
Azril yang tadi panik telah selesai memakai semua pakaiannya dan berlari memanggil Maminya yang berada diteras, Mami Azril yang ikut panik menghampiri Zeya yang sedang meringis menahan tangis.
"Kamu mau melahirkan?" tanya Mami Azril khawatir. "Tapi ketubannya, belum pecah,"
Mami Azril tampak panik, kemudian dia menghubungi Dokter Zubaidah bahwa dia akan datang kerumah sakit, karena Zeya akan segera melahirkan.
Sementara itu Azril segera menyiapkan mobilnya, setelahnya Azril menggendong tubuh Zeya ke mobil, disusul oleh Mami yang segera menyuruh putranya itu ke rumah sakit.
"Mas, sakit," keluh Zeya sedikit mengeluarkan air matanya karena dia merasakan sakit di daerah jalur lahirnya.
Azril sendiri sedikit bingung, bukankah tadi subuh mereka sempat melakukan adegan kuda-kudaan yang menggairahkan, kenapa sekarang tiba-tiba Zeya mengalami kontraksi.
"Sabar, sayang," jawab Azril mempercepat laju kendaraannya.
"Cepat Azril!" teriak Mami mulai khawatir.
Bagaimana tidak, Zeya mengalami kontraksi namun air ketuban tak kunjung pecah yang bisa saja menahan jalur bayinya untuk keluar.
Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit, Azril memarkirkan mobilnya asal, dan kembali menggendong Zeya dengan keadaan panik masuk ke rumah sakit.
"Dokter! Suster! Istri saya mau melahirkan!" teriak Azril yang membuat semua orang disana gempar menatap ke arahnya.
Bayangkan saja, ditengah suasana yang damai di pagi hari, tiba-tiba ada seorang pria berstatus suami yang menggendong istrinya dan berteriak kencang memanggil dokter dan suster disana.
Untungnya Dokter Zubaidah yang ada disana segera mengetahui keberadaan Azril dan Mami, sehingga membuat Azril dan Mami menghampirinya.
"Dokter! Istri saya mau melahirkan!"
Dokter Zubaidah mengangguk, kemudian memerintahkan beberapa suster membawa brankar [Ranjang Rumah Sakit] dan segera menaikkan Zeya disana, setelahnya Azril dan Mami menyusul para suster dan Dokter Zubaidah yang membawa Zeya ke salah satu ruangan.
Azril hendak masuk ke ruangan itu sebelum tangannya ditahan oleh Mami yang membuat Azril menatap Maminya.
"Mau kemana kamu?" tanya Mami Azril yang membuat Azril menghembuskan napas pelan.
__ADS_1
"Mau nemenin istriku," jawab Azril pada Mami.
Mami menggelengkan kepalanya dan menggenggam erat tangan anaknya itu. "Itu urusan Dokter dan Suster, lagipula kalau kamu ada didalam sana, nanti kamu heboh sendiri.
_"Padahal aku ingin melihat proses kelahiran Putraku," batin Azril pasrah._
Setelahnya Azril memilih duduk di kursi tunggu yang ada dikoridor itu bersama dengan Mami, tangannya bergetar, menanti kondisi Zeya, ia tidak hentinya memanjatkan doa, agar kali ini Zeya diberi kelancaran pada Proses melahirkan putra mereka.
Hampir cukup lama menunggu, Azril benar-benar gusar dan memilih berjalan mondar-mandir menanti kepastian akan keadaan istri dan anaknya.
Mami yang melihat Azril hanya menggeleng maklum, pasalnya ini adalah anak pertama yang merupakan darah daging Azril sendiri, namun walaupun begitu Azril tidak akan pilih kasih, dan masih tetap menyayangi Raja dan Ratu seperti adanya.
Tak lama kemudian, Dokter Zubaidah keluar dari ruangan bersalin dan menemui Azril serta Mami dengan wajah serius.
"Istri saya gimana?" tanya Azril.
"Hemm, begini pak, Bu Zeya mengalami penyumbatan yang menghalangi jalan lahirnya, dikarenakan ketubannya belum juga pecah, padahal ini sudah pembukaan terakhir, kalau begitu saya akan segera pecahkan saja air ketubannya?" ucap Dokter Zulaidah.
"Aku tahu!" ujar Azril pada Mami yang membuat Mami menatap ke arah Azril. "Aku pernah membaca kalau melakukan hubungan intim, bisa mempercepat pecahnya air ketuban, apa kita lakukan itu saja?"
"Kamu dapat info darimana?"
"Google dulu," jawab Azril dengan wajah tanpa dosa yang membuat Mami mengeplak kepala putranya itu.
"Ah, sakit," keluh Azril memegangi kepalanya.
"Cara itu memang bisa, tapi enak di kamu, gak enak di Zeya, Mami gak setuju, kita pilih jalur operasi aja, ini demi keselamatan Menantu dan Cucuku," jelas Mami.
Dokter Zubaidah mengangguk, baru saja dia ingin menyiapkan ruang operasi, tiba-tiba seorang suster berteriak kencang bahwa, Air ketuban Zeya sudah pecah, sontak semua yang ada disana mengucap Alhamdulillah.
Azril sendiri sudah tidak peduli lagi, dia berlari memegang tangan istrinya dan berusaha menguatkannya. "Ayo sayang! Kamu bisa!"
Zeya menatap Azril dan dengan kesakitan yang luar biasa, Zeya terus mengejan, berusaha mendorong keluar bayinya, Dokter Zubaidah segera membantu Zeya.
__ADS_1
Sementara itu Azril dan Mami menguatkan Zeya dari segi moril agar dia bisa semakin semangat, dan atas izin Allah, suara bayi itu terdengar menggema seisi ruangan, bayi laki-laki yang membuat Zeya bernapas lega karena telah berhasil melahirkannya secara normal.
Dokter Zubaidah segera menaruh bayi itu di dada Zeya untuk mendapatkan asi pertama, Azril yang melihat itu hanya tersenyum dan menangis haru atas kelahiran anaknya.
_"Aku akan berbagi susu, dengan anakku sekarang, selamat tinggal kuda-kudaan." batin Azril mengusap puncak kepala Zeya yang terbalut hijab._
Setelahnya Dokter Zubaidah kembali mengambil bayi Zeya untuk dibersihkan dan setelahnya langsung di azankan oleh Azril.
Kalimat Allah itu terdengar menggema dari bibir Azril dengan penuh haru dan terasa semua itu hanyalah mimpi, bahwa kini dia menggendong darah dagingnya sendiri, setelahnya Azril menyerahkan bayinya untuk digendong kepada Mami.
Azril kemudian mencium puncak kepala Zeya yang membuat Zeya mencolek hidungnya pelan. "Jangan nangis, lihat tuh anak kita, semua mirip ke Mas, aku yang ngandung, aku yang ngidam, aku yang ngelahirin, tapi mukanya mirip Mas Azril semua."
Azril terkekeh pelan. "Kan Mas yang buat,"
Zeya hanya memalingkan wajahnya, kemudian Azril kembali menggoda bayinya yang ada di pelukan Mami, Zeya yang melihat itu hanya tersenyum lagi, hati kecilnya terasa telah melepaskan semua rasa lelahnya.
"Terimakasih ya Allah, untuk semua skenariomu, memang tak seindah yang aku ekspestasikan tapi ini jauh lebih baik dari yang aku inginkan, Aku Alifa Zeya seorang gadis penghibur yang bertemu dengan seorang Pria bernama Albirru, dinikahi dan dipoligami, aku mendapatkan sepasang anak kembar yang membuat hidupku sedikit berarti, bahwa keterpurukan tidak hanya berpatokan pada seberapa buruk kegagalan pernikahanku dulu, siapa sangka aku akan bertemu dengan sosok Azril, sosok yang pertama kali merebut kehormatanku dan menjadi suamiku, inilah kisahku, dan kisahku belum berakhir, tapi cukup sampai sini yang kalian harus tahu," monolog Zeya.
"Dan Dear, Haikal Azril Ansa! Jodohku yang terukir di lauhul mahfudznya, skenario kita memang indah, tapi skenario Allah jauh lebih indah yang kita rencanakan."
- END
Terima kasih untuk semua pembaca setia Noda Merah Pernikahan, atas dukungannya selama ini.
Untuk saat ini Noda Merah Pernikahan hanya sampai di sini. Nanti akan ada bonchap, jadi tetap favoritkan novel ini.
Masih banyak kisah lagi yang akan mama ceritakan di bonchap.
Lope Lope sekebon buat semuanya 😘😘😘😘❤❤❤❤💜💜💜💜😍😍😍😍. Mohon maaf jika banyak terdapat salah kata. 🙏🙏🙏🙏. Berikan dukungan juga buat novel terbaru mama LOVE IS RAIN.
__ADS_1