Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 92. Aku anak Daddy


__ADS_3

"Bunda, aku tak mau mirip ayah Albirru. Aku mau mirip Daddy. Aku anak Daddy, kan?"


Mendengar ucapan Raja, semua yang ada diruangan itu terdiam. Zeya memandangi wajah kedua mertuanya yang tampak sedikit berubah.


"Raja, anak laki-laki tak boleh cengeng," ujar Zeya.


"Tapi aku cuma mau jadi anak, Daddy."


"Ayah Albirru juga ayahnya Raja. Begitu juga Daddy."


"Jadi sebenarnya aku anak siapa?" ucap Raja mulai terisak lagi.


"Anak daddy dan ayah Albirru,"ucap Zeya sambil mengusap punggung Raja.


"Aku tak mau ...." Raja turun dari sofa dan berlari masuk ke kamar.


"Maaf Abi, Umi. Raja belum terbiasa bersama mas Al. Nanti aku akan beri pengertian lagi,"ujar Zeya.


"Ya, Zeya. Itu karena ia jarang bertemu ayahnya," gumam Umi.


"Maaf, aku pamit dulu. Aku akan bujuk Raja. Ratu dengan bunda dulu,ya."


"Aku ikut Daddy."


"Di sini aja dulu, kakek dan nenek masih mau bicara dengan Ratu. Daddy janji nggak akan lama."


"Baik, Daddy."


Azril pamit masuk ke kamar tamu dimana Raja tadi berlari dan sembunyi.


"Mami kira itu biasa. Yang Raja tau dari ia masih kecil ayahnya Azril. Jadi ia kaget dan syok menerima kenyataan ada dua ayahnya. Kita harus sabar dalam memberi pengertian," ucap Mami.


"Inilah yang saya takutkan saat Azril dan Zeya menutupi akses bagi Albirru menemui anaknya. Raja dan Ratu jadi tak mengenal ayah kandungnya."


"Azril melakukan itu semua juga untuk kebaikan Raja dan Ratu. Ia tidak ingin psikis anak-anaknya terganggu mendapati kenyataan jika mereka memiliki dua ayah."


"Mami, Umi ... aku rasa kita lebih baik makan dulu. Nanti kita bicarakan lagi apa yang sebaiknya dilakukan untuk Raja dan Ratu kedepannya." Zeya sengaja mengalihkan semua pembicaraan agar Umi dan mami tidak berdebat lagi.

__ADS_1


"Kamu benar, Zeya. Nanti masakan juga kevuru dingin. Mari bu, bapak, Albirru dan nak Zahra. Kita makan dulu." Mami berdiri mengajak tamunya menuju ruang makan.


Sementara itu di kamar Azril memdekati Raja yang ngambek. Ia duduk dengan tangan dilipatkan ke dada.


"Rajaku ...." ucap Azril mendekati Raja.


"Aku bukan Raja, Daddy."


"Kenapa Rajaku bicara begitu. Daddy sedih, nih."


"Kalau aku Rajanya Daddy, berarti aku anak Daddy. Tapi kenapa nenek bilang aku mirip ayah Albirru." Azril mendekati Raja dan memeluknya.


"Siapa yang bilang kamu bukan anak Daddy. Kamu itu Rajaku, anakku. Tak ada yang bisa membantah itu. Jika nenek mengatakan Raja mirip ayah itu mungkin saja. Karena ayah Albirru juga ayahnya Raja. Tapi kamu jauh lebih mirip Daddy. Lihat wajah Daddy, gantengkan. Sekarang lihat wajah Raja, ganteng juga. Bahkan jauh lebih ganteng dari Daddy."


Raja memeluk Azril dan naik kepangkuannya. Ia melingkarkan tangannya di leher Azril.


"Daddy tidak bohong,kan? Aku ini anak Daddy."


"Tentu saja. Kamu anak Daddy." Azril memeluk Raja kedekapan dadanya.


Kamu anakku Raja. Walau kamu bukan darah dagingku, bagiku kamu dan Ratu adalah segalanya. Tak akan aku biarkan setetespun air mata jatuh membasahi pipimu.


"Iya, Sayang. Sekarang kamu ikut Daddy. Kita makan. Harus banyak makan, biar cepat gede. Nanti bisa bantu Daddy kerja."


"Baik, Daddy. Aku ingin jadi seperti Daddy. Biar banyak uang dan bisa beliin bunda baju."


"Tapi kamu harus sekolah yang pintar. Jangan cengeng ...."


"Iya, Dad."


Azril menggendong Raja menuju meja makan. Di sana telah berkumpul semuanya. Azril mendudukkan Raja di kursi sampingnya.


Selama makan tak ada yang bersuara. Hanya terdengar suara sendok dan piring. Setelah makan, Mami mengajak tamunya buat duduk di ruang keluarga lagi.


"Raja dan Ratu udah sekolah," ucap Umi. Raja dan Ratu diam saja.


"Raja, Ratu ... dengar nggak apa yang nenek tanyakan?" ujar Zeya.

__ADS_1


"Iya, aku dengar bunda," ucap Ratu.


"Kalau kamu dengar, kenapa tak menjawab apa yang nenek tanya?"


"Sudah sekolah, Nek," jawab Raja dan Ratu.


"Pasti pintar di sekolah. Kapan-kapan nenek boleh kesekolahnya."


"Boleh, Nek," ucap Raja dan Ratu serempak.


"Raja dan Ratu mau nginap di rumah ayah Albirru, nggak?"


"Aku tak bisa tidur kalau tak ada Daddy," jawab Ratu.


"Raja bagaimana? Mau tidur di rumah ayah."


"Aku tak bisa tidur nyenyak kalau jauh dari Daddy."


"Maaf, Umi. Raja dan Ratu biasanya sebelum tidur harus meluk mas Azril dulu. Tak akan bisa tidur kalau tak ada mas Azril. Denganku aja mereka tak mau."


"Ratu itu anak perempuan Azril, jadi sebaiknya mulai sekarang jangan terlalu dekat dan memanjakan Ratu, " ucap abi.


"Jika Ratu udah mulai gede, aku juga tak akan tidur dengannya, Abi." Azril menjawab dengan menahan emosinya.


"Abi hanya mengingatkan. Ratu anak perempuan, dan jika udah mulai besar tak baik terlalu manja dan bergantung padamu. Dengan Raja saja tidurnya harus dipisahkan."


"Aku tau, dan akan aku usahakan agar ia tak terlalu bergantung denganku. Tapi tak ada salahnya aku memeluknya, ia telah menjadi mahramku karena aku telah menikahi ibunya. Sebelum aku memanjakan Ratu, aku telah bertanya dengan ulama. Sejak aku menikahi Zeya, maka Ratu juga menjadi mahramku."


Azril tampak sedikit emosi mendengar ucapan Abi. Zeya yang menyadari itu mengelus lengan suaminya untuk meredakan.


Jam sepuluh malam saat Raja dan Ratu telah mengantuk, Albirru dan keluarganya pamit.


Bersambung.


************************


Terima kasih buat semuanya. Ember juga ya mulutnya Abi. Pasti Azril emosi mendengar ucapan Abi. Gimana kalau kita di posisi Azril. Pasti terbawa emosi juga. Karena Ratu sudah ia anggap anak kandungnya. Dan diminta untuk menjauh.

__ADS_1


Nantikan terus kelanjutan novel ini. Lope sekebon buat semuanya ❤❤❤❤❤


__ADS_2