Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 97. Amanah Thalita


__ADS_3

Saat mereka akan meninggalkan pemakaman, Albirru meminta izin untuk membawa Raja pulang sebentar kerumahnya. Zeya dan Azril terlebih dahulu bertanya pada Raja.


"Kamu mau ikut ayah Albirru pulang ke rumahnya," tanya Zeya.


"Aku mau, bunda. Tapi aku tak nginap. Hanya sebentar saja."


"Baiklah, Sayang. Tapi kamu jangan nakal, ya. Jika butuh sesuatu katakan pada ayah."


"Baik, bunda."


Zeya mendekati Albirru dan keluarganya. Ia memegang tangan Raja.


"Mas, Raja mau ikut denganmu. Tapi ia tak mau menginap. Ia minta diantar pulang lagi."


"Tak masalah, Zeya. Raja mau ikut aja aku sudah sangat senang."


"Apakah tak merepotkan, Mas. Jika harus mengantarkan ia pulang ke rumah mami."


"Tidak ada yang repot. Jika Raja mau pulang aku akan segera antarkan."


"Baiklah, Mas. Tunggu sebentar aku ambilkan baju Raja di dalam bagasi mobil."


Setelah mengambil pakaiannya Raja, Zeya menyerahkan pada Albirru.


Mereka akhirnya meninggalkan area pemakaman.


Abi dan Umi senang karena Raja yang mau ikut mereka. Di dalam mobil Raja terus saja dukana pangkuan Umi.


"Raja, kapan-kapan mau nginap dan tinggal di rumah ayah."


"Aku tak mau,Nek. Aku tak bisa tidur jika tak bersama Daddy dan Ratu."


"Nanti ayah yang temani Raja tidur. Sama aja dengan Daddy, kan?"


"Aku tak terbiasa dengan ayah."


"Makanya di coba dulu. Kalau kamu tak pernah mau nginap, gimana terbiasa."


"Aku tak mau Ratu menangis."


"Menangis karena apa?" Umi masih terus mencoba membujuk Raja.


"Ratu pasti akan menangis kalau tak ada aku."


"Kamu bisa bawa Ratu sekalian."

__ADS_1


"Aku tak tau apa Ratunya mau, Nek!" ucap Raja sambil menunduk.


"Apa Bunda dan Daddy yang tak mengizinkan kamu dan Ratu menginap," ucap Umi.


"Astaga, Umi. Kenapa bicara begitu dengan Raja," ujar Zahra.


"Emang salahnya di mana."


"Itu sama aja Umi berburuk sangka."


"Umi hanya bertanya. Kenapa kamu yang jadi berburuk sangka dengan, Umi."


"Jika Raja mengatakan pada mas Azril apa yang Umi tanyakan, itu akan menjadi suatu kesalah pahaman."


Azril yang sedang menyetir mendengar perdebatan Umi dan Zahra, langsung menyela.


"Sebaiknya Umi tidak menanyakan itu pada Raja. Apa yang dikatakan Zahra benar, nanti jika Raja mengatakan pada Azril apa yang Umi katakan, aku takut jadi salah paham."


"Mas, Umi hanya bertanya karena merasa tak ada bahan omongan. Itu hanya sekadar bahan obrolan saja," ucap Thalita membela Umi.


"Maaf Umi, aku tak bermaksud menasihati Umi," ucap Zahra menjadi tak enak.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, semuanya hanya diam saja. Zahra takut ucapannya membuat Umi tersinggung lagi.


Sampai di rumah Zahra langsung memasak dibantu Thalita.


"Nggak apa, Mbak. Cuma ngiris sambil duduk aja kok," ucap Thalita.


Zahra membuat menu makan malam sayur asam, ayam goreng, perkedel jagung dan sambal terasi. Ia menambahkan kerupuk.


"Mbak ...."


"Ya, kenapa?" tanya Zahra.


"Nanti jika aku tiada saat melahirkan, apa mbak mau menjaga dan merawat anakku seperti anak kandungmu."


"Kenapa kamu bicara begitu, Thalita. Kamu boleh mendahului takdir Tuhan."


"Aku bukan mendahului takdir. Tapi sejak aku datang ke pemakaman tadi, aku jadi berpikir tentang kematianku. Jika aku pergi, bagaimana nasib anakku."


"Bukankah orang tua kamu masih ada."


"Apa Mbak tak mau merawat anakku."


"Tentu saja aku mau. Tapi apakah nanti orang tuamu mau menerima jika anakmu dirawat olehku."

__ADS_1


"Aku sudah pernah bicarakan ini dengan kedua orang tuaku. Awalnya mereka marah. Mereka mengatakan jika aku terlalu banyak berpikir. Tapi setelah aku mengatakan, jika ini hanya satu kemungkinan anggaplah permintaan aku sebagai amanah. Aku ingin anakku Mbak nantinya yang menjaga."


"Mbak selalu berdoa jika kamu dan bayi dalam kandunganmu itu sehat hingga waktunya persalinan."


"Aamiin. Aku yakin Mbak yang paling cocok jadi ibu anakku."


"Jangan omong yang sedih lagi. Kamu harus percaya dan yakin umurmu panjang."


"Iya, Mbak."


"Selesai semuanya. Kamu bisa panggilkan mas Albirru serta Abi dan Umi buat makan. Aku bersihkan dulu ini."


Thalita mengajak Albirru dan kedua orang tuanya buat makan. Setelah makan malam dan solat, semua berkumpul di ruang keluarga sambil menonton. Raja telah dimandikan dan siap untuk pulang.


"Ayah, aku mau pulang," gumam Raja.


"Sekarang ...." tanya Albirru.


"Iya ...."


"Baiklah, kamu pamit dulu sama semuanya."


Raja menyalami satu persatu yang ada diruangan itu.


"Lain waktu ajak Ratu untuk bermain ke sini," ucap Umi.


"Iya, Nek," ucap Raja.


"Kalau kamu akan kembali ke Jakarta, minta Bunda dan Daddy untuk hubungi nenek. Nenek ingin mengantarkan."


"Baik, Nek."


"Nenek pasti akan datang ke Jakarta setelah kamu kembali."


Umi mengecup kedua pipi Raja dan memeluknya.


Albirru pergi bersama Thalita, ia akan sekalian mengantarnya pulang.


Bersambung


***********************


Nantikan terus kelanjutan novel ini. Terima kasih.


Jangan lupa mampir juga ke novel teman-teman mama dibawah ini.

__ADS_1




__ADS_2