Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 44. Pernikahan Azril dan Zeya.


__ADS_3

Zeya akhirnya harus berterus terang pada Azril jika ia masih memiliki seorang tante. Ia kabur dari rumah. Itulah awal ia bertemu tante Angel.


Zeya tak lupa mengatakan jika tantenya itu sedikit keras sikapnya. Ia kurang menyukai Zeya. Padahal rumah yang ia tempati saat ini hasil dari menjual rumah milik orang tuanya.


Azril yang mendengar kisah hidupnya Zeya, makin kagum pada wanita itu. Ternyata dari kecil Zeya telah menjalani hidup yang begitu keras.


Sampai di rumah tantenya yang dulu pernah menjadi tempat ia berteduh dari hujan dan panas, Zeya kaget.


Zeya memandangi rumah itu. Tiga tahun ia meninggalkan rumah ini, semuanya tampak berubah.


Zeya mengetuk pintu rumah itu beberapa kali. Terdengar suara langkah kaki mendekat. Seorang wanita yang tidak Zeya kenal membukakan pintu.


"Selamat sore. Apa tante Dewi ada, bu."


"Tante Dewi ... tante Dewi yang istrinya pak Andi," ucap wanita itu.


"Iya, Bu."


"Kalau tante Dewi istrinya pak Andi udah meninggal setahun yang lalu."


"Meninggal ... dan pak Aksinya?"


"Saya nggak tau kemana pak Andi pergi bersama anaknya. Rumah ini saya beli setelah sebulan tante Dewi meninggal."


"Jadi rumah ini telah di jual."


"Iya, mbak."


"Oh gitu ya. Kalau begitu saya pamit. Terima kasih informasinya."


Azril dan Zeya meninggalkan rumah itu setelah mendapatkan alamat tempat pemakaman tante Meri. Zeya menyempatkan ziarah sebelum menuju hotel buat istirahat.


............


Ditempat lain, Abi dan Uminya Albirru tampak mengobrol dengan serius.


"Abi, jika saja kita bertemu Zeya lebih awal pasti ia tak akan pernah terjerumus ke lembah hitam itu."

__ADS_1


"Semua mungkin memang telah menjadi jalan hidupnya," gumam Abi.


"Padahal dulu ketika mereka masih kecil, kita sempat menjodohkan Zeya dan Albirru."


"Ubahlah, Umi. Tak perlu disesali. Semua telah terjadi. Mungkin memang Albirru dan Zeya hanya berjodoh sesaat."


"Jika saja Zeya belum ada jodohnya, mungkin bisa rujuk kembali dengan Albirru."


"Tak mungkin Umi, walaupun Zeya masih sendiri mereka tak bisa kita nikahkan lagi. Takutnya Albirru tak mampu adil. Bukankah Zeya minta pisah karena ia yang tak bisa berlaku adil."


"Iya, Abi. Umi sebenarnya ingin bicara berdua Zeya. Tapi ia tak mau memberi nomor ponsel dan alamatnya. Mungkin luka yang Albirru beri terlalu dalam dan menyakitkan."


"Kita hanya bisa mendoakan semoga jodohnya saat ini bisa membahagiakan dirinya kelak."


..................


Hari yang dinantikan Azril dan Zeya akhirnya datang juga. Ia dan Zeya akan menikah pada hari ini.


Azril memilih hari jumat pagi sebagai hari pernikahannya. Dan sabtu malam buat acara resepsi pernikahan.


Azril tampak gugup duduk dihadapan penghulu dan wali nikah.


Sebelum ijab kabul dimulai pembawa acara meminta Azril untuk menanyakan kesediaan calon pengantin wanita untuk menikah dengannya.


Semua tamu undangan ikut berdiri saat Azril berdiri berhadapan dengan Zeya.


"Alifa Zeya ... aku bukan pria romantis yang pandai merangkai kata. Dengan disaksikan tamu undangan aku ingin meminang kamu .... " Azril menjeda ucapannya dan menarik nafas.


"Hari ini aku berjanji dengan segenap hati aku, dengan ketulusan hati aku untuk bisa menjaga kamu. Untuk bisa menjadikan kamu satu-satunya di hidupku. Jika dulu cinta pertamamu menorehkan luka, maka izinkan aku sebagai cinta terakhirmu untuk bisa menghadirkan surga," ucap Azril selanjutnya.


Semua tamu undangan tampak khusyuk mendengarkan ucapan Azril. Kaki Azril sedikit gemetar karena gugup. Setelah rasa gugupnya hilang, barulah Azril meneruskan ucapannya.


"Saya percaya takdir tuhan itu nyata dan adil, jika kamu ditakdirkan Tuhan menjadi jodoh saya, maka izinkan saya membahagiakan kamu untuk selamanya. Terakhir kata saya ingin bertanya padamu duhai wanita yang sangat aku cintai, apakah kamu bersedia menikah denganku?" Setelah mengucapkan kata terakhir itu, tampak Azril menarik nafasnya.


"Bismillahirahmanirahim, dengan izin Allah, Insha Allah aku menerima kamu sebagai calon suami aku," jawabnya Zeya sembari menahan tangis."


Tamu undangan tampak ikut merasakan keharuan yang dirasakan kedua calon pengantin.

__ADS_1


Pembaca acara meminta para tamu undangan untuk duduk kembali. Dan acara ijab kabul akan segera dimulai.


Pembacaan ayat suci Al-quran telah dilantunkan dengan merdu tadi.Dan penghulu telah memberikan sedikit kata nasihat.


"Baiklah acara ijab kabul bisa kita mulai. Balak wali dan calon pengantin pria silakan berjabat tangan."


Wali hakim yang mewakili orang tua Zeya menjabat tangan Azril.


"Haikal Azril Ansa."


"Saya pak."


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan saudari Alifa Zeya binti Beni Saputra dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas, Tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Alifa Zeya binti Beni Saputra dengan mas kawin tersebut diatas, Tunai."


"Bagaimana saksi, SAH" tanya pak penghulu pada kedua saksi, yang ditunjuk Azril. Mereka berdua orang kepercayaannya.


"SAAHH .... "ucap kedua saksi serempak.


"Alhamdulillah," ucap Azril lega.


"Sekarang kamu dan Zeya telah resmi menjadi suami istri. Pengantin wanita silakan ke sini. Dampingi pengantin pria." ucap penghulu.


Zeya yang terharu saat saksi menyatakan sah tak bisa membendung air matanya yang jatuh membasahi pipinya.


Bersambung


*********************


Akhirnya Azril dan Zeya resmi menjadi suami istri. Masih penasaran kan dengan kelanjutan ceritanya.


Saya ucapkan terima kasih buat semua pembaca setia novel ini. Lope Lope sekebon buat semuanya. 🤭🤭❤❤❤❤❤💜💜💜💜😍😍😍😍


Sambil menunggu novel ini update kalian semuanya bisa mampir ke novel teman mama. Masih bertema berbagi cinta.


__ADS_1


__ADS_2