
Albirru membuka pintu rumahnya dan mengucapkan salam. Tak ada sahutan membuat Albirru langsung menuju dapur. Ia mendengar suara berisik dari arah sana.
Zahra yang sedang asyik membuat kue, kaget melihat Albirru yang telah berdiri di dekat meja makan.
"Selamat sore, Mas."
"Kamu lagi buat apa, Zahra?"
"Bolu pisang."
"Pasti enak, jadi lapar mas."
"Mas, mau. Tunggu bentar lagi matangnya."
"Maafkan, Mas."
"Mas mau makan aja dulu. Tadi aku masak sayur asam, goreng ikan gurami dan sambal terasi." Zahra sengaja mengalihkan ucapan Albirru yang meminta maaf.
"Aku memang sangat lapar." Albirru membuka tudung saji. Zahra mengambilkan nasi buat Albirru.
"Kamu udah nggak marah lagi?"
"Mas mau lauk apa." Zahra masih saja mengabaikan ucapan Albirru.
"Zahra, aku sedang bicara masalah kemarin. Jangan pura-pura tak mendengarnya. Ini membuktikan jika kamu sangat marah."
"Mas, aku tak mau membahas yang kemarin. Lupakan saja."
Setelah mengambilkan nasi dan lauk buat Albirru, ia kembali ke kompor melihat kue buatannya.
Albirru akhirnya menyantap makanan yang ad dihadapannya. Ia tampak sangat lahap. Zahra dan Zeya memang selalu bisa memasak sesuai dengan selera Albirru.
Sehabis Albirru makan Zahra membersihkan meja. Dan mencuci semua piring kotor.
Albirru masuk kamar dan segera mandi. Selesai Albirru mandi, Zahra gantian mandi. Mereka melaksanakan solat magrib berjamaah.
Saat Zahra melepaskan mukenanya, Albirru memeluk tubuhnya dari belakang.
__ADS_1
"Maafkan, Mas. Malam itu pikiran mas memang lagi kacau. Teringat terus Raja dan Ratu. Kita usahakan malam ini aja, ya. Siapa tau langsung jadi." Albirru berbisik di telinga Zahra.
"Usaha apa, Mas?" Zahra bertanya seolah tak mengerti.
"Buat anak, dong. Agar kamu segera hamil."
"Maaf, Mas. Aku tak bisa."
"Kenapa tak bisa? Kamu tidak sedang datang bulan."
"Tapi aku sedang nggak enak badan. Aku sedang malas melakukannya. Percuma jika dilakukan dengan terpaksa."
Albirru melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Zahra agar menghadap dirinya.
"Kamu mau membalas, mas."
"Membalas, apa?"
"Kamu masih marah karena mas menolak melakukannya saat kamu menginginkan kemarin. Sehingga kamu membalasnya dengan menolak, mas."
"Mas terlalu berpikir jauh. Aku sudah katakan jika sudah melupakan semuanya. Aku saat ini benar-benar lelah. Aku ingin istirahat. Jika mas ingin kembali ke rumah Thalita, silakan!"
"Aku tidak mengusir, Mas. Aku cuma mengingatkan. Jika saat ini Thalita lebih membutuhkan mas."
"Zahra, katakan sejujurnya apa maumu? Kita sudah membahas ini saat di Jakarta kemarin. Jika kamu merasa mas melakukan kesalahan jujur saja. Jangan dipendam. Mas tak mau apa yang pernah Zeya lakukan, kamu ulangi lagi. Jika kamu emang merasa mas ini telah tak adil, baiklah ... mas akan menceraikan Thalita setelah anak kami lahir. Bukankah dari awal sudah mas katakan, jika poligami itu tak mudah. Mas tak akan bisa adil. Karena sejatinya manusia itu tempatnya salah dan khilaf."
"Mas, tak ada yang aku pendam. Dan juga dari awal aku yang meminta kamu buat poligami. Kenapa aku harus marah saat ini? Aku benar-benar lelah. Aku tak ada niat membalas apa yang telah mas lakukan kemarin."
"Tak ada gunanya kita berdebat. Masing-masing hanya ingin menang sendiri. Mungkin memang sebaiknya mas kembali ke rumah Thalita. Agar kita dapat merenungi apa yang telah terjadi. Besok sore abi dan umi datang. Mas harap sikapmu telah kembali seperti biasanya."
Albirru mengganti pakaiannya dan pamit pergi. Ia mengecup dahi Zahra sebelum meninggalkan wanita itu seorang diri.
Saat mendengar mesin mobil yang menjauh, Zahra tak bisa lagi menahan tangisnya.
Aku harus kuat. Bukankah ini semua keinginan dariku. Aku tak mau orang tuaku tau jika keputusan yang aku ambil ini memang salah. Dari awal mereka sudah mengingatkan aku. Jika tak mudah untuk berbagi cinta. Apa lagi cinta suami. Karena sejatinya manusia itu tak pernah adil.
Zahra mengambil air wudhu dan Al-quran, ia membacanya dengan air mata yang terus jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
Aku harus kuat, akan aku buktikan pada semua orang jika aku tak salah dalam mengambil keputusan.
.............
Pagi harinya di rumah tempat tinggal Azril tampak kesibukan. Zeya mempersiapkan semua kebutuhan Raja dan Ratu selama mereka berada di Pekanbaru nantinya.
"Kamu yakin akan ikut bersama mami," ucap mami lirih.
"Bukankah mami yang menginginkan aku ikut?"
"Tapi mami tak ingin kamu melakukan semua ini hanya karena terpaksa."
"Sudahlah, Mi. Terpaksa ataupun tidak, seharusnya mami senang aku mau menemani Mami."
"Kamu tak akan ribut,kan?"
"Mami kira aku ini apa? Mana mungkin aku mengundang keributan di rumah sakit. Aku masih waras, mami."
"Baiklah, mami bersyukur banget kamu mau ikut."
"Semua karena, Zeya."
"Mami tak tau harus mengucapkan apa pada Zeya. Sejak kehadiran dirinya di hidup kamu, mami memang banyak melihat perubahan positif didirimu."
"Tetaplah menyayangi istri dan anak-anakku, jangan pernah berubah. Hanya itu yang aku mau Mami lakukan. Aku bantu Zeya siapkan pakaian Raja dan Ratu dulu."
Azril meninggalkan mami di ruang keluarga itu sendirian. Ia masuk ke kamar anaknya.
Bersambung.
**********************
Nantikan terus ya kelanjutan novel ini. Bagaimanakah reaksi papi ketika bertemu Azril dan Zeya? Apakah Azril akan bertemu Shinta?.
❤❤💜💜
Sementara novel ini update kalian bisa mampir ke novel mama yang lainnya.
__ADS_1