Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 75. Perdebatan Azril dan Albirru.


__ADS_3

"Apa kamu tidak pernah menyadari kesalahan kamu Albirru. Apa harus aku jelaskan semua yang pernah kamu lakukan, yang membuat Zeya memutuskan pergi dari sisimu." Azril berkata sambil menahan emosi. Ia tak ingin Raja dan Ratu melihatnya marah.


Selama ini Azril tak pernah berkata kasar atau bersuara besar dalam bicara. Itu semua ia lakukan agar Raja dan Ratu juga akan bertutur kata lembut saat besar nantinya.


"Bagaimana jika Zeya melakukan itu padamu. Menyimpan kebenaran kehamilannya padamu. Apakah kamu bisa menerimanya?" Albirru balik bertanya.


"Jika Zeya melakukan itu karena kesalahanku, kenapa aku tak bisa menerimanya?"


"Itu ucapanmu saat ini. Tapi jika kamu dihadap kan langsung dengan kenyataan, belum tentu bisa menerimanya. Mereka darah dagingku. Jika tidak ada aku, tak akan ada Raja dan Ratu di dunia ini."


"Daddy, kenapa aku?" ucap Ratu saat namanya disebut.


Albirru terdiam mendengar suara gadis cilik itu. Pandangannya langsung tertuju pada Raja dan Ratu yang ada dibelakang Azril.


"Bunda ...." Raja berlari memeluk Zeya.


"Kamu sudah pulang, Sayang." Zeya mengecup pipi Raja.


"Asti, bawa Raja dan Ratu masuk. Tolong kamu temani mereka makan!" Azril meminta salah satu karyawannya untuk membawa Raja dan Ratu masuk.


Asti lalu mengajak Raja dan Ratu masuk. Ratu menolaknya dengan memeluk kaki Azril dengan erat. Terpaksa Azril berjangkok dihadapan Ratu.


"Sayang, kamu masuk dulu sama tante Asti. Daddy mau bicara dulu."


"Om itu bilang Ratu."


"Mungkin Ratu salah dengar."


Albirru tak bisa menahan lagi, ia mendekat dan memeluk Ratu. Gadis cilik itu langsung berteriak saat dipeluk.

__ADS_1


"Daddy ... aku takut."


"Jangan takut ...."ucap Azril.


"Ratu, ayah kangen."


"Aku tak mau dipeluk." ucap Ratu akhirnya menangis. Azril menggendong Ratu dan gadis cilik itu memeluk erat leher daddy nya.


"Maaf Albirru, Ratu takut. Aku harap kamu mengerti."


"Ini kan yang kamu harapkan. Anak-anakku lebih dekat denganmu dari pada aku. Kamu menyembunyikan mereka dariku karena tak ingin anak-anakku lebih dekat denganku dari kamu."


"Jangan hanya bisa menyalahkan orang Albirru. Apakah kamu selama ini telah menjadi suami yang baik bagi Zeya. Jika memang kamu yang terbaik tak mungkin Zeya meninggalkan kamu."


"Yah! Saya tahu, saya bukan suami yang baik untuk Zeya, saya bukan imam yang baik, kamu yang terbaik untuknya, tapi apakah pantas saya sematkan kamu sebagai imam terbaik untuk Zeya, sedang kamu sendiri menyembunyikan fakta bahwa Raja dan Ratu itu adalah anak saya? Dimana kuadrat kamu sebagai pria yang berstatus sebagai suami?" teriak Albirru. "Setiap suami pasti ingin memiliki anak, apapun kondisinya itu pasti keinginan setiap suami, saya memang sudah bukan imam Zeya, tapi apakah saya salah jika hanya ingin tau bahwa anak yang sedang bersama kalian adalah anak saya." Albirru menarik nafasnya.



"M-Maaf." ujar Azril lirih.


"Maaf? Harusnya kamu katakan itu bukan disaat seperti ini, saya tidak akan merebut anak itu dari kalian, tapi tolong, jangan sembunyikan fakta bahwa kami memiliki hubungan darah." Albirru memberi jeda. "Aku paham, kamu bisa menjadi ayah pengganti yang baik, Terima kasih! Tapi menyembunyikan sebuah kebenaran bukanlah sesuatu yang patut untuk dibanggakan, pria yang baik adalah pria yang memegang kejujurannya, saya bercermin pada kesalahan saya bukan masa depan saya, memang Zeya sudah bukan masa depan saya, tapi anak itu adalah hasil dari masa lalu untuk kedepannya."


Raja dan Ratu yang mendengar suara keras dari Albirru. Toko kue telah Zeya minta ditutup dengan karyawannya. Ia tak mau pelanggan melihat pertengkaran ini.


"Mas Azril, Mas Albirru sudahlah. Raja dan Ratu ketakutan. Asti bawalah anak-anak ke dalam. segera. Raja, Ratu, bunda mau kalian di dalam dulu. Nanti bunda dan daddy menyusul."


Raja dan Ratu akhirnya mau dibawa Asti masuk ke dalam kamar yang ada di toko roti itu. Zahra hanya diam melihat semua itu. Zeya mendekati Azril.


"Mas duduklah dulu." Zeya meminta Azril untuk duduk. Albirru pun kembali duduk.

__ADS_1


"Mas Al, aku tau semua yang suamiku lakukan salah. Tapi aku sebagai istrinya mengerti maksud dan tujuan dari apa yang ia lakukan. Semua ini juga demi kebaikan Raja dan Ratu."


"Untuk kebaikan apa, Zeya?"


Azril akan menjawab, Zeya langsung menggenggam tangan suaminya. Ia tak mau suaminya itu terbawa emosi kembali.


"Mereka masih sangat polos untuk mengerti tentang perpisahan dari kedua orang tuanya. Pasti Raja dan Ratu akan bertanya-tanya kenapa ia memiliki dua orang pria dewasa yang harus dipanggil ayah. Jadi Azril hanya menyembunyikan kebenaran ini untuk sementara hingga mental dan kejiwaan mereka siap."


"Apapun tujuan kamu dan Azril, aku tak bisa terima. Karena itu membuat Raja dan Ratu jadi tak mengenaliku. Lihat aja tadi, mereka ketakutan seolah aku ini orang asing yang akan menyakiti mereka. Padahal akulah ayah kandungnya bukan pria ini," ucap Albirru dengan menunjuk Azril. Melihat itu Azril akhirnya terbawa emosi.


Azril berdiri dan mendekati Albirru. Ia menarik kerah baju Albirru.


"Jadi mau kamu apa. Dalam hukum kamu itu tidak memiliki hak apa-apa atas diri Raja dan Ratu," teriak Azril.


"Mas sudah ... jangan bertengkar. Aduh ...." Rintih Zeya kemudian. Azril mendengar itu langsung melepaskan pegangan tangannya di kerah baju Albirru. Ia mendekati Zeya.


"Kenapa, Sayang?"


"Perutku terasa keram," gumamnya.


"Kita masuk dulu. Tunggu, kita belum selesai bicara." Azril menggendong Zeya dan membawanya masuk ke dalam kamar, meninggalkan Albirru dan Zahra.


Bersambung


***********************


Bagaimana bab kali ini. Ikutan tegang melihat pertengkaran Azril dan Albirru. Nantikan terus kelanjutan kisahnya mereka. Terima kasih.


Sambil menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama.

__ADS_1



__ADS_2