
"Aku nggak suka dengar ucapan Abi. Aku tau jika Ratu bukan darah dagingku. Tapi aku telah menganggap mereka itu seperti anak kandungku. Aku juga tak akan berbuat macam-macam dengan Ratu. Lagi pula ia juga telah menjadi mahramku, tak ada salahnya aku memeluknya,"ucap Azril sangat marah dan emosi. Di dalam kamar tampak ia hanya mondar mandir sambil terus mengomel.
Zeya memeluk tubuh suaminya itu. Barulah Azril berhenti dan mengajak duduk di sofa.
"Mas, aku tau kamu sangat menyayangi Ratu. Dan aku tak keberatan selama ini kamu dekat dan memanjakannya. Aku yakin dihatimu hanya ada rasa sayang seorang Daddy pada anaknya, tidak lebih."
"Sayangku pada Ratu lebih dari diriku sendiri. Tak akan aku biarkan seorangpun menyakitinya." Zeya memeluk tubuh suaminya itu.
"Ya, aku tau."
"Zeya, aku tau perkataan Abi benar. Itu membuat aku takut."
"Apa yang mas takutkan."
"Aku takut jika Ratu telah besar dan tau kenyataan jika aku bukan ayah kandungnya, ia mulai menjauhiku dan tak menyayangi aku lagi Aku tau ini egois. Tapi saat Raja tadi lebih memilih aku, sebenarnya aku bahagia. Aku ingin mereka menyayangi aku selamanya. Apakah aku jahat jika mengharapkan itu?"
"Tidak akan mungkin Raja dan Ratu berubah. Pasti mereka akan tetap menyayangi Mas. Raja dan Ratu pasti dapat merasakan kasih sayang yang tulus dari, Mas."
"Raja dan Ratu anakku."
"Iya, Mas. Mereka anak-anakmu. Sekarang Mas bersihkan tubuh, kita tidur lagi. Atau solat malam dulu."
"Kita solat dulu sebelum tidur."
Azril membersihkan wajah dan menggosok giginya. Setelah itu berwudhu. Ia dan Zeya mengerjakan solat malam sebelum tidur.
..............
Pagi harinya ketika mereka sedang sarapan, Azril menerima panggilan telepon dari tante Febby.
"*Ada apa tante."
"Sebaiknya kamu dan Mami segera kerumah sakit."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Papi kembali koma tadi malam. Tante takut terjadi sesuatu."
"Baiklah, tante. Tapi nanti aku titip Raja dan Ratu diruangan tante bersama pengasuhnya."
"Ya, boleh."
"Terima kasih, tante*."
Azril memutuskan sambungan ponselnya. Ia memandangi maminya.
"Mami, kita harus ke rumah sakit sekarang."
"Ada apa, Azril?"
"Papi kembali drop. Tante Febby takut terjadi hal yang tak kita inginkan."
"Baiklah, anak-anak bagaimana?"
"Kita bawa, tapi nanti anak-anak dan Siti aku titipkan diruangan tante Febby saja."
Setelah menitipkan Raja dan Ratu barulah Azril, mami dan Zeya menuju ruangan tempat papi di rawat. Kebetulan ada dokter.
"Bagaimana keadaan papi saya, Dok," tanya Azril.
"Tubuhnya sudah menolak semua zat kimia yang masuk. Tidak ada obat yang bisa membantunya. Kita hanya berdoa pada Tuhan saja. Pasrahkan semua pada-Nya."
"Terima kasih, Dok. Kami boleh bicara dengan papi."
"Silakan. Jika membutuhkan saya, bisa panggil."
"Baik, Dok. Terima kasih."
Mami, Azril dan Zeya mendekati tempat tidur papi. Tampak wajahnya yang makin memucat. Azril mengedar pandangan ke seluruh ruangan, tidak tampak Shinta istrinya papi, mantannya Azril.
Papi membuka matanya dan tersenyum melihat mami dan Azril. Ia mencoba meraih tangan mami.
__ADS_1
Mami mengulurkan tangannya, dan langsung digenggam papi.
"Maafkan semua kesalahanku. Aku inginsaat aku pergi meninggalkan dunia ini, kamu dan Azril sudah tidak ada lagi dendam dan marah pada diriku."
"Aku sudah memaafkan semua salah, Papi. Sebagai istri aku juga minta maaf, mungkin aku banyak salah karena aku sadar tidak ada manusia yang luput dari khilaf."
"Azril, papi tau kesalahan Papi sangat sulit untuk kamu maafkan. Tapi Papi tidak akan bosan meminta maaf. Maafkan Papi. Maafkan semua yang pernah Papi lakukan yang membuat kamu sangat terluka dan membenci papi."
"Semuanya sudah aku maafkan," ucap Azril.
Mata papi beralih menatap ke arah Zeya yang berdiri di samping Azril.
"Maafkan aku," ujar Papi. Zeya memandangi Azril sebelum menjawab ucapan papi.
"Aku sudah memaafkan, om. Aku juga minta maaf."
Setelah mengucapkan kata maaf buat Zeya tampak nafas Papi yang mulai sesak. Ia memegang dadanya dan terbatuk.
Papi memuntahkan banyak darah dari mulutnya. Mami dan Azril serta Zeya yang melihatnya tampak kaget. Zeya langsung memencet bel darurat memanggil dokter.
Sementara dokter datang, mami mencoba membersihkan muntahan darah papi.
Papi tampak mulai memejamkan matanya. Entah karena kelelahan atau menahan sakit.
Tak berapa lama dokter masuk dengan seorang perawat. Dokter memeriksa keadaan papi.
"Maaf, bu. Bapak telah pergi," ucap dokter dengan mami. Mami tampak syok dan langsung lemas mendengar ucapan dokter. Azril cepat menangkap tubuh mami sebelum terjatuh.
Bersambung
***************
Sebagai seorang istri, walaupun suami banyak melakukan kesalahan pastilah akan sedih melepaskan kepergian suaminya. Begitu juga mungkin yang dirasakan mami.
Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. Terima kasih. Mampir juga ke novel teman mama dibawah ini ya.
__ADS_1