Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 76. Zeya bukan lagi mahrammu


__ADS_3

Azril menggendong Zeya ke kamar dan meletakkan di atas kasur secara perlahan.


"Mas jangan marah-marah," ucap Zeya lirih.


"Kenapa, Sayang."


"Aku takut. Tak mau Mas dan mas Al bertengkar."


"Aku janji akan bicara baik-baik. Kamu tunggu di sini aja."


"Nggak mau. Nanti Mas berkelahi lagi."


Raja dan Ratu mendekati bundanya. Ia naik ke tempat tidur.


"Bunda, kenapa?" ucap Raja dengan kuatir. Ia memijat kaki bundanya.


"Bunda sedikit lelah, Raja temani bunda, ya," ucap Azril.


"Mas, aku tak mau Mas ribut. Aku ikut." Zeya duduk dari berbaringnya. "Kalau aku ada di sana, Mas dan mas Al pasti tidak akan adu jotos."


"Kamu pura-pura sakit?" ucap Azril curiga.


"Kalau aku tak pura-pura, Mas tadi pasti udah memukul mas Al."


"Kamu ini, sejak hamil ada aja tingkahnya." Azril mencubit hidung Zeya gemas.


"Kenapa Daddy cubit bunda." Raja dan Ratu tampak marah melihatnya.


"Nggak ada, Daddy cuma gemas lihat bunda."


"Sayang, kalian di sini dulu ya. Bunda dan Daddy masih perlu bicara dengan ayah Albirru."


"Ayah Albirru?" ucap Ratu dengan mulut dimajukan.


"Iya, ayah Albirru adalah ayahnya Raja dan Ratu."


"Ayahku," ucap Raja dan Ratu serempak.


"Nanti Raja dan Ratu bisa mengobrol dengan ayah. Tapi sebelum itu, Daddy dan bunda dulu yang bicara."


"Iya, bunda."


Azril menggandeng lengan Zeya keluar dari kamar.


Sementara itu Zahra tampak mengajak Albirru untuk bicara.

__ADS_1


"Mas, aku takut mbak Zeya kenapa-napa. Mas Azril pasti marah jika terjadi sesuatu dengan kandungannya."


"Maksud kamu apa."


"Mbak Zeya saat ini sedang hamil muda. Pati perutnya terasa sakit karena ketakutan melihat Mas dan suaminya tadi bertengkar."


"Zeya sedang hamil?" tanya Albirru.


"Ya, aku bertemu dengannya saat berobat ke dokter Zulaida."


"Tapi aku tak ada berbuat apa-apa. Azril yang aja yang emosi."


"Mas, apa kamu tak sadar jika yang memancing kemarahan Azril itu kamu."


"Aku hanya mengatakan kebenarannya. Bukankah aku yang lebih berhak atas Raja dan Ratu." Albirru bicara sedikit keras karena mulai terbawa emosi.


"Siapa yang lebih berhak, Kamu ...." ucap Azril yang baru muncul bersama Zeya.


"Mbak tak apa-apa?" ucap Zahra melihat Zeya yang datang bersama Azril.


"Nggak apa, Zahra."


Azril menarik kursi untuk Zeya duduk dan ia juga duduk dihadapan Albirru.


"Terima kasih karena kamu kuatir. Tapi Zeya masih ada suaminya. Jadi kamu tak perlu kuatir banget. Aku pasti bisa jaga Zeya. Sekarang kamu bisa langsung katakan apa maumu?"


"Aku ingin lebih dekat dengan anakku."


"Bagaimanapun itu tak mungkin, Albirru."


"Kenapa tak mungkin?"


"Karena kita tinggal dipropinsi berbeda. Dan juga terpisahkan oleh laut."


"Aku bisa datang setiap kali rindu."


"Baiklah, jika itu maumu. Tapi kamu masih harus memenuhi syaratnya."


"Kenapa harus ada syarat, aku ini ayah kandung Raja dan Ratu. Apakah kamu telah melupakan kenyataan itu."


"Aku tak akan pernah melupakan kenyataan jika kamu adalah ayah kandung mereka dan aku hanyalah ayah sambung Raja dan Ragu. Tapi kamu juga jangan lupa, aku yang ada sejak mereka masih dalam kandungan. Dan suaraku pertama kali mereka dengar. Jadi mana yang lebih berhak, AKU ATAU KAMU." Azril mengatakan semuanya dengan penekanan. Ia mencoba menahan emosi karena tangannya yang terus digenggam Zeya. Ia menarik nafasnya.


"Dan juga aku tak memberikan syarat yang memberatkan. Aku hanya ingin setiap kamu ingin bertemu Raja dan Ratu harus ada aku. Aku tak mengizinkan jika hanya ada Raja dan Ratu serta istriku Zeya."


"Aku tak keberatan. Lagi pula aku tak akan merebut Zeya dari tanganmu. Aku telah memiliki Zahra dan Thalita," gumam Albirru.

__ADS_1


"Aku tak takut kamu akan merebut Zeya. Karena aku tau seberapa besar cintanya Zeya padaku. Tapi sebagai seorang yang lebih paham agama seharusnya kamu tau, jika Zeya bukan lagi mahrammu. Kamu tak boleh bertemu tanpa izin dariku sebagai suami sah nya."


"Baiklah, aku paham," ucap Albirru dengan lirih.


"Dan satu lagi ...."


"Apa lagi, Azril. Katakan saja jika kamu sebenarnya keberatan aku bertemu Raja dan Ratu," ujar Albirru memotong ucapan Azril.


"Dengar dulu, kamu jangan potong ucapanku. Aku ingin kamu jangan memaksa jika Raja dan Ratu masih belum terbiasa denganmu. Aku akan bersama kamu agar ia perlahan bisa akrab."


"Terserah. Aku hanya ingin dapat bertemu DNA bermain dengan anak-anakku. Mereka juga harus mengenal aku sebagai ayah kandungnya."


Azril memanggil salah satu karyawan dan meminta mereka membawa Raja dan Ratu keluar.


Raja dan Ratu langsung berebut ingin dipangkuan Daddy Azrilnya.


"Satu-satu dulu ya. Gantian daddy pangkunya."


"Aku dulu, Daddy," ucap Ratu.


"Raja sama ayah aja, ya. Sini ayah pangku," uji Albirru.


"Nggak mau. Aku hanya mau sama Daddy." Raja lalu mencoba naik ke kursi. Dengan bantuan Azril ia bisa duduk.


"Sayang, ini ayah Albirru. Ayahnya Raja dan Ratu."


"Kata bu guru Daddy itu sama dengan Ayah," ucap Ratu.


"Ia, Ratuku. Sama artinya ...." ucap Azril.


"Aku tak mau ayah selain Daddy," ujar Ratu memeluk Azril erat.


"Aku juga tak mau," ucap Raja.


Mendengar ucapan kedua anaknya, tampak raut wajah kesedihan dari Albirru.


Bersambung.


*******************


Pasti Albirru sangat sedih mendengar penolakan dari Raja dan Ratu, ya. Bagaimana kisah selanjutnya. Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. Terima kasih.


Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel my besties. Masih tema berbagi cinta.


__ADS_1


__ADS_2