
Azril dibantu seseorang petugas yang biasa memandikan jenazah, segera melaksanakan untuk mandikan jenazah papi.
Setelah selesai dimandikan jenazah Papi Reno di angkat Azril dan dibantu dua orang lainnya menuju ruang keluarga.
Jenazah segera dikafani. Raja dan Ratu yang telah bangun dari tidurnya berlari menuju Azril yang sedang membantu untuk mengkafani jenazah Papi.
"Daddy, kenapa ditutupi begitu." Ratu berbisik pada Azril.
"Opa sudah meninggal dan akan dikuburkan."
"Meninggal itu apa,Daddy," tanya Raja. Ia memang baru pertama kali melihat jenazah.
"Meninggal, berarti Opa kembali dekat Tuhan."
"Aku tak mengerti," ucap Ratu
"Aku juga tak mengerti," ucap Raja pula.
"Raja, Ratu, sini dekat bunda. Biar Bunda jelaskan," ucap Zeya mengajak anaknya menjauhi Azril agar tak mengganggunya.
"Apa itu meninggal, Bunda," ucap Ratu.
"Meninggal itu berarti Opa kembali ke Tuhan. Nanti setelah ini Opa akan dikuburkan. Opa akan pergi selamanya dan tak akan bisa kita temui lagi. Namun Raja dan Ratu masih bisa menyayangi Opa dengan mendoakan setiap selesai solat."
"Opa dikuburkan, ditanam pakai tanah. Seperti waktu kucing Ratu mati, Bunda," ucap Raja.
"Iya, sayang."
Dari kejauhan Zeya melihat Abi dan Umi serta Albirru tampak memasuki rumah Azril. Tadi Zeya yang mengabari Albirru.
Di belakang Albirru berjalan Zahra dan Thalita. Zeya memperhatikan wanita yang disamping Zahra itu.
Zahra dan Thalita mendekati Zeya. Abi dan Umi mengucapkan bela sungkawa pada Mami dan Azril.
__ADS_1
"Mbak Zeya ... aku ikut bela sungkawa atas meninggalnya mertua, Mbak," ujar Zahra.
"Teima kasih, Zahra." Zeya lalu memeluk Zahra. Setelah pelukannya lepas. Zahra perkenalkan Thalita.
"Thalita, ini Mbak Zeya. Mantan istri mas Albirru." Thalita mengulurkan tangannya yang langsung disambut Zeya.
"Mbak Zeya, ini Thalita istri mas Al juga."
"Istri mas Al?" Zeya tampak kaget dan memandangi wajah Thalita dengan seksama.
"Iya, Mbak. Senang akhirnya dapat kenalan dengan Mbak Zeya," ujar Thalita.
"Sama, Mbak juga senang dapat kenal dengan kamu."
"Ini pasti Raja dan Ratu," ucap Thalita mengarah pada si kembar yang duduk di samping Zeya.
"Iya. Raja dan Ratu, salam sama tante Zahra dan Thalita." Zeya meminta kedua anaknya untuk menyalami Zahra dan Thalita.
Jenazah papi telah selesai dikafani. Azril meminta Ustad untuk membacakan doa buat jenazah papinya.
Setelah itu jenazah papi dimasukkan ke ambulans menuju mesjid untuk disholatkan.
Solat jenazah papi diimami Azril sendiri. Sejak menikah dengan Zeya, ia memang lebih mendalami agama bersama istrinya. Seorang Ustadzah yang selalu mengajar ia dan Zeya mengaji.
Raja dan Ratu berada di gendongan Albirru dan Zahra. Awalnya mereka tak mau. Tapi Albirru dan Zahra membujuknya terus. Zeya mendampingi Azril. Ia tampak sedih melepaskan kepergian papinya.
Walau beberapa tahun ini hubungannya dan papi kurang baik, ia tetap terpukul. Papinya dulu sangat menyayangi dirinya.
Zeya dan Azril berjalan bergandengan tangan, menuju pemakaman. Azril yang akan masuk langsung ke liang lahat.
Saat jenazah akan dimasukkan ke liang lahat, Shinta yang baru datang berlari sambil teriak.
Sebelum kekuburan, ia telah mampir ke rumah duka. Ia kaget melihat rumah yang telah sunyi dan bertanya dimana om Reno dibawa.
__ADS_1
Penjaga rumah mengatakan tempat pemakaman om Reno. Ia segera menuju ke sini.
"Tunggu, jangan kubur om Reno," teriak Shinta.
Pandangan semua pelayat tertuju padanya. Shinta mendekati kuburan.
"Kenapa kalian langsung mau menguburkan om Reno? Seharusnya menunggu aku dulu. Aku ini juga istrinya om Reno," ucap Shinta, membuat semua yang hadir jadi terkejut.
Mami yang berada di samping Zeya tampak menahan emosinya. Zeya langsung memeluk bahu Mami agar ia tidak terbawa emosi.
"Sudah teruskan saja penguburannya,jangan dengarkan ucapan wanita itu," ucap Azril meminta penguburan segera dilakukan.
"Kamu tak bisa mengabaikan aku,Azril. Aku ini istri papimu juga. Kenapa kalian menguburkan tanpa izin dan menunggu aku dulu."
Mami yang udah menahan dari tadi akhirnya maju mendekati Shinta.
"Dengarkan Shinta, kamu sebaiknya mengaji terlebih dahulu. Jenazah itu sebaiknya disegerakan dalam penguburannya. Tidak perlu menunggu. Apa lagi menunggu kamu, yang entah dinikahi atau tidak oleh suamiku."
Mami mengucapkan kata-kata itu dengan gemetar. Selama ini ia telah menutup aib suaminya. Tapi di saat penguburan sang suami semua terpaksa harus terbongkar.
"Aku sebenarnya tak boleh membuka aib suamiku, apa lagi ia telah tiada. Tapi kamu telah membuat aku terpaksa melakukan ini."
Tangisan Mami akhirnya pecah. Zeya memeluk mertuanya itu.
"Shinta, sebaiknya kamu minggir. Jangan buat keributan. Ini pemakaman bukan pasar. Aku harap kamu masih memiliki sedikit saja rasa malu. Jika kamu masih terus cari masalah, jangan salahkan aku jika berbuat kasar. " Zeya akhirnya mengingatkan Shinta. Ia tak bisa melihat ibu mertua yang telah dianggap orang tuanya sendiri itu menangis.
Shinta akhirnya mundur setelah mendengar ucapan Zeya.
Azril yang telah berada dalam liang lahat sebenarnya juga sudah emosi. Ia tak jadi naik, karena melihat Shinta yang telah terdiam mendengar perkataan Zeya.
Bersambung
****************
__ADS_1
Buat gondok aja ya Shintanya. Untung aja Mami masih bisa tahan emosinya.
Nantikan terus kelanjutan novel ini ya. Terima kasih.