam."


"Aku hanya ingin mas dapat menyelesaikan masalah dengan Shinta itu."

__ADS_1


"Semua telah selesai saat ia memilih papi untuk jadi selingkuhannya." Azril lalu diam. era juga diam. Ia menidurkan Ratu dan setelah itu Raja.


Setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam mereka sampai di rumah. Raja dan Ratu ditidurkan di kamar bersama pengasuhnya.


Zeya membuka hijab dan bajunya. Azril melihat punggung istrinya yang memar. Ia berdiri dan mengusapnya.


"Jangan pernah lakukan itu lagi. Aku bisa melindungi diriku sendiri," ucap Azril dan mengecup tengkuk istrinya.


"Aku takut papi menyakiti kamu. Aku tak mau kamu terluka. Kamu ...." ucap Zeya terputus karena tangisnya yang telah pecah.


Azril memeluk istrinya itu dan membawanya duduk.


"Kenapa denganku?"


"Jika terjadi sesuatu denganmu, siapa lagi yang akan melindungi aku dan anak-anak," ucap Zeya terbata di sela tangisnya.


"Bodoh ... aku tak akan mati jika hanya di pukul dengan teflon." Azril mengecup pipi dan bibir istrinya.


"Duduk di sini. Biar aku yang ambilkan bajumu."


Setelah mengambil baju dan membantu Zeya berpakaian, Azril meminta Zeya berbaring. Ia juga ikut merebahkan tubuhnya.


"Sayang, kita pindah aja ke kota lain. Aku ada buka usaha di kota Jakarta. Kita tinggalkan Sumatera ini."


"Aku terserah mas aja. Aku pasti mengikut kemana aja mas bawa."


"Baiklah, aku akan mengurus semuanya. Bulan depan kita pindah."


Azril memeluk pinggang istrinya, membawa kepala Zeya agar terbenam di dada bidangnya itu.


Bersambung

__ADS_1


********************


Terima kasih


__ADS_2