Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 63. Meminta hak Asuh Raja atau Ratu.


__ADS_3

Zeya yang kaget mendengar ucapan Umi menjatuhkan nampan yang ia pegang. Ia tak menyangka jika Umi akan meminta itu. Nampan yang terjatuh itu mengenai kakinya.


"Aduh ...." rintih Zeya.


"Apa yang sakit, Zeya?" Albirru berdiri dan berjongkok dihadapan Zeya.


Zeya menarik kakinya yang akan di sentuh Albirru. Menyadari kesalahannya, Albirru segera berdiri.


"Maaf, Zeya. Aku terkadang lupa jika kita tidak ada memiliki ikatan apa-apa lagi. " lirih Albirru.


"Kamu itu bukan mahram Zeya lagi. Hati-hati dalam bersikap dan bertindak," ucap Abi.


"Maaf, Umi. Apa aku tak salah mendengar?" ucap Zeya terbata.


"Zeya ... jika bukan Ratu, Raja juga tidak apa. Kami mengharapkan salah satu anak Albirru berada dalam pengasuhannya."


"Apa Umi telah memikirkan semua ini sebelum mengucapkan padaku." Zeya tampak menahan amarahnya.


"Maksud kamu apa, Zeya. Apa salah jika Raja atau Ratu di asuh Albirru?"


"Umi ... tidak ada seorang ibu pun yang mau dipisahkan dengan anak-anaknya."


"Umi, mengerti. Kami bukan memisahkan kamu tapi hanya meminta salah seorang dari mereka untuk diasuh oleh ayah kandungnya. Bukankah kamu memiliki dua orang anak. Sesekali Umi juga akan membawa mereka mengunjungi kamu. Pasti anakmu tidak akan melupakan ibu kandungnya."


"Bukannya aku egois atau apapun nanti yang Umi katakan untukku. Tapi aku tak akan pernah mau dan bisa memberikan hak asuh salah satu anakku pada Mas Albirru."


"Apa kamu nggak percaya jika Albirru akan bisa merawatnya dengan baik."


"Aku bukannya tak percaya, tapi aku memang tak akan memberikan salah satu anakku. Mereka bukan boneka yang dapat dipindah tangankan. Dari awal aku mengandung mereka, aku telah menjaganya sepenuh hati agar ia bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Tak aku pedulikan badan ini yang capek dan lelah dalam mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidupku."


"Zeya, jika dari awal kamu mengatakan tentang kehamilan ini pastllah Albirru tak akan membiarkan kamu mencari nafkah sendiri. Kamu yang pergi dari rumah dan menyembunyikan kehamilanmu," gumam Umi.

__ADS_1


"Dengarkan Abi, Umi dan mas Albirru," ucap Zeya. Ia menghentikan ucapannya , dan menarik nafas untuk mengatur emosinya.


"Aku juga manusia biasa. Saat itu aku sedang dalam proses menuju ke yang lebih baik. Diriku yang awam tentang agama tak bisa sepenuhnya menerima jika cintaku dibagi, walaupun itu surga ganjarannya. Hatiku hancur saat aku yang sudah berusaha menerima jika ada wanita lain dalam rumah tanggaku, harus menerima kenyataan lagi jika suamiku lebih banyak menghabiskan waktunya hanya buat maduku. Padahal aku telah berusaha menerima, tapi ke tidak adilan itu membuat aku memutuskan pergi. Coba Umi yang berada diposisiku, apa juga masih mau bertahan. Aku hanya dinikahi secara siri. Dan rumah hanya kontrakan, tidak diterima dengan baik sama kedua mertua, dan aku juga dinomorduakan. Berbeda dengan maduku yang dinikahi secara resmi, dibelikan rumah yang mewah dan disayangi mertua. Bukannya aku iri, tapi apa yang membuat aku masih tetap bertahan jika terdapat banyak perbadaan antara kami?"


"Umi bukannya tidak menerima kamu, Zeya. Tapi saat itu, besan umi tidak tau jika Albirru telah memilik istri selain anaknya Zahra. Jadi itulah alasan mengapa umi tak mengizinkan kamu ke kampung kami."


"Mas juga telah membeli kamu rumah, Zeya. Hingga saat ini rumah itu masih atas nama kamu."


"Aku sudah tak membutuhkan. Dan sekali lagi aku katakan, aku tak akan melepaskan hak asuh salah satu anakku."


"Bagaimana jika kami merindukan Raja dan Ratu."


"Umi bisa datang ke Jakarta, jika memang sangat merindukan mereka."


"Atau begini saja, bagaimana jika pengasuhan keduanya secara bergilir saja," gumam Albirru.


"Maksud mas, bagaimana?"


"Aku tak bisa. Raja dan Ratu bukan piala bergilir.Jika mas kangen bisa datang berkunjung, aku tak akan melarang."


"Baiklah, Zeya. Mas yang akan ke Jakarta jika kangen Raja dan Ratu," ucap Albirru akhirnya.


"Mas akan berubah juga nantinya jika Zahra memberikan keturunan. Saat ini mas merasa kehilangan hanya karena Raja dan Ratu saja keturunan mas. Aku doakan Zahra segera hamil."


"Jika memang kamu tak mengizinkan hak asuh padaku, apa boleh kami bertemu Raja dan Ratu."


"Tentu saja boleh."


"Apa kami boleh bawa ia bermain sehari ini. Kami ingin menghabiskan waktu sehari ini bersama Raja dan Ratu," ucap Abi.


"Maaf, aku tak mengizinkan. Walau aku bukan ayah kandungnya, tapi Raja dan Ratu adalah tanggung jawabku." Azril yang baru datang langsung menjawab ucapan Abi.

__ADS_1


"Kami tidak akan membawa kabur Raja dan Ratu," ujar Umi.


"Bukan itu yang aku takutkan, Umi. Raja dan Ratu akan rewel jika tidak ada aku atau Zeya. Aku tak mau nanti mereka merasa tak nyaman dan menangis terus," ujar Azril.


"Azril, Albirru ini ayah kandung Raja dan Ratu. Ia juga memiliki hak atas mereka."


"Aku tau, tapi semua yang aku lakukan juga untuk kebaikan mereka. Aku harap kalian semua paham. Dan aku rasa tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Jika ingin bermain dengan mereka silakan. Tapi tak bisa bawa mereka jauh."


Albirru, Umi dan abi hanya diam mendengar ucapan Azril. Mereka akhirnya setuju jika bermain bersama Raja dan Ratu di toko saja. Hingga sore hari Albirru dan kedua orang tuanya bermain bersama Raja dan Ratu. Sore harinya barulah mereka pamit.


"Aku pamit dulu, lusa bolehkah aku mengantar kepergian Raja dan Ratu."


"Silakan, mas."


"Aku harap suatu saat nanti kamu mengizinkan Raja dan Ratu menginap di rumah bersamaku."


"Jika ia telah besar dan mengerti, aku akan mengizinkan."


"Aku pamit. Terima kasih karena mengizinkan aku dan orang tuaku bermain."


"Abi dan Umi pamit, semoga kamu dapat memikirkan keinginan kami tadi. Kami sangat memohon kerelaan kamu," ucap Umi.


Zeya menyalami dan mencium tangan Umi tanpa menjawab perkataannya. Ia melepaskan kepergian mantan mertuanya hingga mobilnya melaju meninggalkan toko rotinya.


Bersambung


*******************


Terima kasih


__ADS_1


__ADS_2