
Albirru masuk ke rumah Azril setelah dipersilakan bibi. Ia langsung menuju ruang keluarga, dimana masih banyak pelayat dan tetangga yang berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa.
Keluarga serta kerabat banyak yang membicarakan tentang Shinta. Mereka baru tau jika Reno telah menikah lagi. Selama ini Mami selalu menutupi keburukan suaminya itu.
Raja langsung berlari menuju Azril dan memeluknya. Ia mengecup kedua pipi Adiknya itu. Raja dan Ratu memang sangat menyayangi Azril.
"Raja kangen Daddy," gumamnya dan duduk dipangkuan Azril.
"Daddy juga kangen kamu. Maafkan seharian ini Daddy mengacuhkan kamu."
"Tidak apa, Dad."
"Bagaimana di rumah ayah. Asyik, kan?"
"Aku mau dekat Daddy dan Bunda saja."
Albirru mendekati Azril dan duduk disampingnya. Tak lama Zeya muncul dengan membawa dua gelas teh hangat buat Albirru dan Thalita.
"Silakan minum ...."
"Terima kasih, Mbak. Merepotkan aja."
"Cuma air aja."
"Ratunya mana, Mbak?" tanya Thalita karena tak melihat Ratu.
"Baru aja tidur."
"Cepat tidurnya."
"Tadi tanyain Raja terus. Mas Azril akhirnya menidurkan Ratu cepat."
"Raja dan Ratu belum pernah pisah," ucap Thalita lagi.
"Baru kali ini mereka pisah. Raja dan Ratu biasanya tidak akan mau pergi jika nggak bersama."
"Bunda, nenek ngajak aku nginap," ucap Raja.
__ADS_1
"Oh, ya. Kenapa Raja tak nginap aja tadi."
"Aku tak mau. Nenek tanya, apakah Daddy yang melarang aku menginap," ucap Raja membuat Albirru dan Thalita kaget.
Albirru lalu memandangi Azril dan Zeya bergantian.
"Umi hanya bertanya karena Raja tak mau di ajak nginap," ucap Albirru sedikit gugup.
"Aku tak pernah melarang Raja menginap. Aku pernah katakan, jika Raja dan Ratu itu tidak bisa tidur tanpa aku," ucap Azril lirih.
"Aku tau, Azril. Aku sudah katakan pada orang tuaku. Tadi itu Umi hanya sekadar bertanya, hanya untuk bumbu obrolan."
"Kami mungkin hanya sampai peringatan tiga hari meninggalnya papi di sini Setelah itu akan kembali ke Jakarta. Jika kamu masih ingin bermain dengan Raja dan Ratu bisa kembali datang besok. Bawa juga Abi dan Umi. Jangan. nanti aku dikatakan menutupi akses kamu bertemu Raja dan Ratu."
"Baiklah, besok sore aku akan datang bersama Abi dan Umi."
"Daddy aku ngantuk, mau tidur," ucap Raka.
"Kamu tidur aja di paha Daddy. Nanti di gendong ke kamar."
"Cewek, Mbak. Moga aja nanti sepintar kakaknya Ratu."
"Kamu bisa aja, Ratu itu anaknya agak pemalu dan pemilih. Ia sulit akrab dengan orang baru. Makanya tadi nggak mau ikut Raja. Bukan karena ada larangan dari Mbak atau Mas Azril."
"Semua anak kecil jika belum terbiasa memang begitu, Mbak. Mungkin takut orang itu akan berbuat jahat."
"Azril, mungkin Raja mau tidur denganmu. Aku pamit dulu."
"Baiklah. Terima kasih karena telah menjaga Raja tadi."
"Nggak perlu terima kasih. Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu mengizinkan aku bermain dengan Raja seharian."
Azril mengantar Albirru dan Thalita hingga masuk ke mobil. Setelah mobilny menghilang barulah ia masuk ke kamar untuk menidurkan Raja.
..............
Dalam perjalanan menuju rumahnya Thalita tampak termenung. Albirru yang memperhatikan itu bertanya.
__ADS_1
"Kamu mikirin apa?"
"Mbak Zeya tampak sangat bahagia banget ya, Mas dengan pernikahannya bersama mas Azril dan memiliki dua orang anak yang lucu ditambah kehamilannya saat ini."
"Apakah kamu tidak bahagia menikah denganku?" tanya Albirru
"Entahlah, Mas. Aku bukannya tidak bahagia dengan pernikahan ini. Tapi aku juga hanya manusia biasa, yang tak akan pernah merasa puas."
"Maksud kamu, apa?"
"Pasti akan lebih bahagia jika kita menjadi satu-satunya wanita dalam kehidupan suami. Bukannya aku menentang poligami, tapi tak akan ada rasa adil dan kepuasan dalam berpoligami."
"Kenapa kamu mau menjadi istri keduaku."
"Udah berapa kali ini Mas tanyakan, dan aku akan selalu memberikan jawaban yang sama. Aku ini hanyalah seorang anak yang mencoba berbakti pada kedua orang tuaku. Saat kedua orang tuaku meminta aku menikah dengan Mas, apakah ada pilihan selain menerima."
"Kenapa orang tuamu mau menikahkan kamu denganku. Apakah hanya karena permintaan Zahra. Kamu tak pernah memberikan jawaban atas pertanyaan aku ini."
"Atas permintaan Umi dan Abinya Mbak Zahra. Orang tuaku yakin dengan pilihan mereka karena tak mungkin ia akan memilih pria yang salah. Abi dan Uminya memikih aku karena takut jika Mas menikah dengan wanita yang tak dikenal dekat, akan membuat Mas jauh dari Mbak Zahra. Yang paling ditakutkan nanti Mas jadi melupakan Mbak Zahra. Umi dan Abinya tau jika Mbak Zahra sangat mencintai Mas."
"Jadi kamu tidak mencintai, Mas."
"Dosa jika seorang istri tak mencintai suaminya. Setelah pernikahan kita aku berusaha menerima dan mencintai Mas. Tapi untuk berbagi cinta, terus terang hingga saat ini aku belum terbiasa. Jika Mas bersama Mbak Zahra, aku akan merasa cemburu. Aku takut nanti Mas akan meninggalkan aku, karena kehadiranku hanya untuk pelengkap saja. Untuk mendapat keturunan. Tak ada cinta buatku hati, Mas. Apa lagi sejak aku melihat sendiri bagaimana tatapan Mas pada Mbak Zeya. Masih banyak cinta di mata Mas untuknya. Aku ingin juga suatu hari mendapatkan cinta itu."
Albirru hanya diam mendengar ucapan Thalita, tak tau harus menjawab apa karena yang dikatakan Thalita ada benarnya. Sampai detik ini Zeya masih menempati hatinya.
Bersambung
*****************
Terima kasih untuk tetap setia menantikan kelanjutan novel ini. ❤❤❤❤❤
Mama juga ingin kenalkan novel teman Mama, jangan lupa mampir.
__ADS_1