
(Kekecewaan memberikan pelajaran kepada kita untuk bisa melihat sisi lain yang lebih baik sehingga tidak perlu terlarut dalam kekecewaan yang semakin mendalam).
Azril menarik nafasnya dalam. Zeya yang duduk di samping suaminya itu mencoba memberikan kekuatan dengan menggenggam tangannya.
"Siapa yang mengabari mami tentang keadaan papi."
"Teman dekatnya. Ia mengatakan papi dalam keadaan kritis."
"Aku tak sudi bertemu gundiknya itu."
"Mami mengerti, Azril. Kecewa yang mami rasakan hingga saat ini juga masih terasa. Tapi mami berusaha menepisnya. Mungkin ini mang saatnya mami mengikhlaskan semua yang terjadi."
"Kapan mami akan berangkat."
"Besok ...."
"Baiklah, terserah mami saja."
"Kamu nggak mau ikut sekalian."
"Aku belum siap memaafkan kesalahannya."
"Baiklah, jika itu memang keputusan kamu. Mami tak bisa memaksa."
"Aku mau tidur. Raja dan Ratu sepertinya udah mengantuk."
"Sini peluk dan cium Oma dulu sebelum tidur," ucap mami pada Raja dan Ratu.
Azril membawa Raja dan Ratu ke kamar. Setelah meminta mereka menggosok giginya, Azril menidurkan mereka di ranjang masing-masing.
"Selamat malam Raja dan Ratuku. Tidur nyenyak dan mimpi indah," ucap Azril sebelum meninggalkan kamar. Anak-anak emang terbiasa Azril menidurkan. Pernah Zeya yang melakukan itu, mereka menolak. Raja dan Ratu lebih dekat dengan daddy mereka.
"Selamat malam, Daddy," ucap mereka serempak.
Azril menutup pintu kamar, sebelumnya ia memanggil pengasuh mereka untuk menemani Raja dan Ratu.
Ia membuka pintu kamar dan melihat Zeya yang berbaring di sofa sambil menonton televisi.
"Raja dan Ratu udah tidur, Mas."
"Sudah, Sayang," ucap Azril. Ia duduk di sofa dan meletakkan kepala Zeya di paha.
__ADS_1
"Aku iri banget melihat keakraban anak-anak dengan Mas."
"Kenapa harus iri, Sayang."
"Kenapa mereka begitu menyayangi, Mas. Padahal aku juga bundanya. Tapi setiap aku yang ingin mengantar mereka tidur, pasti menolak. Maunya sama Mas terus. Padahal mereka dalam kandungan aku selama sembilan bulan, seharusnya mereka lebih dekat denganku."
Azril mengusap rambut istrinya. Zeya memang selalu membiarkan rambut panjangnya tergerak jika berada di kamar. Walaupun ia menggunakan hijab jika keluar rumah, tapi rambutnya tetap dirawat, sehingga tampak indah.
"Kamu tak perlu iri, Raja dan Ratu pasti mencintaimu juga. Di hati mereka pasti namamu yang terukir."
Zeya bangun dari tidurnya dan duduk menghadap suaminya.
"Mas ...."
"Iya, kenapa?"
"Mas yakin tidak akan ikut mami besok ke Pekanbaru."
"Kenapa kamu masih tanyakan itu?"
"Aku takut nanti Mas menyesal."
"Seperti kata mami, kita tidak mengharapkan hal buruk terjadi pada papi. Tapi jika itu benar terjadi, Mas tidak akan pernah menyesal jika sempat bertemu dan saling memaafkan."
"Aku takut bertemu papi."
"Kenapa? Mas tak siap bertemu Shinta lagi."
"Kamu jangan memancingku, Sayang. Aku tak ada perasaan apa-apa lagi dengannya. Aku takut tak bisa menahan emosi jika bertemu papi. Rasa benci dan marahku pada papi bertambah sejak aku tau ia juga menginginkan kamu," gumam Azril.
Zeya naik ke atas pangkuan suaminya. Ia melingkarkan tangannya di leher Azril.
"Aku tak akan tergoda pada pria manapun. Aku telah memiliki kamu yang sempurna." Zeya menyandarkan kepalanya di bahu Azril.
"Aku tak akan memaafkan jika kamu mengkhianati aku," lirih Azril.
"Aku tak akan pernah melakukan itu. Tapi aku minta kali ini Mas mau menemui papi."
"Kamu ikut juga?"
"Aku juga belum siap bertemu papi," gumam Zeya.
__ADS_1
"Untuk itu kamu temani aku. Mungkin jika kita bersama aku jadi bisa meredam emosi, dan kamu juga tak akan takut karena ada aku disampingmu."
"Raja dan Ratu bagaimana?"
"Kita bawa juga. Tapi biar mereka di rumah mami bersama pengasuhnya. Rumah sakit tak baik buat anak-anak."
"Berarti Mas mau ikut mami jika aku juga ikut ke Pekanbaru."
"Iya, Sayang." Azril memeluk erat pinggang istrinya. Takut wanita itu terjatuh.
"Baiklah, itu mungkin lebih baik. Dan aku harap Mas memaafkan semua kesalahan papi. Tak ada gunanya menyimpan dendam. Tak akan membuat semua kembali."
"Iya, Sayang. Beruntung aku memiliki istri yang hatinya seluas samudra." Azril mengecup bibir Zeya dengan lembut. Zeya membalas mengecup bibir Azril.
"Kamu pengin," bisik Azril.
"Kenapa aku, Mas."
"Sejak kehamilanmu, Mas jadi senang. Karena kamu tak malu meminta jika pengin."
"Mas ngomong apa, sih."
"Jika setiap wanita hamil membuat dirinya jadi bertambah gairah, aku ingin kamu hamil terus."
"Mas ... emang aku apa? Masa hamil terus."
"Udah jangan malu. Jerry udah bangun dan minta masuk kesarangnya."
Azril mengangkat tubuh istrinya dan membaringkan di ranjang. Ia melecuti seluruh pakaian Zeya dan istrinya. Terjadilah apa yang seharusnya terjadi. (Bayangkan sendiri aja ya. Mama pemalu kalau buat adegan gitu 😂😂😂😂😂).
Bersambung
**********************
Jangan pernah bosan untuk menantikan kelanjutan dari novel ini. Terima kasih.
Sementara menunggu novel ini update bisa mampir ke novel mama yang lainnya. Tak kalah seru kok.
__ADS_1