Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 94. Kepergian Papi.


__ADS_3

"Maaf, bu. Bapak telah pergi," ucap dokter dengan mami. Mami tampak syok dan langsung lemas mendengar ucapan dokter. Azril cepat menangkap tubuh mami sebelum terjatuh.


"inna lillahi wa inna ilaihi raji'un," gumam Mami.


Azril membantu mami duduk di kursi yang ada dekat tempat tidur Papi. Dokter meminta Perawat untuk melepaskan semua peralatan yang tersambung di tubuh Papi.


Setelah semua terlepas Azril dibantu Zeya menutupi tubuh Papi.


"Sayang, temani mami dulu. Aku akan mengurus administrasi untuk kepulangan jenazah Papi.


"Iya, Mas. Pergilah!" ucap Zeya.


Azril keluar buat mengurus administrasi. Pintu ruang rawat terbuka menampakkan Shinta yang masuk dengan wajah angkuhnya.


Shinta kaget melihat tubuh Reno yang telah ditutupi kain dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Ia melihat wajah Zeya dan Mami secara bergantian. Minta penjelasan.


"Apa yang terjadi? Kenapa seluruh tubuh om Reno ditutupi kain?" ucapnya dengan suara agak tinggi yang ditujukan pada Zeya.


"Kamu yang sabar dan tabah, Shinta. Om Reno telah meninggalkan kita untuk selamanya," ucap Zeya.


"Kalian sedang bercanda, nggak lucu."


"Apa kamu tak bisa melihat dan membuktikan sendiri," ucap Mami.


Shinta berjalan dengan lambat mendekati tempat tidur Reno, dan membuka kain penutup tubuh suaminya. Tampak tubuh Reno yang mulai kaku.


Ia kembali menutup tubuh Reno dengan kain dan memilih duduk termenung di sofa. Semua yang ada di ruangan itu terdiam, tak ada yang mengeluarkan suara.


Setengah jam berlalu, pintu kamar rawat inap itu dibuka. Azril berjalan masuk. Shinta yang melihat Azril langsung berdiri dan memeluknya.


"Azril, om Reno ... om Reno telah pergi. Kenapa ia meninggalkan aku seorang diri. Aku sama siapa."


Azril melepaskan pelukan Shinta dan berjalan mendekati Zeya yang terus memandangi mereka.


"Azril, aku nanti tinggal sama siapa," ucap Shinta menangis.


"Kamu masih ada keluarga. Bisa kembali ke mereka," ucap Azril.


"Mami, jenazah papi mau di bawa ke rumah. Semuanya udah aku urus. Mami ikut aku atau pakai ambulan dengan jenazah papi."


"Mami dengan ambulan aja."


Sementara perawat mengurus kepulangan jenazah Papi. Azril telah meminta orang suruhannya untuk membereskan rumah mami.

__ADS_1


Mami memilih naik ke mobil ambulance bersama jenazah papi. Azril menjemput Raja dan Ratu. Tante Febby akan menyusul setelah semua pasien ditangani.


Azril masuk ke mobil diikuti Zeya. Raja dan Ratu duduk di belakang bersama pengasuhnya. Saat akan menutup pintu, tangannya ditahan seseorang.


"Azril aku ikut denganmu." Ternyata Shinta yang menahan tangannya.


"Bukankah kamu ada mobil sendiri."


"Mana bisa aku menyetir dalam keadaan begini, Azril."


"Kamu bisa naik taksi."


"Apa kamu tega membiarkan aku naik taksi sendirian di saat perasaan aku sedih begini."


"Maaf, mobilku tak muat lagi."


"Aku bisa memangku anaknya istrimu itu."


"Mereka anakku juga, jangan pernah mengatakan jika mereka anak istriku aja." Azril tampak mulai terbawa emosi.


"Tapi memang ia anak istrimu, bukan anakmu," ujar Shinta.


Azril tampak mulai terbawa emosi. Ia akan keluar dari mobil, tapi cepat ditahan Zeya dengan memeluknya.


Zeya mendorong tangan Shinta yang menahan pintu dan cepat menutupnya.


"Jalan aja, Mas."


Azril menjalankan mobilnya, mengabaikan Shinta yang berteriak memanggil namanya.


"Azril, kamu tak bisa meninggalkan aku sendiri disini." Shinta berteriak sambil mengejar mobil Azril yang mulai meninggalkan halaman rumah sakit.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Azril terus memandangi wajah Zeya.


"Kenapa memandang aku seperti itu mas."


"Aku senang melihat kamu mendorong Shinta."


"Kenapa senang," tanya Zeya dengan heran.


"Itu menunjukkan kamu cemburu, dan cemburu itu tandanya cinta. Aku senang jika sikapmu begitu dengan wanita yang berusaha mendekati aku."


"Aku tak akan pernah membiarkan ada orang ketiga dalam rumah tanggaku, karena aku sudah merasakan sakitnya bagaimana cinta itu terbagi. Aku belajar dari pengalaman."


"Aku tak akan membagi cintaku, Sayang."

__ADS_1


"Bukan waktunya gombal, Mas."


"Sayang, kamu benar telah memaafkan papi dan melupakan semau salahnya."


"Tentu saja, kenapa Mas tanyakan itu?"


"Mas takut aja masih ada dendam dihatimu atas sikap papi selama ini."


"Tuhan aja Maha Pengampun, kenapa kita sebagai makhluknya tak bisa saling maafkan. Aku juga seorang pendosa. Apa alasan aku menghakimi dosa seseorang?"


"Aku memang beruntung memiliki kamu."


"Apakah Mas juga telah memaafkan dan melupakan semua salah Papi."


"Jujur, awal datang kemarin aku belum sepenuhnya memaafkan. Tapi setelah aku merenung beberapa hari ini , seperti katamu, tak ada gunanya aku masih dendam karena tak akan bisa mengembalikan keadaan. Akhirnya aku memaafkan semua kesalahan papi. Mungkin ini jalannya hingga aku bisa bertemu kamu."


"Semoga dosa Papi diampuni," gumam Zeya.


Raja dan Ratu tampak terlelap di kursi belakang.


Sampai di rumah, para pelayat sudah mulai berdatangan. Azril menggendong anaknya menuju kamar tamu. Ia meminta pengasuh untuk tetap menjaga anak-anaknya.


Azril yang langsung membantu para tetangga dan orang yang bertugas untuk memandikan jenazah papinya.


Mami duduk menemani para tetangga dan keluarga yang datang untuk mengucapkan belasungkawa. Di kompleks perumahan belum ada yang tau jika Papi telah menikah lagi.


Sementara itu Shinta yang ditinggalkan sendiri dihalaman rumah sakit, segera masuk mobilnya menuju sebuah butik. Ia membeli pakaian muslim untuk dipakai ke rumah duka.


Aku juga bisa berpakaian sopan seperti istrimu Azril. Aku tak ingin orang memandang sebelah mata. Aku juga istri om Reno. Orang harus tau itu.


Bersambung


*******************


Ternyata Shinta tak tau malu banget ya. Untung Zeya sudah mulai bisa bersikap dan bertindak.


Apa lagi yang akan Shinta lakukan nanti saat datang ke rumah kediaman Mami. Nantikan terus kelanjutan novel ini.


Terima kasih. 💜💜💜💜💜❤❤❤❤


Mama mau kenalkan nih novel teman mama, jangan lupa mampir ya.



__ADS_1


__ADS_2