
Aku belajar 'setia' dari orang-orang yang mengkhianatiku. Aku belajar 'bertahan' dari orang yang memberiku ketidakpastian.”
Albirru, Zahra dan kedua orang tuanya Albirru berjalan memasuki restoran tempat dimana Zeya berjanji akan menemuinya.
Dari kejauhan Albirru sudah melihat Zeya yang duduk menunggunya. Albirru mempercepat langkahnya.
Zahra dan kedua orang tuanya di tinggalkan saja. Albirru makin mempercepat langkah kakinya.
Begitu sampai dihadapan Zeya, Albirru langsung memeluk tubuh wanita yang masih berstatus istrinya itu.
"Sayang, kamu kemana aja. Maafkan mas ya."
Albirru masih memeluk erat tubuh Zeya, tampak air mata menetes dari sudut matanya.
"Hhhhmmmm ...." dehem Abi. Albirru melepaskan pelukannya mendengar deheman Abinya.
"Assalamualaikum Abi, Umi, Zahra," ucap Zeya
"Waalaikumsalam, mbak. Apa kabar mbak Zeya."
"Seperti yang kamu lihat, aku baik2 saja."
"Syukurlah, mbak."
"Mas, kenapa masih berdiri. Duduklah," ucap Zeya melihat Albirru yang masih berdiri di samping kursinya.
Albirru menarik kursi yang berada di sebelah Zeya dan duduk menghadap wanita itu. Zeya menjadi risih karena ia melihat Zahra yang terus memandang ke arah Albirru.
__ADS_1
"Kita makan dulu ya. Ada yang ingin aku katakan." Zeya meminta pelayan restoran menghidangkan makanan yang ia pesan.
"Silakan makan Abi, Umi, Zahra. Mas mau makan dengan apa?" Zeya mengambilkan nasi dan lauk yang dikatakan Albirru.
Mereka makan dalam diam. Hanya Albirru saja yang tampak terus memandangi wajah Zeya. Matanya selalu tertuju ke wajah Zeya.
"Mas, makanlah. Jangan mandangi aku terus," gumam Zeya.
"Mas kangen banget," lirih Albirru. Zeya hanya menjawab ucapan Albirru dengan senyumnya.
Setelah setengah jam akhirnya semua selesai menyantap hidangan yang ada di meja. Zeya meminta pelayan membersihkannya.
Zeya tersenyum pada Albirru dan Zahra, ia menarik nafasnya.
"Mas, aku minta maaf karena telah pergi dari rumah tanpa izinmu."
"Mungkin kita memang sama-sama bersalah. Dan aku mungkin yang terlalu egois mengambil keputusan tanpa bicara terlebih dahulu."
"Mas sudah memaafkan semuanya. Kita lupakan aja apa yang pernah terjadi. Kita mulai dari awal. Mas janji akan berusaha adil."
"Mas, janji itu tidak akan bisa terwujud jika kita tak berusaha melakukannya," ujar Zeya.
"Maksud kamu apa Zeya."
"Abi dan Umi, seminggu yang lalu Umi bertanya ama alasan aku pergi dari rumah. Aku janji akan mengatakannya dihadapan Mas Albirru dan Zahra. Kali ini akan aku katakan alasannya." Zeya menghentikan ucapannya dan kembali menarik nafasnya.
"Maaf mas, Zahra ... jika perkataanku akan menyakiti hati kalian berdua. Terus terang aku pergi dari rumah karena aku merasa tidak ada keadilan dalam rumah tangga kita. Saat pertama kali aku tau kamu telah menikah lagi, aku pernah minta cerai. Tapi mas tak mau, mas berkata akan berlaku adil. Dan aku menerimanya, itu karena aku mencintaimu dan juga sebagai bukti baktiku pada suami."
__ADS_1
"Zeya, maafkan mas. Mas janji akan adil dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Mas lebih sering di rumah Zahra karena saat itu ia sedang hamil."
"Aku sudah berusaha memahaminya mas. Aku mengerti. Dan aku coba menerimanya. Tapi aku rasa mas sudah keterlaluan, mas hanya pulang untuk sekadar melihatku saja dan kembali ke rumah Zahra. Aku juga punya perasaan mas. Aku juga punya rasa cemburu. Aku merasa mas sudah tak membutuhkan aku lagi, jadi buat apa aku bertahan. Cinta itu berarti memberi dan menerima. Tapi semenjak kehadiran Zahra, aku hanya memberi tanpa menerima balasan cinta darimu. Apa karena aku tidak mengandung anakmu sehingga mas mengabaikan aku. Sekarang aku tanya pada Umi dan Abi, salah ini yang namanya keadilan. Bukankah Abi pernah berkata, cobalah tiga bulan sejak mas Albirru memutuskan poligami, jika ia tak adil. Ia bisa melepaskan salah satu diantara kami. Dan aku yang memilih mundur, karena aku sudah tak sanggup." Akhirnya air mata Zeya sudah tak bisa ia bendung lagi.
"Maafkan aku, mbak. Aku tak bermaksud ingin menguasai mas Albirru. Aku sadar semua itu kesalahan dariku. Aku yang terlalu manja saat hamil. Entah kenapa aku selalu ingin di dekat mas Albirru saja. Jadi semua ini salahku, bukan salahnya mas Albirru. Jika memang ada yang harus pergi, itu aku. Bukan mbak." Zahra berkata sambil menangis.
"Tidak ada yang harus pergi, kamu ataupun Zeya. Semua ini memang salah mas. Mas yang belum bisa berlaku adil. Tapi mas akan berusaha semampunya akan merubah semua itu."
"Mas, kaca yang telah pecah tak akan bisa kembali utuh walau telah di satukan kembali dengan lem. Pecahan kaca itu akan tetap terlihat retak walaupun aku seribu kali menyatukan dan menambalnya."
"Kalau memang kepergian kamu karena merasa Albirru tidak adil, kenapa kamu tak mengatakan langsung. Berarti itu memang salahmu, Albirru. Tapi caramu juga salah Zeya, karena kabur dari rumah. Abi sudah katakan, tidak akan mudah berbuat adil. Tidak ada manusia itu yang bisa adil," ujar Abi.
"Aku memang salah, Abi," gumam Albirru.
"Terus apa yang kamu inginkan, Zeya," ujar Umi.
"Aku ingin mas Albirru menjatuhkan talak padaku," ucap Zeya.
Albirru yang sedang memegang gelas kaget. Sehingga gelas ditangannya terjatuh.
Bersambung.
****************
Selamat pagi semuanya. Kali ini mama akan mengenalkan novel my besties. Sambil menunggu novel ini update kalian bisa mampir. Tak kalah menariknya.
__ADS_1