
Azril ke dapur dan melihat Zeya yang sedang memasak untuk sarapan mereka. Walau di rumah Azril ada yang membantunya, Zeya tetap memasak buat suami dan anak-anaknya. Sudah sering Azril melarang istrinya itu memasak, tapi ia tetap saja melakukannya.
"Sayang, kenapa masih memasak. Nanti kamu capek," bisik Azril sambil memeluk pinggang Zeya dari belakang.
"Aku senang dapat memasak buat anak dan suamiku."
"Tapi aku tak mau kamu jadi capek. Kamu itu istriku, bukan pembantu."
"Aku tak capek. Aku bahagia melihat kamu dan anak-anak malahap masakanku hingga habis."
"Sayang, nanti kita ke rumah mami. Aku mau mengatakan tentang kepindahan kita minggu depan."
"Kita pindah minggu depan?"
"Iya, sayang. Kenapa? Kamu belum siap pindah."
"Bukan belum siap. Cuma aku kepikiran toko roti bunda."
"Aku akan mencarikan tempat usaha untukmu. Yang lebih mewah dan ramai lokasinya."
"Pasti saingan di kota besar itu akan lebih berat."
"Aku akan mengenalkan toko rotimu pada setiap relasi bisnisku. Aku akan minta mereka memesan roti dari tokomu untuk konsumsi saat rapat dan acara kantor."
"Mas, aku bersyukur banget bisa mengenal dan memiliki kamu. Belum ada aku dapati kekurangan kamu. Aku yang banyak kekurangan ini terkadang merasa malu."
"Kenapa harus malu, kamu itu telah membuat hidupku berwarna. Dulu aku pikir mencintai itu hanyalah menerima aja tanpa harus memberi. Tapi sejak kehadiran kamu, aku baru tau jika kita harus memberi dan menerima agar cinta itu bisa seimbang dan sejalan. Aku senang saat tau kamu sangat berlindung padaku. Merasa dibutuhkan itu membuat egoku sebagai seorang pria sangat dihargai."
"Aku memang sangat membutuhkan perlindungan darimu. Apa lagi Raja dan Ratu. Kamu adalah segalanya bagi mereka. Aku tak tau bagaimana Raja dan Ratuku tanpa kamu."
"Aku menyayangi mereka lebih dari diri ini. Kamu harus percaya, jika aku juga tak akan bisa bahagia tanpa mereka. Aku telah terbiasa dengan kehadiran kamu di tiap hari-hariku. Mungkin aku ini egois, dan juga kejam. Aku takut jika Raja dan Ratu suatu saat lebih dekat dengan Albirru dari aku."
"Aku yakin Raja dan Ratu pasti akan menyayangi mas selamanya. Karena mas telah menemani mereka dsri dalam kandungan."
"Semoga saja , sayang. Habis sarapan kita siap-siap ke rumah mami."
"Papi nggak ke rumah mami, kan?"
__ADS_1
"Sejak pertengkaran malam itu, papi tak pernah datang lagi."
"Kalau gitu kita sarapan sekarang."
..............
Azril dan Zeya memangku anak-anaknya. Mereka saat ini telah berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju ke rumah mami.
"Mas, apakah aku harus mengatakan tentang kepindahan kita pada Albirru."
"Terserah kamu aja sayang. Aku tak ada hak melarang ataupun meminta kamu untuk memberi kabar pada Albirru."
Tak terasa telah satu jam perjalanan mereka menuju rumah mami Azril. Sejak kejadian Azril bertengkar dengan papinya Reno, hanya sekali ia mampir. Mami masih sedikit bersikap dingin saat Azril mengunjunginya.
Azril dan Zeya masuk ke rumah setelah bibi membukakan pintu.
"Mami ada, bi?" tanya Azril.
"Mami sudah tiga hari kurang sehat. Tidur aja di kamar."
"Kenapa bibi tak mengatakan pada kami," ujar Zeya kuatir.
"Aku boleh masuk, mas?"
"Tentu saja boleh. Emangnya kenapa, sayang?"
"Aku takut mami masih marah dan tak nyaman jika aku ikut masuk."
"Masuk saja, aku yakin mami tak akan marah. Terakhir aku ke sini, mami tanya Raja dan Ratu."
Azril mendorong kereta di mana Raja dan Ratu duduk. Ia membuka pintu kamar mami secara perlahan. Zeya mengikuti dari belakangnya.
Tampak mami yang sedang berbaring dengan selimut menutupi tubuhnya hingga dada.
Zeya dan Azril mendekati tempat tidur dan duduk di tepi ranjang. Zeya memegang dahi mami. Terasa hangat.
Mami membuka mata dan melihat Zeya serta Azril yang berdiri dibelakangnya. Ia melihat ke arah kereta. Tampak Raja dan Ratu yang tertawa.
__ADS_1
"Mami, badan mami panas. Apa udah minum obat," ucap Zeya pelan.
"Nggak perlu, nanti juga hilang," gumam Mami.
"Jadi mami belum berobat ke dokter?" tanya Azril dengan suara sedikit tinggi.
"Mami udah biasa begini," cicit mami.
"Mami harus minum obat. Mas panggilkan aja dokter. Sementara dokter datang, biar aku kompres mami."
Zeya berdiri dan langsung menuju dapur. Ia mengambil air hangat dan sehelai handuk kecil.
"Mami, biar aku basahi seluruh badan mami. Agar lebih segar dan suhu tubuh mami turun."
Zeya membantu mami duduk, dengan bersandar di kepala ranjang.
"Maaf mami. Aku buka baju mami ya."
Azril melihat semua yang dilakukan Zeya dari sofa tempat ia duduk. Zeya dengan telaten membersihkan tubuh mami. Dan setelah membasuh tubuh mami, Zeya memakaikan baju yang baru diambilnya dari lemari.
"Maafkan, mami," cicit mami.
"Mami tak ada salah. Kenapa harus minta maaf?"
"Seharusnya mami tak boleh menghakimi kamu. Tidak ada yang menginginkan menjadi wanita penghibur. Jika boleh memilih pasti mereka tak ingin jatuh ke lembah hitam itu. Lebih hina lagi wanita yang sengaja merebut suami orang dari wanita yang bekerja di sana untuk menyambung hidupnya, kecuali mereka bekerja hanya ingin mencari jalan pintas untuk cepat kaya."
"Mami, aku juga minta maaf karena tak jujur dari awal."
"Kamu wanita baik, mami yakin kamu tak pernah menginginkan kerja disana."
Mami menangis dan memeluk tubuh Zeya erat. Tangis Zeya pun tak bisa dibendungnya. Azril yang melihat dari tempatnya duduk juga terharu melihat istri dan maminya kembali akur.
Bersambung
*****************
Buat semua pencinta novel ini, tak ada yang bisa mama ucapkan atas semua dukungannya pada novel Noda Merah Pernikahan selain ucapan Terima kasih.Love you sekebon 😘😘😘😘
__ADS_1
Sementara menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel sahabat mama.