Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 89. Abi dan Umi


__ADS_3

Sore hari Zahra yang sedang memasak buat makan malam dikejutkan dengan suara salam yang datang.


"Assalamualaikum, Zahra," ucap Umi di belakang Zahra.


"Waalaikumsalam ...." ucap Zahra. Ketika membalikkan badannya, ia kaget melihat Umi yang telah berdiri didekatnya.


"Umi, kapan datang. Maaf aku tak dengar."


"Asyik benar masaknya. Umi dan Abi telah mengucap salam beberapa kali sampai tak di dengar."


"Sekali lagi maaf, Umi."


"Maaf, Umi langsung masuk saja."


"Nggak apa. Umi. Abi mana?"


"Duduk di ruang keluarga."


"Umi temani aja Abi, aku buatkan minum dulu."


"Biar Umi aja. Kamu teruskan aja masak."


Umi membuatkan segelas teh hangat untuk Abi. Zahra meneruskan memasak.


Setelah semua masakan selesai, dan dapur telah bersih kembali, Zahra berjalan menuju ruang keluarga dimana kedua mertuanya berada. Abi dan Umi sedang asyik menonton televisi. Zahra bergabung dengan mertuanya.


"Udah selesai kamu memasak, Zahra."


"Udah, Mi."


"Ada yang ingin Abi tanyakan."


"Apa yang ingin Abi tanya?"


"Apa benar, saat kamu dan Albirru di Jakarta kalian bertemu Raja dan Ratu."

__ADS_1


"Benar, Abi."


"Bagaimana mereka? Pasti sudah besar saat ini."


"Raja dan Ratu tumbuh dengan sehat dan pintar. Mas Azril dan Mbak Zeya mendidik mereka sangat baik."


"Kenapa selama ini Zeya dan Azril menutup akses buat Albirru dan kami bertemu Raja dan Ratu."


"Semua demi perkembangan mereka. Mas Azril ingin menjaga psikis Raja dan Ratu."


"Maksudnya apa?" tanya Abi.


"Anak sekecil mereka pasti akan sulit menerima jika ia memiliki dua orang ayah."


"Tapi Albirru ayah kandung Raja dan Ratu. Ia memiliki hak untuk dapat bertemu kapan saja."


"Umi, mas Albirru tidak bisa menuntut apapun pada Zeya jika ia tak mengizinkan bertemu. Karena mereka hanya menikah siri."


"Di dalam agama islam tak ada perbedaan hak antara anak dari hasil nikah siri atau resmi. Nikah siri juga sah di mata agama. Asal memenuhi syarat dalam pernikahan."


"Kamu tak akan mengerti sebelum memiliki anak sendiri dari darah dagingmu, Zahra. Pasti akan merasa sedih jika tidak diizinkan bertemu."


"Umi, tidak meski memiliki anak kandung jika ingin tau bagaimana perasaan saat kita dijauhkan dari darah daging kita. Aku mengerti jika mas Al sangat sedih saat harus berjauhan dari anak-anaknya. Umi pikir kenapa aku mengizinkan mas Al poligami, itu semua hanya untuk kebahagiaan mas Al. Aku tak ingin melihat ia yang selalu sedih saat teringat akan Raja dan Ratu. Walaupun sebenarnya dari hatiku ini aku masih keberatan, karena aku tau tak akan ada kata adil dalam berbagi apalagi berbagi cinta."


Albirru yang telah pulang dari kantor dapat mendengar semua ucapan Zahra. Ia yang akan memberi salam mengurungkan niatnya. Ia ingin menguping percakapan antara orang tua dan istrinya Zahra.


"Dan aku dengan hati ikhlas membiarkan suamiku menikah hanya agar ia mendapatkan keturunan karena aku sadar aku belum bisa memenuhi keinginan suami untuk memberinya anak."


"Zahra, kenapa kamu marah dan membahas poligami. Bukankah umi hanya bertanya tentang cucuku Raja dan Ratu. Bukankah umi sudah meminta kamu untuk memikirkan keputusan yang kamu ambil. Semua menentang, tapi kamu yang keras mengizinkan Albirru biat poligami."


"Karena aku sadar semua ini keinginanku, makanya apapun risikonya aku akan mencoba bertahan.


Albirru mengucapkan salam, ia akhirnya memutuskan masuk sebelum kedua orang tuanya berdebat lebih dalam bersama Zahra.


"Assalamualaikum ...." ucap Albirru cukup keras.

__ADS_1


"Waalaikumsalam." jawab Zahra.


Albirru mencium tangan kedua orang tuanya. Dan duduk dekat Zahra.


"Ada apa ini. Kenapa wajah kamu keliatan tegang?" ucap Albirru memandangi wajah istrinya.


"Aku tak apa-apa, Mas."


"Kami sedang bicarakan Raja dan Ratu," ujar Umi.


"Albirru, apakah sejak kamu menikah lagi, apakah kamu telah berlaku adil dalam membagi waktu ."


"Abi, sejak awal sudah aku katakan jika aku takut tidak bisa berlaku adil. Tapi Zahra memohon juga agar aku mau menikah lagi agar aku mendapatkan keturunan secepatnya."


"Tapi seharusnya kamu berusaha dengan keras agar bisa adil. Jangan sampai kejadian lama terulang kembali."


"Maksud Abi, apa?"


"Apakah Zahra harus pergi dulu baru kamu menyadari kesalahan kamu. Kamu seharusnya belajar dari penagalaman. Buaknkah saat akan meminta talak, Zeya mengatakan jika penyebab utama ia minta pisah karena kamu yang tak pernah bisa berlaku adil. Abi tau jika manusia itu akan sulit berlaku adil, tapi seharusnya kamu mengusahakan bagaimana agar kedua istrimu tidak ada yang merasa diabaikan. Dalam seminggu ada tujuh hari dan itu tak mungkin dapat dibagi dua. Tapi bukan berarti kamu tidak bisa membaginya. Semua itu tergantung cara kamu dalam pembagian waktunya."


Albirru kaget mendengar ucapan ayahnya, ia memandangi wajah istrinya Zahra yang sedang menunduk.


"Maafkan aku, Zahra. Aku mohon jangan pergi,"ucap Albirru dengan lirih.


"Untuk saat ini aku masih bisa bertahan, Mas. Tapi aku tak bisa janji untuk tetap disampingmu jika memang kamu tak bisa merubah sikapmu,"gumam Zahra.


Umi, Abi dan Albirru kaget mendengar ucapan Zahra. Ia tak mengira Zahra akan menjawab begitu.


Bersambung


*********************


Apakah Albirru menyadari kesalahannya selama ini setelah mendengar ucapan Abi?


Nantikan terus kelanjutan novel ini. Jangan pernah bosan. ❤❤❤❤❤💜💜💜💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2