
Maaf, jika aku tak salah dengar mas mengatakan anak mbak Zeya dua orang?" ucap Zahra.
"Ya, anaknya Zeya dua orang." Azril berkata lantang. Zeya tak bisa lagi berkata, ia masih menangis dalam pelukan Azril.
"Maksudmu anakku dan Zeya kembar," cicit Albirru.
Tampak wajah Albirru sangat terkejut menerima kenyataan yang di dengar saat ini. Tangannya meremas kain sofa yang ia duduki.
"Kenapa kamu kejam memisahkan aku dan buah hatiku, Zeya."
"Aku ini juga manusia biasa, mas. Aku mengaku semua yang kulakukan karena aku yang marah dan dendam padamu. Aku yang terlalu berharap kamu akan memberikan kebahagiaan yang telah lama hilang dari hidupku ternyata hanya memberikan luka. Kamu seolah mengangkatku dari kubangan lumpur dan membuangnya ke dasar jurang. Apakah harapanku yang terlalu tinggi dan ketika mendapatkan kenyataan tak seindah yang aku bayangkan, hatiku menjadi hancur berkeping-keping."
"Sayang, udah. Jangan menagis lagi." Azril menghapus air mata Zeya. "Sekarang apa maumu, setelah tau jika kamu memiliki anak dari Zeya."
"Aku hanya ingin menjadi wali untuk anakku."
"Wali apa yang kamu inginkan," ucap Azril lantang.
"Aku juga ingin mendapatkan hak asuhnya."
"Apa kamu telah berpikir sebelum bicara."
"Maksud kamu, apa?" ucap Albirru.
"Dengarkan baik-baik Albirru ...Status anak yang dilahirkan dari pernikahan siri tidak dapat disebut sebagai anak dalam pernikahan yang sah secara hukum. Hal ini sesuai dengan pasal 43 ayat (1) yang menyebutkan “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya."
"Apa maksud kamu." Albirru tampak mulai emosi melihat Azril yang juga emosi.
"Di dalam negara kamu tak ada hak apa-apa atas kedua anakmu. Yang memiliki hubungan hanya ibunya saja. Jika secara agama memang kamu adalah wali nikahnya Ratu. Dan itu masih lama. Aku dan Zeya tak akan lupakan itu!"
"Aku ingin tau, apa kamu dan Zeya telah lama berhubungan. Apa kamu salah satu penyebab Zeya menggugat cerai."
Tanpa di duga Azril bangun dan langsung melayangkan bogem mentah ke wajah Albirru.
"Mas ...." ucap Zeya memeluk tubuh Azril agar ia tak meneruskan perkelahian.
"Mas, aku mohon jangan main hakim sendiri."
Ratu terbangun dan langsung menangis kejang seolah tau ayah dan daddy nya sedang adu jotos.
Azril mengusap wajahnya kasar, tersadar dari emosinya. Albirru tak menghiraukan rahang pipinya yang membiru, mendekati Ratu dan menggendongnya.
Albirru memeluk erat Ratu. Tapi gadis cilik itu tak juga menghentikan tangisnya, suaranya makin terdengar keras.
__ADS_1
"Ratu saja tak mau denganmu. Bagaimana mungkin kamu terpikir untuk meminta hak asuhnya."
Azril mengambil Ratu dari tangan Albirru dan menimangnya hingga ia kembali tertidur. Melihat itu semua tampak wajah Albirru yang sedih.
"Aku hanya ingin dapat menjaga dan mengasuhnya. Apakah salah permintaan aku sebagai ayah kandungnya."
"Salah, kamu hanya ada hak sebagai wali nikah Ratu. Tidak untuk yang lainnya."
"Kenapa kamu yang menentukan semuanya. Ratu itu anakku dan Zeya." Albirru kembali tampak emosi.
"Sudah mas, jangan bertengkar lagi. Tak akan selesai jika semua saling merasa benar. Ratu dan Raja adalah anakku menurut hukum negara. Jika mas ingin bertemu, bisa menghubungi mas Azril."
"Kenapa harus menghubungi Azril?"
"Mas Azril adalah suamiku. Apapun yang aku lakukan harus atas izin darinya. Mas sudah bukan mahramku. Jadi tak boleh aku berhubungan tanpa mas Azril."
"Apakah kalian sudah saling mengenal sebelum kita cerai." Albirru kembali melontarkan pertanyaan itu.
"Aku memang dekat dengan mas Azril sejak kita belum bercerai. Tapi keinginan untuk berpisah dari mas udah ada sejak aku memutuskan pergi dari rumah. Bukan karena aku ada hubungan dengan mas Azril. Kamu yang telah banyak menorehkan luka dan mas Azril datang sebagai pengobatnya. Apakah salah jika aku mencintainya?"
"Mas, sebaiknya kita bicarakan ini dengan kepala dingin Saat ini baik mas Al, mbak Zeya dan mas Azril sedang emosi. Jadi sebaiknya kita tunda omongan ini."
"Aku ingin melihat Raja." lirih Albirru.
Zeya menghubungi Mira dan meminta membawa Raja ke ruang kerja.
Mira membawa Raja kehadapan mereka. Setelah itu ia pamit.
"Raja, itu ayah." Zeya menunjuk Albirru.
Albirru dan Zahra menjadi melongo begitu melihat Raja yang wajahnya menyalin dari ayah kandungnya itu.
"Raja, wajahnya mirip banget, dengan mas." gumam Zahra.
"Boleh aku menggendongnya," ucal Albirru.
Zeya memberikan Raja pada Albirru. Tapi baru saja berada digendongan, putranya itu langsung menangis.
Albirru dan Zahra telah berusaha membujuk, tapi Raja tetap menangis. Zeya akhirnya mengambil Raja kembali dari gendongan Albirru.
Azril dan Albirru sepakat jika ia bisa menemui Raja dan Ratu dua kali seminggu. Dengan syarat ia harus menghubungi Azril jika akan menemui mereka.
Setelah itu Albirru dan istrinya Zahra. pamit. Azril dan Zeya melihat ke taman. Tampak tamu undangan sudah sepi, Mereka berdua memutuskan untuk masuk ke kamar. Dan. meminta bantuan Mira untuk menjaga si kembar.
__ADS_1
Zeya mengganti pakaiannya. Azril yang awalnya ingin duduk sambil menonton, mendekati istrinya itu.
Dipeluknya tubuh Zeya dari belakang dan dibukanya hijab yang menutupi rambut indah Zeya. Azril mengecup tengkuk istrinya.
"Mas, geli ah."
"Mau mandi ya."
"Iya, mas."
"Mas mandiin ya."
"Emang aku Ratu yang harus dimandikan."
"Kamu Itu ratu dihatiku, sayang."
Azril langsung saja mengangkat tubuh Zeya dan membawanya masuk ke kamar mandi.
Setengah jam lebih mereka berdua di kamar mandi. Azril meminta Zeya duduk di depan cermin. Ia lalu mengeringkan rambut istrinya yang basah.
"Mas, apa benar Raja dan Ratu tidak bisa diambil hak asuhnya sama keluarga mas Albirru," gumam Zeya.
"Tak akan bisa. Kamu dan Albirru hanya nikah siri. Dan jangan takut, aku akan melakukan apapun itu jika ia menempuh jalur hukum."
Zeya memeluk pinggang Azril yang berdiri disampingnya, menenggelamkan kepalanya di perut pria itu.
"Mas, terima kasih karena telah hadir di dalam hidupku. Dan terima kasih juga karena telah mencintaiku, juga Raja dan Ratu. Mas apa aku boleh tau alasan kamu memilih aku menjadi istrimu?" Azril mengecup kepala istri yang sangat ia cintai.
"Zeya, aku mencintai kamu lebih dari yang kamu tau. Aku pernah menunggu, tak perlu kukatakan berapa lama, nanti kau terkejut. Aku menghabiskan waktu merayu Tuhan atas keinginan yang tak mampu kupenuhi sendiri. Kurasa tidak akan cukup jika hanya menjadikan cinta sebagai alasan. Ya, cinta memang terkadang hanya serupa omong kosong. Cinta tidak butuh alasan, karena cinta bukan sebuah alasan."
Bersambung
***********************
Teriama kasih.... 😍😍😍😍😍😍
Hari ini mama mau kenalkan novel teman mama dengan tema yang sama Berbagi Cinta.
__ADS_1