
Malam harinya Azril membawa Zeya dan mami menuju rumah sakit tempat papi di rawat. Sebuah rumah sakit swasta ternama di kota Pekanbaru. Azril sendiri yang menyetir mobilnya.
Sampai di rumah sakit, Mami bertanya pada resepsionis kamar tempat papi di rawat. Setelah mendapatkannya, mereka bertiga menuju ke kamar tersebut.
Mami mengetuk pintu kamar beberapa kali, karena tidak juga mendapat sahutan, mami perlahan membuka pintunya.
Tampak papi terbaring lemah sendirian, dengan selang infus dan oksigen. Tak ada yang menemaninya.
"Selamat malam, papi," ucap mami. Papi yang mendengar suara orang memanggil membuka matanya perlahan. Ia mencoba tersenyum melihat istri, anak dan menantunya.
Zeya yang berada di samping Azril memeluk lengan suaminya itu. Tampak Zeya masih ketakutan bertemu om Reno.
"Papi sendirian, tak ada yang menemani."
"Shinta lagi keluar, beli makanan," jawab papi lemah. Azril hanya memandangi papi dari tempatnya berdiri.
"Papi sakit apa. Sudah berapa lama di rawat."
"Terlalu banyak penyakit dalam tubuhku. Sudah komplikasi. Aku sudah hampir satu bulan di rawat. Aku rasa umurku sudah tak lama lagi. Aku minta maaf selama ini sudah menyakiti kamu ...." ucap papi dengan terbata.
"Semua salah papi sudah aku maafkan."
"Azril ...." panggil papi pelan. Azril tak juga bergerak dari tempatnya.
"Papi senang kamu mau menjenguk papi. Maafkan semua yang pernah papi lakukan."
"Tak ada gunanya lagi kata maaf itu," gumam Azril.
"Papi tau, pasti sulit bagimu untuk dapat memaafkan papi."
"Apa sekarang papi sudah menyadari kesalahan papi. Setelah tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk menebusnya."
"Apa yang harus papi lakukan agar kamu mau memaafkan papi."
__ADS_1
"Tidak ada. Karena semua telah terjadi. Tidak akan bisa kembali. Lagi pula aku telah melupakan semua masa lalu. Saat ini aku hanya ingin berjalan ke depan bersama anak-anak dan pastinya istriku."
"Papi hanya dapat mendoakan kamu bahagia bersama keluargamu."
"Terima kasih doanya. Apa papi tidak ada niat meminta maaf pada istriku."
Reno memandang ke arah Azril. Zeya yang dipandangi agak menyembunyikan wajahnya di punggung Azril.
"Maafkan semua salahku."
"Aku juga minta maaf, om," gumam Zeya.
Mami mengambil kursi dan duduk di samping papi. Entah apa yang mereka obrolkan.
Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan di pintu. Zeya berdiri membuka pintu. Tampak berdiri seorang wanita depan pintu.
Wanita itu masuk tanpa pedulikan Zeya. Ketika melihat Azril, ia langsung memeluknya.
Azril mendorong tubuh wanita yang memeluknya.
"Apa kamu sudah tak punya rasa malu lagi," ujar Azril.
"Kenapa, Azril?"
"Di dalam kamar ini,suami kamu sedang terbaring sakit. Kenapa aku kamu peluk, kamu tidak malu dengannya."
"Azril, aku hanya butuh tempat bersandar dan mengadu. Satu bulan aku menemani papi kamu terbaring, tak ada tempat aku untuk berbagi. Apa salah aku memelukmu hanya untuk membagi rasa sedihku."
"Salah banget. Di sini ada suami kamu dan istriku. Dan kamu juga apa tak punya rasa bersalah, di dalam kamar ini juga ada mamiku, wanita yang suaminya telah kamu rebut."
"Azril, tante ... maafkan aku dan juga om Reno. Aku tak bermaksud membuat tante dan Azril terluka. Semua ini sudah menjadi takdir. Aku hanya menjalaninya saja."
"Takdir yang kamu buat sendiri."
__ADS_1
"Azril, jodoh maut dan rezeki semua itu telah diatur Tuhan."
"Jangan bawa-bawa Tuhan atas dosa yang kamu dan papi lakukan." Azril tampak mulai emosi.
Zeya langsung mendekati Azril dan menggenggam tangan suaminya.
"Azril, jika aku ini dikatakan pendosa karena telah bercinta dengan papimu, apa sebutan buat istrimu yang jelas-jelas mantan wanita penghibur."
Mendengar ucapan Shinta, tangan Azril langsung terkepal. Ia berdiri dan ingin melayangkan tamparan ke wajah wanita itu. Tapi tangannya ditahan Zeya.
"Udah, Mas. Jangan terbawa emosi. Aku udah terbiasa mendengar ucapan orang-orang tentangku. Karena aku ini memang seorang pendosa. Tapi perlu kamu ingat, walaupun aku pendosa, aku tak pernah dengan sengaja merebut suami orang. Jikapun aku melayani pria beristri, mereka yang datang mencariku."
"Apa bedanya, sama-sama melayani suami orang,"gumam Shinta.
"Jaga mulutmu jika tak ingin aku melakukan hal yang buruk." Zeya menahan Azril yang ingin maju.
"Shinta, jika mami bisa kamu sakiti. Tidak denganku. Apapun akan aku lakukan untuk mempertahankan suami dan rumah tanggaku. Jangan harap kamu bisa mendekati Azril. Dan aku harap kamu masih punya sedikit rasa malu. Azril ini anak tirimu. Dan di sini ada suamimu yang sedang terbaring. Kamu seharusnya menjaga perasaannya." Zeya memeluk Azril erat.
"Lebih baik seorang mantan pendosa yang menyadari kesalahannya dan insaf dari pada seorang wanita yang merasa suci tapi dengan teganya menyakiti hati wanita lain. Apakah itu bukan dosa." Mami akhirnya bersuara. Ia berdiri menghadap Shinta.
"Dengarkan ini baik-baik, Surga dan neraka, keduanya diciptakan untuk orang-orang yang berbuat dosa. Surga diciptakan untuk para pendosa yang bertaubat, sementara Neraka diciptakan untuk para pendosa yang enggan bertaubat dari maksiat.( Syaikh Taufique Chaudry). Aku harap kamu cepat sadar dan insaf dari semua salahmu. Lebih hina wanita yang sengaja menjual tubuhnya untuk menjerat pria beristri dari pada wanita yang menjual dirinya sebagai wanita penghibur untuk sekedar menyambung hidup."
Mami lalu mendekati Zeya, menantu yang disayangi itu. Ia memeluk bahu Zeya memberikan kekuatan.
Bersambung
*********************
Terima kasih untuk dukungan dari semua pembaca. Lope U sekebon deh ❤❤❤❤💜💜💜💜
Sementara menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama dibawah ini.
__ADS_1