
Azril menjemput Zeya ketika jam menunjukan pukul sembilan pagi. Mereka langsung berangkat agar bisa sampai sore harinya.
Perjalanan dari daerah tempat Zeya sekarang menetap hingga ke kota dimana Albirru berada memakan waktu enam jam perjalanan.
"Kapan kamu akan bertemu Albirru." Azril bertanya pada Zeya saat diperjalanan. Azril menggunakan jasa supir. Ia tak mau mengambil risiko menyetir sendiri karena ada Raja dan Ratu.
"Nanti malam, mas."
"Apa kamu tak capek. Kita sampai di sana sekitar pukul empat sore."
"Nggak apa, mas. Aku tak capek . Aku tak mau menundanya. Itu akan membuat masalah makin larut."
"Terserah kamu aja. Aku tak ingin terlalu ikut campur, karena itu masalah pribadimu. Aku hanya akan mendukung apapun keputusanmu."
"Tapi nanti aku titip Raja dan Ratuku ,mas."
"Jangan kuatir, aku akan menjaganya. Kamu taukan, Raja dan Ratu itu juga anak-anak kesayanganku."
"Mas, aku sebenarnya tidak boleh menyembunyikan keberadaan si kembar dari ayah kandungnya. Itu berdosa. Tapi aku juga hanyalah manusia biasa yang punya kelemahan. Aku masih belum bisa menerima jika nanti Albirru menuntut haknya sebagai ayah, sedangkan aku yang telah menjaganya dari awal. Bukan ayahnya. Aku ini sangat egois kan, mas."
"Terkadang di dalam hidup kita perlu egois untuk kebahagiaan kita. Jangan hanya memikirkan perasaan orang saja dengan mengabaikan perasaan sendiri."
"Tapi suatu saat aku pasti akan mengatakan kebenarannya. Saat hati ini telah kuat dan siap."
"Aku mendukung apapun keputusanmu, jika itu yang terbaik untukmu."
"Terima kasih,mas. Karena selalu mengerti aku."
Mereka mampir di rumah saat makan siang. Setelah makan dan solat, Azril meminta supir untuk melanjutkan perjalanan.
Ratu berada dipangkuan Azril dan Raja dipangkuan Zeya. Ratu selalu tenang bila berada dalam pelukan Azril.
__ADS_1
Zeya melihat Ratu yang terlelap dalam dekapan dadanya Azril.
Maafkan bunda sayang, karena telah memisahkan kamu dan ayahmu. Pastilah kamu merindukan dekapan ayah kandungmu. Sehingga kamu begitu nyaman berada dipelukan daddy Azril. Kamu pasti mengira itu adalah pelukan dari ayah kandungmu.
Sampai di hotel Zeya memandikan kedua buah hatinya. Dan setelah itu Zeya juga mandi.
Zeya mengambil ponsel dan menghubungi nomor Albirru. Sebelumnya Zeya menidurkan Raja dan Ratu dulu.
Zeya sengaja menggunakan kartu baru yang ia gunakan buat menghubungi Umi Albirru. Untung Zeya masih menyimpan nomor-nomor orang yang dikenalnya.
Terdengar sambungan ponsel. Tapi lama baru Albirru mengangkatnya.
"Selamat sore, dengan pak Albirru. Ada yang bisa saya bantu."
"Assalamualaikum ,mas."
"Waalaikumsalam. Zeya .... " Albirru kaget mendengar suara Zeya.
"Kamu kemana aja, Zeya. Kenapa pergi dari rumah. Jika mas ada salah seharusnya kamu bicara jangan kabur."
"Maaf mas, aku emang salah kabur dari rumah. Untuk itu aku ingin bertemu mas dan Zahra dan kedua orang tua mas. Ada yang ingin aku katakan."
"Mas akan ketempatmu, katakan dimana mas bisa menemui kamu."
"Nanti habis ini aku kirim pesan di mana kita akan bertemu. Aku harap mas datang bersama Abi dan Umi juga Zahra."
"Kamu ada di kota ini."
"Iya, dan aku mohon mas jangan melacak keberadaanku. Kita akan bertemu juga nanti malam. Aku menunggu kedatangan mas dan keluarga. Sudah dulu ya, mas. Assalamualaikum."
Zeya langsung menutup sambungan ponselnya sebelum Albirru menjawab.
__ADS_1
Albirru langsung cabut dari kantor dan pulang setelah menerima pesan dimana Zeya ingin bertemu.
Sesuai dengan permintaan Azril mereka tidak akan menginap di hotel ini. Mereka akan menginap di hotel yang lain agar Albirru tak bisa lagi mendatangi Zeya setelah mereka mengobrol.
Zeya dan Azril hanya berada di hotel ini hingga Albirru dan keluarganya selesai bicara dengan Zeya.
Albirru tampak sangat tergesa memasuki rumahnya tanpa mengucapkan salam.
"Abi, Umi ... Zeya menghubungiku."
"Apa yang ia katakan."
"Ia meminta aku , Abi, Umi dan Zeya menemuinya di hotel X. Bersiap-siaplah Abi, aku takut Zeya berubah pikiran dan kabur lagi."
"Mas, duduklah dulu kalau ingin bicara dengan Abi dan Umi. Lihatlah, Abi dan Umi masih kaget dan tidak mengerti ucapan mas itu," ucap Zahra.
"Kamu sudah seperti orang dikejar hantu saja. Bicara sama orang tua itu baik-baik. Jangan tergesa." ujar Abi.
"Aku takut Zeya akan kabur lagi, Abi."
"Kamu harus yakin dengan takdir Allah. Semua yang terjadi di muka bumi ini telah diaturnya Jadi kamu tidak perlu kuatir. Jika Zeya memang masih ditakdirkan menjadi milikmu, kemanapun ia pergi dan sejauh apapun ia melangkah pastilah ia akan kembali."
"Iya, Abi. Aku pamit dulu, mau mandi."
Albirru berdiri dari duduknya dan masuk ke kamar. Ia segera mandi dan mengganti pakaiannya dengan baju terbaik.
Bersambung
*****************
Selamat pagi pecinta novel NODA MERAH PERNIKAHAN, mama akan kenalkan novel anak online mama nih. Temanya masih tentang poligami. Sambil menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel ini. Terima kasih.
__ADS_1