Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 82. Apakah Mas masih mencintai Zeya?


__ADS_3

Dikediamannya Albirru saat ini, ia sedang menyantap sarapan bersama Thalita. Sebenarnya Albirru kurang menyukai masakan istrinya itu.


Thalita emang tak sepintar Zeya atau Zahra dalam urusan dapur. Tapi untuk menghargai istrinya Albirru tetap menyantapnya.


"Bagaimana mana Mas rasa nasi gorengnya." Thalita tampak antusias bertanya. Ia selalu belajar memasak untuk menyenangi hati suaminya itu.


"Enak ...."


"Mas nggak bohong, kan?"


"Kenapa mas harus bohong."


"Tapi aku masih merasa ada yang kurang. Tak seenak masakan mama atau umi," gumam Thalita.


"Kamu hanya perlu belajar lebih agar masakan kamu seenak mama dan umi."


"Aku akan terus belajar untuk memasak."


"Thalita, aku pernah cerita jika aku memiliki dua orang anak. Mereka kembar. Raja dan Ratu namanya."


"Ya, terus kenapa Mas?"


"Mungkin mas akan sering ke Jakarta untuk menemui mereka."


"Apa Mas telah bertemu mereka?Bukankah mas dan Umi mengatakan jika ayah sambungnya menutup akses buat mas dapat bertemu."


"Ayah sambungnya saat ini telah mengizinkan mas untuk bertemu," ucap Azril.


"Oh, gitu ya. Emang Mas mau menemui mereka berapa kali sebulan."


"Mungkin sekali sebulan. Atau jika ada waktu libur, bisa lebih."


"Aku boleh ikut. Aku juga ingin kenalan dengan mereka. Pasti saat ini mereka udah mulai besar."


"Mereka tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar. Rasanya mas tak ingin berpisah. Kamu sedang hamil bagaimana bisa ikut."



"Mas ada foto mereka?"


"Ini ...." Albirru mengulurkan ponselnya. Thalita mengamati foto yang ada di layar ponsel suaminya. Albirru menjadikan foto Raja dan Ratu sebagai wallpaper ponselnya.


"Raja mirip banget dengan Mas. Ratu ini mirip siapa, Mas."


"Mirip Zeya, bunda mereka."


"Pasti mbak Zeya cantik banget jika Ratu mirip dengan dirinya."


"Selain cantik, Zeya itu wanita yang lembut, baik dan ramah."


"Sepertinya sulit buat Mas melupakan mbak Zeya," gumam Thalita.

__ADS_1


"Ia wanita pertama yang hadir dan dekat denganku."


"Mas masih mencintai mbak Zeya."


"Zeya hanyalah masa laluku. Tak ada gunanya mengingat kenangan bersamanya. Jika saat ini aku dan Zeya masih berhubungan hanya semata karena Raja dan Ratu."


"Tapi dari setiap ucapan, selalu saja nama Zeya Mas sebut. Dan kenapa Mas menjatuhkan talak pada mbak Zeya saat itu?"


"Mas melakukan semua itu demi kebaikan bersama. Tak ada gunanya mas pertahanan Zeya tetap menjadi istri jika hati dan cintanya tak lagi untuk ,Mas. Bukankah cinta tak selamanya harus memiliki."


"Pasti mbak Zeya masih memiliki tempat terindah dihati, Mas."


"Kamu yang memiliki tempat terindah dhati ini. Kamu istriku."


"Gombal ...."


"Kenapa gombal. Emang benar. Aku tak boleh masih memikirkan Zeya, ia telah menjadi istri orang lain."


"Mbak Zahra?"


"Ia juga menempati ruang di hati ini.Oh ya, mas nanti pulang kerja langsung ke rumah Zahra."


"Kenapa? Mas baru satu hari di sini. Bukankah selama di Jakarta telah bersama?"


"Thalita, ada yang harus aku bicarakan padanya."


"Berarti tak nginap. Mas hanya ingin mengobrol aja."


"Aku lihat dulu. Kamu nggak marah, kan?"


Albirru menghabisi sarapan dipiringnya dengan terpaksa. Ia tak ingin Thalita kecewa jika tak dimakan. Setelah itu Albirru pamit kerja.


Thalita mengantar kepergian Albirru hingga mobil suaminya itu hilang dari pandangan. Setelah itu ia masuk ke kamar.


Thalita membongkar sebuah kotak yang Albirru simpan di lemari. Telah lama ia ingin melihat isi dari kotak itu.


Ternyata di dalam kotak tersebut banyak tersimpan foto-foto Zeya. Thalita memperhatikan dengan seksama semua foto itu.


Setelah cukup lama melihat foto-foto Zeya, Thalita mengambil ponselnya dan menghubungi Zahra. Ia mengajak kakak sekaligus madunya itu bertemu.


....................


Zahra duduk termenung di salah satu kafe. Ia janji bertemu dengan Thalita di tempat ini.


Tak berapa lama tampak Thalita memasuki kafe. Gadis cantik yang masih sangat muda itu tersenyum padanya.


"Selamat pagi,Mbak. Maaf menunggu."


"Nggak apa, aku juga belum lama tiba."


"Terima kasih, Mbak. Karena mau bertemu denganku."

__ADS_1


"Tak perlu berterima kasih."


Thalita memesan makanan dan minuman buat mereka berdua. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Thalita memulai obrolannya.


"Mbak, aku boleh bertanya?"


"Apa yang ingin kamu ketahui?"


"Apakah sewaktu di Jakarta kemarin Mbak dan Mas Al datang menemui mbak Zeya serta kedua anaknya."


"Ya, kenapa?"


"Apakah mbak ikut saat Mas Al menemui mereka."


"Tentu saja."


"Mbak nggak cemburu?"


"Cemburu pada siapa? Zeya apa putra putrinya?"


"Semuanya ...."


"Aku tak cemburu. Karena aku tau Raja dan Ratu adalah putra mas Al, jadi tak pantas mereka dicemburui."


"Dengan mbak Zeya."


"Ya, aku cemburu dengannya."


"Aku tau. Pasti mbak cemburu. Aku saja yang hanya mendengar mas Al menyebut namanya cemburu. Karena aku melihat masih ada cinta buat mbak Zeya di hati mas Al."


"Aku bukan cemburu pada mas Al yang mungkin masih mencintai mbak Zeya."


"Maksud mbak apa?"


"Aku cemburu melihat mbak Zeya yang saat ini. Ia memiliki segalanya. Suami yang begitu mencintai dan menyayangi dirinya. Anak-anak yang lucu dan pintar. Aku ingin rasanya seperti mbak Zeya."


"Mbak Zeya telah bahagia dengan suami saat ini."


"Tentu saja. Suaminya memberikan segala yang diinginkan wanita. Perhatian, cinta, kasih sayang dan juga harta yang melimpah. Semua itu pastilah membuat mbak Zeya bahagia. Mertuanya juga sangat menyayangi mbak Zeya."


"Beruntung banget mbak Zeya mendapatkan suaminya."


"Itu buah dari kesabaran dirinya selama ini," lirih Zahra.


Mereka berdua terdiam. Melamun. Entah apa yang ada dalam pikiran masing-masing.


Bersambung.


*******************


Tak ada kata yang bisa mama ucapkan untuk dukungan dari pembaca semuanya, selain ucapan ribuan terima kasih. Semoga tak bosan untuk terus menantikan kelanjutan dari novel ini. 😍😍😍😍😍

__ADS_1


Sementara menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama dibawah ini.



__ADS_2