
Setelah mengatakan dimana ia saat ini, Zahra memandangi wajah Zeya. Ia takut Zeya marah karena mengatakan di mana ia saat ini.
"*Tolong kirim lokasi dimana kamu saat ini. Mas segera ke sana."
"Aku tanya mbak Zeya dulu Mas. Apakah ia mengizinkan mas datang. Nanti aku kirim pesan."
"Baiklah, cepat ya. Mas tunggu kabarnya."
"Iya, Mas."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Mas*."
Albirru menutup sambungan ponselnya dan ia duduk di lobi hotel itu dengan gelisah.
Semoga aku bisa bertemu Raja dan Ratu. Pasti saat ini mereka telah besar. Aku merindukan kalian, anak-anakku. Ayah tau, jika ayah salah pernah mengabaikan kamu dan bunda, tapi ayah juga menginginkan kalian menyayangi ayah seperti daddy .
Zahra memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia meremas tangannya sebelum bicara.
"Mbak Zeya, apakah boleh mas Albirru datang ke sini." Zeya berucap dengan menunduk. Ia takut Zeya marah.
"Tentu saja boleh, Zahra."
Mendengar ucapan Zeya, Zahra langsung mengangkat wajahnya memandangi Zeya dan tersenyum.
"Betul, Mbak. Apa nanti Mas Azril tak akan marah jika tau mas Albirru datang ke sini."
"Kenapa harus marah, ada kamu istrinya. Kecuali kalau mas Albirru datang sendiri."
"Baiklah, Mbak. Aku hubungi mas Albirru dulu."
Zahra mengambil ponsel dari dalam tas. Ia mengirim pesan buat Albirru.
Mas datanglah ke sini. Mbak Zeya telah mengizinkan. Ini alamatnya aku kirim ya.
__ADS_1
Setelah mengirim pesan Zahra kembali tersenyum pada Zeya.
"Mbak Zeya baik banget. Terima kasih."
"Kamu itu terlalu memuji. Biasa aja kok kalau mas Albirru ingin datang. Kapan mas Albirru sampai di Jakarta."
"Baru setengah jam. Ia langsung ke tempat aku nginap. Karena aku nggak ada, mas Albirru menghubungi."
"Syukurlah kalau akhirnya ia menyusul. Karena emang seharusnya kamu itu pergi berobat berdua dengan mas Albirru."
"Aku tak berani meminta mas Albirru ikut, saat ini Thalita sedang hamil muda," ucap Zahra terbata. Tampak ia menahan tangisnya.
Zeya yang melihat itu berpindah duduk ke samping Zahra dan memeluk wanita yang pernah menjadi madunya itu. Ia tau bagaimana sedihnya perasaan Zahra saat ini.
"Menangislah, Zahra. Jika itu bisa membuat hatimu sedikit tenang. Jangan menahannya. Karena terkadang kita perlu mengeluarkan air mata untuk melepaskan sesak dan sedih yang di rasa."
"Mbak, aku takut nggak bisa memberikan mas Albirru keturunan dan ia menceraikan aku nantinya." Tangis Zahra akhirnya pecah di pelukan Zeya.
"Jika mas Albirru mencintai kamu seharusnya ia bisa menerima semua kekurangan kamu juga. Pernikahan bukan hanya tentang keturunan."
"Seandainya mas Albirru bisa terima, apakah ke dua orang tua mas Albirru juga bisa menerimanya."
"Mbak beruntung banget saat ini dapat suami yang begitu menyayangi dan juga mertua yang begitu baik dengan Mbak."
"Mas Albirru juga sangat mencintaimu."
"Semoga cintanya mas Albirru sama besarnya dengan cintaku padanya, Mbak."
"Jika ia tak mencintaimu, tak akan menyusul saat ini."
"Semoga semua yang mbak katakan itu benar."
Zeya dan Zahra yang sedang berbincang terdiam melihat Albirru yang datang dan sedang berjalan memasuki toko rotinya.
"Assalamualaikum , Zeya."
"Waalaikumsalam, Mas. Silakan duduk."
__ADS_1
"Apa kabar, Zeya."
"Seperti yang mas lihat Alhamdulilah aku sehat."
"Ada Azril"
"Masih di kantor. Sebentar lagi mungkin menjemput Raja dan Ratu di sekolah."
"Raja dan Ratu udah sekolah?"
"Hanya sekolah buat anak usia dini. Hingga siang jam dua belas."
"Kenapa kamu dan Azril begitu kejam dengan mas, Zeya."
"Maaf, Mas. Semua mas Azril lakukan hanya untuk melindungi Raja dan Ratu."
"Melindungi Raja dan Ratu. Maksudnya apa? Apakah mas akan menyakiti Raja dan Ratu?"
"Bukan begitu, Mas. Semua itu hanya untuk melindungi perkembangan psikis Raja dan Ratu. Ia masih terlalu kecil untuk memahami semuanya. Pasti ia akan ragu jika ada dua ayah yang dikenalnya."
"Aku ayah kandungnya, Zeya."
"Aku mengerti, Mas. Aku udah janji tidak akan menutupi kebenaran ini. Saat anakku mulai bisa memahami tentang hidup ini, aku akan mengatakan semuanya. Aku tak menyembunyikan semuanya. Karena Mas nantinya pasti akan menjadi wali nikahnya."
"Kali ini mas rasa kamu dan Azril udah melewati batas. Aku juga punya hak untuk dapat menyayangi mereka. Bukan salah aku jika tak ada saat kamu hamil. Itu kesalahanmu yang lari dari rumah dan menyembunyikan kebenaran tentang kehamilanmu.Jika saat itu kamu mengatakan semuanya, aku juga pasti akan ada disampingmu." Albirru tampak mulai emosi.
Azril yang baru pulang dari menjemput Raja dan Ratu mendengar semua ucapan Albirru menjadi emosi juga.
"Apa kamu tak pernah menyadari kesalahanmu. Kenapa hanya menyalahkan, Zeya?"
Zeya dan Albirru juga Zahra kaget mendengar ucapan Azril. Pandangan mereka tertuju pada Azril.
Bersambung.
****************
Apakah yang akan terjadi antara Azril dan Albirru. Nantikan terus ya kelanjutan dari novel ini. Karena ini senin, seperti biasa bagi yang ada vote bisa beri buat novel ini, kan. Terima kasih.
__ADS_1
Sementara menunggu novel ini update kalian bisa mampir ke novel teman mama ini. Terima kasih.