Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 81. Kembali ke kota Pekanbaru


__ADS_3

Pagi harinya jam setelah menghabiskan sarapan, mereka cek out dari hotel tempat menginap.


Albirru dan Zahra langsung menuju bandara Soekarno Hatta. Sepanjang perjalanan Zahra lebih banyak diam. Ia tampaknya masih kesal dengan Albirru.


Sampai di bandara, rupanya pesawat mereka sudah akan terbang. Albirru dan Zahra langsung menuju pesawat.


Dalam pesawat Zahra sengaja membaca Al-quran agar Albirru tak mengajaknya mengobrol.


Albirru yang menyadari perubahan sikap Zahra memandangi istrinya itu dengan seksama.


"Kamu masih marah," ucap Albirru.


"Marah karena apa?" gumam Zahra.


"Siapa tau kamu masih marah karena masalah kemarin."


"Masalah apa? Aku tak ingat."


"Zahra, jangan kekanakan. Aku bukan tak mau. Lagi pula kita tak mesti melakukan tadi malam. Masih banyak waktu untuk kita melakukannya."


"Maaf, Mas. Aku mau lanjutkan membaca Al-quran."


Tanpa menunggu jawaban dari Albirru Zahra kembali membacanya. Sembilan puluh menit di udara, Zahra menghabiskan waktunya dengan membaca Al-quran.


Tiba di bandara Sultan Syarif Qasim, Zahra masih saja diam. Albirru memesan dua taksi. Satu buat dirinya dan satu untuk Zahra.


"Zahra, mas akan langsung menjemput Thalita di rumah mamanya. Kamu bisa pulang sendiri, kan?"


"Jangan kuatir, Mas. Ini kota kelahiranku. Tak akan aku tersesat. Di Jakarta aja aku bisa sendiri, kenapa di kota ini aku tak berani."


"Zahra, mas tau kamu dari kemarin marah. Mas harap pengertian darimu. Ini bukan Zahra yang mas kenal. Zahra yang mas kenal tak pernah marah dan selalu bisa menerima."


"Pergilah, Mas. Taksi udah menunggu. Aku juga harus pulang." Zahra menyalami Albirru dan mencium tangannya. Tanpa memandang lagi ia melangkah masuk ke taksi.


Baru saja beberapa saat taksi melaju, tangis Zahra pecah. Ia meremas dadanya yang terasa sesak.


"Jangan jadikan seseorang sebagai prioritas utamamu sementara kamu hanya jadi pilihannya saja. Aku memberikan ketulusan hati dan pengorbanan dengan sepenuhnya, namun yang kurasakan hanyalah goresan luka yang membuatku enggan merasakan cinta lagi. Begitu kamu menyadari bahwa kamu layak mendapatkan yang lebih baik, maka melepaskan akan menjadi keputusan terbaik yang pernah ada."


Supir taksi melihat dari spion karena mendengar suara isakan dari Zahra.


"Maaf, Bu. Apa ada yang sakit."


"Nggak ada, Pak. Aku hanya ingat sesuatu yang membuat aku sedih."

__ADS_1


Supir itu kembali melajukan taksinya. Sampai dirumahnya, setelah membayar ongkos Zahra langsung masuk kamar. Kembali tangisnya pecah.


.........................



Dikediamannya tampak Zeya sedang mengaji. Ia baru saja selesai mengerjakan solat magrib.


"Sayang, makan dulu. Mengajinya nanti dilanjutkan." Azril memeluk tubuh Zeya dan mengecup pipinya.


"Iya, Mas. Raja dan Ratu udah menunggu di meja makan, ya?"


"Iya, Sayang."


Zeya lalu membuka mukena dan meletakkan kembali Al-quran ke lemari. Ia berjalan keluar menuju meja makan dengan memeluk lengan Azril.


Azril dan Zeya duduk dihadapan kedua putra putrinya yang berdampingan dengan omanya.


Setelah makan, Azril mengajak Raja dan Ratu ke kamar. Ia membantu anaknya mengerjakan tugas sekolah.


Azril setiap hari yang mengajarkan anaknya belajar. Zeya di minta istirahat di kamar.


Raja dan Ratu emang lebih senang belajar bersama daddy nya.


"Selamat tidur Raja dan Ratuku. Semoga mimpi indah." Azril mengecup pipi kedua anaknya secara bergantian. Saat ini Raja dan Ratu masih berada dalam satu kamar hanya beda tempat tidur. Ratu berdua pengasuhnya. Sedangkan Raja tidur sendiri.


"Daddy cinta kalian." Azril menyelimuti Raja dan Ratu bergantian.


"Aku juga cinta, Daddy," ucap Ratu.


"Aku juga sangat mencintaimu, Daddy," ucap Raja tak mau kalah dari Ratu.


"Daddy bangga memiliki kalian. Daddy pamit. Pejamkan mata dan baca doa."


Azril meninggalkan kamar setelah pengasuh Raja dan Ratu masuk. Ia ke dapur dan membuatkan segelas susu buat ibu hamil.


Azril membawa susu ke kamar. Tampak Zeya sedang berbaring di sofa depan televisi.


Azril berlutut depan perut Zeya dan mengusapnya. Ia lalu mengecup perut yang masih rata itu.


"Sayang, Daddy harap kamu dan bunda sehat-sehat hingga waktunya kamu hadir ke dunia ini."


Zeya mengulurkan tangannya, dan mengusap rambut Azril yang sedang mengecup perutnya.

__ADS_1


"Dulu aku selalu menghayal dapat melakukan ini saat kamu hamil Raja dan Ratu. Akhirnya aku bisa juga melakukannya."


"Jadi Mas dulu saat kita bersama selalu mikirnya yang bukan-bukan."


"Sayang, itu semua karena aku terlalu mencintaimu. Aku selalu berharap jika suatu saat kamu hamil dan aku bisa mengusap serta mengecup perutmu seperti novel yang aku baca di Noveltoon."


"Mas sering baca novel juga."


"Iya, saat aku suntuk. Pasti baca novel."


"Novel apa yang Mas baca."


"Novel karya Mama Reni yang berjudul Melati (istri yang tak dianggap) serta Sahabatku Maduku (Air Mata Melati) , dua novel favoritku."


"Kok bisa sama, Mas."


"Tapi mas bukan Jino atau Willy yang pernah berbuat kasar pada istrinya. Mas adalah Jino saat telah insaf. Sangat menyayangi istrinya."


Azril duduk di tepi sofa dan mengecup dahi istrinya yang berbaring.


"Sebelum tidur kamu minum susu dulu. Aku loh tadi yang buatkan."


"Mas yang buatkan susu ini. Tumben ...."


"Tapi itu semua tidak gratis," bisik Azril.


"Maksudnya Mas mau aku bayar."


"Mas mau kamu bayar dengan tubuhmu nanti," bisik Azril lagi.


"Hhhhaaaa ...." ucap Zeya kaget. Azril tertawa melihat ekspresi istrinya itu.


Bersambung


********************


Terima kasih buat semua pembaca setia novel ini. Jangan pernah bosan menantikan kelanjutan novel ini. ❤❤❤❤❤❤💜💜💜


💜💜💜


Mampir juga ke novel teman-teman mama, nggak kalah menariknya kok.


__ADS_1


__ADS_2