
Azril melihat semua yang dilakukan Zeya dari sofa tempat ia duduk. Zeya dengan telaten membersihkan tubuh mami. Dan setelah membasuh tubuh mami, Zeya memakaikan baju yang baru diambilnya dari lemari.
"Maafkan, mami," cicit mami.
"Mami tak ada salah. Kenapa harus minta maaf?"
"Seharusnya mami tak boleh menghakimi kamu. Tidak ada yang menginginkan menjadi wanita penghibur. Jika boleh memilih pasti mereka tak ingin jatuh ke lembah hitam itu. Lebih hina lagi wanita yang sengaja merebut suami orang dari wanita yang bekerja di sana untuk menyambung hidupnya, kecuali mereka bekerja hanya ingin mencari jalan pintas untuk cepat kaya."
"Mami, aku juga minta maaf karena tak jujur dari awal."
"Kamu wanita baik, mami yakin kamu tak pernah menginginkan kerja disana."
Mami menangis dan memeluk tubuh Zeya erat. Tangis Zeya pun tak bisa dibendungnya. Azril yang melihat dari tempatnya duduk juga terharu melihat istri dan maminya kembali akur.
Azril mendorong kereta bayi yang di dalam ada Raja dan Ratu. Mami tersenyum pada kedua bocah itu.
"Sayang, Oma kangen," ujar Mami dengan air mata yang kian tumpah membasahi pipinya. Azril menggendong Raja dan Ratu dan meletakkan di atas kasur.
Raja dan Ratu yang sedang aktif, merangkak mendekati mami dan bergantungan ditubuh mami.
"Raja, Ratu ... jangan ganggu Oma. Sini bunda gendong," ucap Zeya dan menggendong Raja.
"Tak apa Zeya, mami juga sudah kangen banget dengan mereka."
Baru saja mami akan memangku Ratu terdengar suara ketukan pintu. Zeya membukanya.
Dokter keluarga ternyata yang datang. Ia memeriksa seluruh tubuh mami.
"Bagaimana keadaan mami, dok," ucap Azril dengan dokter setelah ia selesai memeriksa.
__ADS_1
"Hanya perlu istirahat, tidak ada yang perlu dikuatirkan. Mungkin mami terlalu banyak pikiran."
"Terima kasih, dok."
Azril mengantar hingga dokter itu masuk ke mobil dan meninggalkan rumah. Setelah itu ia kembali masuk ke kamar. Dilihatnya, Raja dan Ratu yang sedang bermain dengan mami.
"Zeya mana,mi?"
"Tadi katanya mau membuatkan bubur untuk mami. Padahal udah dilarang. Ada bibi yang bisa mami minta buatkan."
"Zeya emang selalu memasak sendiri buat keluarga. Di rumah juga begitu. Aku sudah sering melarang memasak, tapi ia tak mau. Zeya bilang, semua yang bisa ia lakukan dan jika itu buat kesehatan keluarganya ia akan dengan senang hati melakukan sendiri."
"Mami menyesal kemarin marah dan menghakiminya. Seharusnya mami sebagai wanita bisa mengerti keadaan Zeya. Dan juga saat ini ia telah berubah. Jauh lebih baik. Seorang wanita yang mengaku baik dan suci belum tentu juga sebaik Zeya pribadinya. Kamu saat ini tampak jauh lebih baik dan bahagia, kenapa mami bisa tak merestui hubungan kalian. Mami seharusnya lebih bahagia melihat kamu bahagia."
"Mami, dengan Zeya aku merasa hidupku penuh warna. Ia tak pernah sekalipun membantah semua ucapan dan perkataanku. Ia selalu berusaha membuatku tersenyum. Tanpa Zeya dan anak-anak, aku tak tau bagaimana hidupku saat ini."
"Mami dapat melihat aura kebahagiaan di wajahmu."
"Bagaimana kamu bertemu dengan Zeya lagi."
"Selama dua tahun aku di Singapura, aku selalu saja terbayang dengannya. Saat aku kembali aku mencarinya lagi. Beruntung ia sedang ada masalah dengan suaminya. Dan sejak aku dekat dengan Zeya, bisnisku berkembang pesat. Zeya keberuntungan bagiku."
"Semoga kebahagiaan selalu bersamamu dan Zeya. Jangan pernah sakiti wanita. Jika kmau memang sudah tak cinta lagi, lebih baik berterus terang jangan selingkuh. Wanita itu akan kuat menghadapi semua masalah yang ada, dan ia akan rapuh saat tau cintanya telah diduakan. Ia akan merasa dirinya sudah tak berharga lagi, karena orang yang ia cintai tega mengkhianati."
"Aku tak akan menduakan Zeya. Karena aku telah melihat bagaimana mami, wanita yang aku sayangi begitu terluka saat tau suaminya mendua."
Zeya mengetuk pintu kamar. Ia sebenarnya dari tadi telah berdiri di depan pintu. Tapi ia tak mau mengganggu pembicaraan kedua ibu dan anak itu.
"Masuklah ...." sahut Azril.
__ADS_1
Zeya berjalan masuk dengan semangkok bubur dan segelas teh hangat di nampan. Ia menyuapi mami hingga bubur sepiring itu habis masuk keperutnya.
"Maafkan mami," ucap mami terbata.
"Mami, kenapa mami minta maaf terus."
"Mami takut kamu marah dan kecewa dengan mami."
"Kenapa aku harus marah dan kecewa. Aku bersyukur memiliki mertua sebaik mami."
"Mami malu atas sikap dan perbuatan papi padamu."
"Jangan mami pikirkan itu. Aku dan mas Azril bisa menghadapi semuanya. Sekarang yang penting mami harus menjaga kesehatan."
"Mami, aku dan Zeya datang sebenarnya ingin pamit."
"Mau pergi kemana?"
"Aku dan Zeya akan pindah ke Jakarta. Bisnisku di Jakarta sudah mulai berkembang."
"Jadi kamu dan Zeya akan meninggalkan mami!" Tampak wajah mami begitu sedih mendengar perkataan Azril.
Bersambung
****************
Terima kasih buat semua pencinta novel ini. Jangan pernah bosan menunggu kelanjutannya. ❤❤❤❤💜💜💜💜💜
Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama.
__ADS_1