
Zeya yang sibuk melayani para pembeli meletakkan Raja dan Ratu di sofa dekat kasir. Azril yang membeli buat kedua anak yang paling ia sayangi.
Zeya saat ini tidak tinggal di toko lagi. Azril telah membeli sebuah rumah untuk mereka tempati.
Setiap sore Azril akan menjemput Zeya dan kedua anaknya.
Saat akan mengambil roti pesanan konsumen, Zeya dikagetkan dengan suara salam yang begitu ia kenal.
"Assalamualaikum, Zeya," ucap orang itu. Zeya mendongak dan melihat ke asal suara.
"Waalaikumsalam, Umi." Zeya menyalami tangan Umi dan menciumnya.
"Silakan duduk, Umi. Aku layani pembeli dulu."
Zeya melihat Abi dan Albirru juga Zahra yang berdiri tak jauh dari tempat dirinya. Albirru dan Zahra sudah dua kali datang. Azril yang memberikan alamatnya
"Kenapa hanya berdiri di sana. Masuklah Abi, Mas Al dan Zahra."
Setelah para pembeli dilayani, Zeya menghampiri Albirru dan kedua orang tuanya. Raja dan Ratu di jaga Mira.
Zeya meminta salah seorang karyawan untuk membuatkan teh hangat buat tamunya.
"Abi, Umi ... kejutan banget datang kemari."
"Albirru yang membawa Umi. Dalam perjalanan tadi Albirru telah mengatakan semuanya tentang Raja dan Ratu, cucu Umi. Bolehkah ibu bertemu mereka."
"Raja dan Ratu ...." cicit Zeya.
"Kenapa kamu tak pernah mengatakan tentang mereka. Albirru sebagai ayahnya, serta kami kakek dan neneknya juga berhak tau, bukan," ucap Umi.
"Maaf, Umi. Apakah selama aku meninggalkan rumah, mas Albirru ada mencari tau keberadaanku."
"Tentu saja, Zeya. Aku ada mencarimu."
"Berapa kali, dan di mana saja mas mencariku."
"Ada beberapa kali aku mencarimu. Hingga ke kota B. Aku saat itu mengetahui jika posisi kamu ada di salah satu hotel. Ketika aku tanyakan pada resepsionis dengan memperlihatkan fotomu, ia mengatakan ada seorang wanita dengan ciri sama denganmu baru meninggalkan hotel. Cuma yang membuat aku tak yakin karena ia mengatakan kamu sedang hamil. Jika aku tau itu memang kamu pastilah aku akan mengejar dan mencari kamu."
__ADS_1
"Karena mas tidak dengan sepenuh hati mencariku," ucap Zeya dengan sedikit emosi.
Albirru dan kedua orang tuanya sangat kaget melihat reaksi Zeya yang sedikit emosi.
"Zeya, mungkin itu perasaan kamu saja. Albirru selalu mencari dan mengingat kamu." Umi berusaha tetap membujuk Zeya.
"Sudahlah, Umi. Tak ada gunanya menyesali, semua telah terjadi. Dan tak akan bisa diulang lagi. Aku juga telah menemukan cinta dan kebahagiaan bersama suamiku saat ini. Ia yang bisa menerima semua kekuranganku. Azril selalu saja memberi tanpa pernah meminta balasannya."
"Umi senang mendengarnya, jika kamu memang telah bahagia."
"Abi dan Umi ingin melihat cucu kami, apa boleh?" ucap Abi.
"Abi, Umi ... aku tak melarang jika kalian ingin bertemu. Tapi karena saat ini aku telah bersuami, seperti yang Abi pernah katakan ... aku harus meminta izin suamiku untuk setiap yang aku lakukan."
"Zeya, mereka cucu kami. Kenapa harus minta izin Azril jika ingin bertemu," ucap Umi.
"Umi, disini ada pria yang bukan mahramku lagi. Aku ingin belajar menjadi istri yang baik."
"Zeya, di dalam agama islam, pernikahan siri itu juga sah. Jadi anak kamu itu hak walinya ada pada Albirru. Kamu tak bisa memungkirinya," ujar Abi.
"Abi, hak wali nikah memang ada pada mas Al. Aku tidak memungkiri jika ayah biologis anak-anakku adalah mas Albirru. Tapi secara hukum, mas Albirru tak ada hak atas Raja dan Ratu. Kami hanya menikah secara siri dan menurut hukum itu tidak sah."
"Sekarang aku mau tanya, sebenarnya mau mas apa? Aku telah mengizinkan mas bertemu. Apa lagi yang kurang?"
"Zeya, tak baik berkata keras. Semua harus diselesaikan secara baik-baik."
"Umi, cobalah mengerti aku. Umi dan Zahra juga wanita, bagaimana jika berada diposisiku. Apakah akan bisa kuat dan bertahan."
Azril pulang setelah mendapat pesan dari Zeya. Sesaat sebelum menemui mereka Zeya terlebih dahulu mengirim pesan.
"Selamat siang ...." Azril memberi salam pada tamunya Zeya.
"Selamat siang," ucap Albirru dan Zahra serempak.
"Selamat siang, sayang." Azril mengecup pipi Zeya.
"Di mana Raja dan Ratu."
"Di dalam bermain dengan Mira. Mas Albirru, Abi dan Umi ingin bertemu mereka."
__ADS_1
"Sebentar ya. Aku bawa ...." ucap Azril. Ia berjalan menuju kemar di mana Raja dan Ratu bermain.
Azril keluar kamar dengan menggendong kedua bocah yang tampak sangat gembira berada dalam pelukan daddy nya.
Azril menyerahkan Raja kepangkuan Zeya. Dan ia duduk dihadapan Albirru dan kedua orang tuanya dengan Ratu dalam gendongannya.
"Apakah ini kedua anakmu dengan Albirru," ujar Umi. Tampak air mata mengalir dari sudit matanya.
"Ya, Umi," ucap Zeya.
"Apakah Umi boleh menggendongnya."
"Tentu saja," ucap Zeya dan memberikan Raja. Umi menggendong Raja, tapi baru sesaat bocah itu menangis.
"Sayang, ini nenek. Kenapa menangis." Umi berdiri dan membujuk Raja agar diam. Tapi anak laki-laki Zeya dan Albirru itu semakin menangis dengan kerasnya.
Albirru juga mengambil Ratu dari gendongan Azril. Sama seperti Raja, gadis cilik itu juga menangis dalam gendongannya.
Cukup lama Albirru, Umi bahkan Abi mencoba membujuk. Akhirnya Zeya dan Azril mengambil kembali Raja dan Ratu.
Dua jam Abi dan Umi juga Albirru mencoba mendekatinya. Dibantu Zeya dan Azril akhirnya Raja dan Ratu sedikit mau bermain dengan mereka.
"Zeya, Abi dan Umi mohon pamit. Abi berterima kasih karena kamu mengizinkan kami bermain dengan Raja dan Ratu. Kamu jangan takut, Abi bisa pastikan Albirru tidak akan melupakan kewajibannya. Raja dan Ratu adalah tanggung jawab ayahnya," ucap Abi.
"Nggak perlu, Abi. Insya Allah aku mampu biayai Raja dan Ratu," gumam Zeya.
"Itu adalah kewajiban Albirru untuk menafkahi Raja dan Ratu. Abi tak akan tinggal diam jika ia lalai."
"Terima kasih, Abi."
Mereka semua pamit. Abi memberikan amplop pada Raja dan Ratu sebelum pergi. Albirru juga memberikan amplop pada Zeya.
Zeya awalnya menolak, tapi Abi memohon agar ia menerimanya. Karena itu adalah kewajiban Albirru terhadap putra putrinya.
Bersambung
*******************
Terima kasih buat semua pencinta novel ini. Tetap setia ya menunggu kelanjutannya. ❤❤❤❤💜💜💜💜
__ADS_1