
Azril dan Zeya tampak bahagia menyambut para tamu yang berdatangan. Ia tak berhenti tersenyum menyambut para tamu yang bersalaman memberikan selamat.
"Sayang, aku kesana sebentar ya. Teman-temanku memanggil."
"Iya, mas."
"Kamu mau ikut juga."
"Aku duduk di sini aja."
"Aku hanya sebentar."
Zeya tak mau ikut karena takut mengganggu privasi teman-teman Azril. Mereka ingin menghabiskan waktu bersama Azril sebentar saja.
Zeya berdiri dan mengambil segelas air sirup buat membasahi tenggorokannya. Saat ia sedang meneguk minuman itu, suara seseorang mengagetkannya.
"Apa kabar Zeya."
Zeya hampir saja menumpahkan minumnya. Ia terkejut atas kedatangan papi Azril.
"Apa kabar, sudah lama juga tak bertemu. Kamu tambah cantik dengan busana muslim ini. Pasti orang yang melihatnya tak akan pernah menyangka siapa kamu dulunya."
"Apa maunya om?"
"Aku hanya ingin berbincang. Telah lama kita tak sedekat ini."
"Jangan bercanda, om. Kita dari dulu juga tak pernah dekat."
"Tapi aku pernah hampir menikmati tubuhmu."
"Aku tak ingin bicara dengan om lagi." Zeya berdiri dari duduknya.
"Apa yang akan mami dan Azril katakan jika ia tau siapa kamu."
Zeya kembali duduk. Ia tak ingin menjadi pusat perhatian.
"Azril telah tau bagaimana aku dulunya. Aku tak pernah menutupi masa laluku. Walau pun itu pahit, tapi itu memberikan banyak pelajaran. Aku banyak mengenal sifat-sifat pria hidung belang seperti om. Jika om mengatakan siapa diriku, aku juga bisa mengatakan siapa om sebenarnya."
"Jangan sok suci, kamu itu kotor seperti sampah."
"Aku tak munafik. Aku memang kotor dan telah banyak disentuh oleh pria. Tapi aku tak akan sudi disentuh oleh pria gila seperti om."
__ADS_1
"Apa kamu tak takut jika semua orang tau siapa kamu dulunya. Beraninya kamu mengatakan aku gila."
"Katakan saja, aku juga akan mengatakan siapa om sebenarnya. Dan kegilaan om. Aku memang kotor, tapi lebih kotor om. Jika kami melakukan itu untuk menyambung hidup, tapi om kesana hanya untuk mencari kepuasan. Dan yang lebih parah, om tak cukup dengan satu wanita sekali main. Apa om tak malu jika aku mengatakan kebenaran siapa om itu. Jika aku malu, aku bisa pergi dari rumah ini dan keluarga om. Tapi bagaimana dengan om, semua keluarga dan relasi akan tau kebusukan serta kegilaan om."
"Kamu mengancamku." Tampak papinya Azril mulai terbawa emosi.
"Bukan hanya Zeya yang akan mengancam papi, tapi aku. Jika papi masih saja mendekati dan mengganggu Zeya, papi akan beehadapan denganku," ucap Azril dengan penuh tekanan.
"Kamu tak mengerti dengan pembicaraan kami. Papi hanya becanda tadi."
"Aku mendengar semuanya. Dari tadi aku berdiri di belakang papi dan Zeya."
"Sudahlah Azril, papi tak ingin bertengkar lagi."
"Jangan pernah menyentuh Zeya. Aku tak akan lagi bisa memaafkan kamu jika itu kamu lakukan. Apa tak cukup kamu merebut kekasihku dulu." Zeya kaget mendengar kata yang keluar dari mulut Azril.
Ya Tuhan, jadi om Reno pria yang merebut kekasih Azril. Yang membuat ia sampai ke tempat tante Angel malam itu.
Mami yang melihat dari kejauhan Azril dan papinya bersitegang, mendekati mereka.
"Papi, Azril ... jangan bertengkar. Nanti kalian akan menjadi pusat perhatian."
"Tolong mami bawa pria ini menjauh. Aku tak mau melihat wajahnya lagi."
"Baiklah aku akan pergi." Papi berjalan meninggalkan Azril, dan Zeya.
"Mami, Raja dan Ratu mana," ucap Zeya.
"Raja telah tidur di kamar. Ratu masih bersama Mira."
"Raja di kamar dengan siapa, mi," ujar Azril.
"Dengan bibi. Mami pamit dulu, kembali berkumpul dengan teman-teman."
Azril dan Zeya kembali mendatangi tamu satu persatu dan berbincang sekadarnya.
Albirru dan Zahra tampak baru saja memasuki pekarangan rumah Azril. Mereka datang hanya berdua. Abi dan Umi telah kembali ke kota tempat mereka tinggal.
Albirru dan Zahra mendatangi Azril yang berdiri bersama Zeya di antara tamu undangan yang begitu ramai.
"Terima kasih telah menyempatkan datang," ujar Azril.
__ADS_1
"Mas dan Zahra udah makan, cicipi dulu menunya."
"Ya, mbak."
Albirru dan Zahra pamit untuk mencicipi hidangan dulu. Mereka memilih duduk di sudut taman.
Mata Albirru tertuju pada Mira yang sedang menggendong Ratu. Zahra yang berada di samping Albirru mengikuti arah pandangan mata suaminya itu.
"Apa yang sedang mas lihat?"
"Itu kamu lihat, seorang wanita yang menggendong anak kecil itu."
"Anaknya cantik."
"Mirip Zeya,"cicit Albirru.
Zahra memperhatikan lagi wajah Ratu yang digendong Mira. Dan kebetulan Mira berjalan mendekati tempat mereka duduk.
"Maaf, saya boleh duduk di sini," ucap Mira. Hanya meja Albirru yang masih menyisakan kursi kosong.
"Silakan, mbak."
"Terima kasih."
"Anaknya mbak cantik banget," ujar Zahra.
"Bukan anak aku, mbak. Masa aku jelek begini bisa dapat anak cantik."
"Anak siapa?" ucap Albirru dengan cepat dan semangat.
"Anaknya mbak Zeya."
"Anak Zeya," ucap Albirru kaget. Zahra juga tak kalah kaget mendengar ucapan Mira.
Mira yang menyadari kekagetan Albirru memandangi wajahnya. Mira baru sadar setelah memperhatikan wajah Albirru.
Astaga, bukankah ini mantan Mbak Zeya. Aku pernah melihatnya sekilas saat ia menjemput Mbak Zeya ketika akan membawanya pergi dulu.
Bersambung
*******************
__ADS_1
Terima kasih buat semuanya.. Mama nggak tau harus berkata apa. Tanpa kalian pembaca semua, novel ini tidak akan bisa dikenal. 😍😍😍😍😍😍😍