
"Kalau memang kedua orang tua mas sangat menginginkan keturunan dari rahimku ...." Zahra menarik nafasnya dalam sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku rela kamu mencari wanita lain, aku siap di madu," gumamnya lagi.
"Kamu bicara apa, Zahra?" ucap Albirru dengan sedikit kaget. Ia tak pernah berpikir jika Zahra akan mengatakan itu padanya.
"Mas, aku takut jika memang tak bisa lagi memberikan kamu keturunan. Aku juga pernah berbagi cinta dengan mbak Zeya, jadi jika saat ini kembali terjadi aku telah siap."
"Mas tak pernah terpikir buat menikah lagi. Pengalaman telah mengajarkan pada mas jika berpoligami itu tidaklah semudah mengucapkan. Adil itu sulit dalam prakteknya."
"Aku rela jika mas lebih banyak menghabiskan waktu bersama istri mudamu. Mungkin ini bisa sebagai penebus dosaku yang dulu egois dan menginginkan mas lebih sering bersamaku dari pada mbak Zeya. Aku akan belajar sabar seperti yang pernah mbak Zeya lakukan," lirih Zahra
"Tapi pada akhirnya Zeya menyerah. Dan aku takut kamu juga begitu. Lebih baik kita jalani semua ini. Mungkin Allah belum memberikan kepercayaan padamu, agar mas kemarin lebih fokus pada Raja dan Ratu. Saat ini mereka telah jauh, siapa tau sebentar lagi kamu hamil sebagai pengganti Raja dan Ratu yang jauh."
Albirru memandangi langit-langit kamar rumahnya. Pikirannya entah melayang kemana. Zahra memperhatikan semuanya.
Aku tau kamu dan kedua orang tuamu sangat mengharapkan keturunan. Aku juga sedih karena belum bisa memberinya. Jika dalam setahun aku belum juga hamil, aku bersedia mundur dan merelakan kamu mencari wanita lain yang bisa meneruskan keturunan darimu.
Zahra membaringkan tubuhnya. Kembali air mata mengalir dipipinya. Albirru yang mendengar isakan Zahra memeluk tubuh istrinya yang saat ini tampak sedikit kurus.
Zahra dan Albirru akhirnya terlelap. Umi yang tak melihat Zahra keluar lagi dari kamarnya, menuju dapur memasak buat makan malam mereka.
Setelah masak dan menghidangkan di meja, Umi mengetuk pintu kamar Albirru, membangunkan anak dan menantunya itu.
Beberapa saat barulah Zahra bangun, dan membuka pintunya.
"Maaf Umi mengganggu."
"Nggak apa-apa, Umi. Ada apa ya?"
"Sebentar lagi udah masuk magrib. Mandilah dan setelah itu kita makan malam."
"Udah hampir magrib?" ucap Zahra kaget.
"Iya, makanya kamu segera mandi. Mana Albirru."
__ADS_1
"Masih tidur."
"Bangunkanlah! Setelah mandi, dan solat kita makan malam."
"Astaga! Aku belum masak," Zahra berjalan tergesa meninggalkan Umi menuju dapur. Umi mengikuti dari belakang.
Zahra kaget melihat di meja makan telah terhidang berbagai menu masakan. Ia membalikkan badannya dan berhadapan dengan Umi.
"Maaf,Umi. Aku tadi kurang enak badan, jadi pulang tadi langsung tidur."
"Kenapa harus minta maaf.Kamu tidak salah."
"Aku jadi merepotkan, Umi. Terpaksa Umi yang memasak."
"Nggak apa. Itu tak merepotkan, Umi udah terbiasa melakukannya."
"Sekali lagi aku minta maaf, Umi. Aku pamit, mau mandi dan solat."
"Pergilah, Umi juga akan mandi dan solat."
"Assalamualaikum Abi, Umi. Maaf harus menunggu."
"Tak apa, ayo makan lagi." Umi membuka semua hidangan dan mengambikan sepiring nasi dan lauknya buat Abi.
Mereka makan dalam diam,Tak ada yang bersuara. Sehabis makan malam Umi dan Zahra menuju ke ruang keluarga. Menonton televisi. Sedangkan Abi dan Albirru bermain catur di teras rumah.
"Zahra, apa kamu sudah periksa ke dokter," ucap Umi.
"Periksa apa, Umi? tanya Zeya
"Kandungan kamu."
"Buat apa periksa kandungan . Aku tak apa-apa semua normal. Hanya Allah yang belum menitipkan dan mempercayakan aku hamil anaknya mas Albirru."
__ADS_1
"Kamu tidak sengaja menunda kehamilan inikan."
"Umi, aku juga menginginkan hamil secepatnya. Tapi semuanya tidak bisa aku yang mengatur. Hanya Allah yang menentukan."
"Umi hanya takut kamu sengaja menundanya," lirih Umi.
"Aku tadi juga telah bicara mengenai ini bersama mas Abirru. Aku tau Abi dan Umi juga mas Albirru sangat menginginkan menimang bayi. Dan aku tadi telah memutuskan, jika dalam satu tahun ini aku tidak bisa hamil, mas Albirru akan aku izinkan menikah lagi."
"Zahra, Umi tidak bermaksud mendesak kamu. Hanya sekadar bertanya. Kamu jangan tersinggung."
"Aku tidak tersinggung, Umi. Keputusan itu emang sudah aku pikirkan. Aku tak boleh egois. Setiap orang berumah tangga pasti akan menginginkan keturunan."
Abi dan Albirru yang telah selesai bermain catur ikut bergabung dengan Umi dan Zahra menonton televisi di ruang keluarga. Abi melihat wajah tegang Umi dan Zahra.
"Ada apa ini? Kenapa Umi dan Zahra kelihatan tegang?"
"Nggak ada, Abi. Umi hanya ingat Raja dan Ratu, kapan kita bisa bertemu mereka lagi?" gumam Umi.
"Jangan terlalu Umi pikirkan Raja dan Ratu. Doakan saja Zahra cepat memberikan kita cucu. Kita tak bisa melakukan apa-apa, hak asuh mereka mutlak pada Zeya."
"Abi, aku tadi sebenarnya membicarakan mengenai kehamilanku dengan Umi."
"Apa maksudnya?"
"Aku telah memutuskan, jika dalam setahun ini aku belum juga bisa hamil, aku akan merelakan mas Albirru menikah lagi," ucap Zahra.
"Apa ....?" ucap Albirru kaget. Tak kalah kagetnya dengan Abi.
Bersambung
**************************
Terima kasih buat semua pecinta novel Noda Merah Pernikahan. Semoga tetap setia menanti kelanjutannya. 😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1
Sementara menunggu novel ini update kalian bisa mampir ke novel teman mama yang berjudul. Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami karya Santi Suki