
Zeya melepaskan tangannya yang masih berjabat dengan papi nya Azril. Ia sedikit risih mendapat tatapan tajam dari pria itu.
Zeya mengikuti langkah Azril yang berjalan menuju ruang keluarga. Semua berkumpul di sana.
Keluarga yang mulai berdatangan untuk acara resepsi juga ikut berkumpul.
"Kamu istirahat aja ,Zeya. Sebentar lagi kamu dan Azril akan kembali bersanding. Satu jam lagi MUA juga akan datang untuk mendandani wajah kamu," ucap mami.
"Sayang, mami benar. Kamu istirahat aja. Sebentar lagi aku menyusul," ucap Azril.
"Iya, mi. Maaf semuanya, kalau gitu aku pamit dulu," Zeya beranjak dari duduknya. Zeya berjalan sambil mendorong kereta bayi yang di dalamnya ada Raja dan Ratu.
Zeya menidurkan Raja dan Ratu. Pikirannya masih tertuju pada Papi Azril.
Ternyata papinya Azril adalah om Reno. Apa yang harus aku lakukan. Apakah aku berterus terang saja pada Azril. Aku takut om Reno masih marah padaku karena aku yang selalu menolak melayani dirinya. Apakah om Reno akan mengatakan kebenaran siapa aku dengan mami. Ya Tuhan, jangan kau rampas kebahagiaan yang baru aja aku raih ini.
............
Jam lima, Zeya sudah mulai didandani. Setelah hampir dua jam akhirnya semua kelar.
Zeya memandang keluar jendela. Para tamu undangan sudah tampak mulai berdatangan. Tadi Azril mengatakan jika ia jangan keluar dulu sebelum dijemput.
"Kenapa termenung, sayang." Azril memeluk pinggang Zeya dari belakang.
"Siapa yang termenung, mas."
"Jangan bohong. Mas dari tadi masuk aja kamu tak tau. Kamu larut dalam lamunan."
Zeya membalikkan tubuhnya menghadap Azril. Ia telah bertekad akan berterus terang tentang hubungan dirinya dengan papi Azril.
"Mas, apakah kamu tak malu jika keluarga tau tentang masa laluku?"
"Kenapa harus malu?"
"Apakah nanti mami tidak akan kecewa jika ada seseorang yang mengatakan tentang masa laluku? Dan apakah kamu tidak akan berubah?"
"Aku telah mengetahuinya dari awal. Kenapa aku harus berubah? Dan mengenai mami, apakah nanti kecewa atau tidak, kenapa harus dipikirkan sekarang. Aku janji akan mengatakan kebenarannya dalam waktu dekat."
"Bagaimana jika mami mengetahuinya dari orang lain."
"Aku yang akan meyakinkan mami, jika kamu adalah wanita yang paling aku cintai dan yang pantas menjadi ibu dari anak-anakku."
__ADS_1
"Mas, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Harus saat ini juga. Tamu undangan sudah mulai berdatangan loh."
"Aku hanya butuh waktu sepuluh Menit, Jika mas akhirnya berubah pikiran, masih ada waktu sebelum tamu undangan makin banyak berdatangan."
Zeya mengajak Azril untuk duduk di sofa yang berada dekat jendela kamar. Ia menggenggam tangan suaminya itu.
"Mas, kamu sudah tau kan masa laluku. Banyak pria yang pernah singgah dihidupku. Dan aku terkadang tak mengingatnya."
"Ya, aku tau. Kenapa kamu membahas itu lagi."
"Mas, salah satu pria yang pernah hadir dalam hidupku itu adalah ..." Zeya menghentikan ucapannya. Ia menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya. "Salah satunya ... papi nya, mas. Tapi sumpah, aku belum pernah melayaninya. Aku selalu menolak. Aku takut papi masih marah," ucap Zeya terbata.
Azril yang kaget mendengar ucapan Zeya, melepaskan genggaman tangannya.
"Mas, jika kamu berubah pikiran dan ingin membatalkan pernikahan kita ini, aku ikhlas. Aku akan menerimanya dengan lapang dada. Aku tau semua ini salahku. Kenapa aku dulu mau saja terjerumus ke lembah hitam itu."
Zeya tak bisa lagi menahan tangisnya. Tampak Nafasnya yang memburu karena menahan tangis.
Azril berdiri dari duduknya dan memandang ke luar jendela. Zeya mengikutinya.
"Mas, maafkan aku, " ucap Zeya sambil menangis.
"Mas, aku pamit. Terima kasih atas semua kebaikan mas selama ini. Aku tak akan melupakan semuanya." Zeya menjabat tangan Azril dan menciumnya.
Dengan langkah perlahan ia mulai meninggalkan kamar. Saat Zeya akan membukakan pintu, Azril mencegahnya.
"Zeya ... siapa yang mengizinkan kamu pergi. Kenapa kamu selalu saja lari dari masalah."
Zeya menghentikan langkah kakinya. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Azril.
"Mas, aku bukannya lari dari masalah."
Azril mendekati wanita yang sangat ia cintai itu. Ia membawa tubuh Zeya ke dalam pelukannya.
"Jangan pergi, Zeya," gumam Azril.
"Bagaimana dengan papi. Mas ... papi kamu itu dendam denganku."
"Dendam kenapa?"
__ADS_1
"Aku selalu menolak melayani papi kamu," lirih Zeya.
"Kenapa kamu menolak melayaninya."
"Papi mas itu orangnya kasar. Aku takut, mas." Tangis Zeya kembali pecah dipelukan Azril. Pria itu mengusap punggung Zeya untuk menenangkan tangisnya.
"Papi tak akan berani mendekati kamu apalagi sampai menyakiti. Dia akan berhadapan denganku jika berani mengganggu kamu."
"Mas ...." Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Zeya.
"Bukan hanya papi, siapapun pria yang mendekati kamu harus berhadapan denganku. Aku saat ini telah menjadi suami kamu. Sudah menjadi kewajibanku melindungi kamu."
"Terima kasih mas."
Azril melepaskan pelukannya. Ia memegang kedua bahu Zeya dan mengecup dahi wanita itu.
"Riasan wajahmu sudah luntur, aku panggil penata riasnya dulu untuk memperbaiki."
"Nggak perlu, mas. Aku bisa sendiri."
Azril menemani Zeya, setengah jam dandanannya telah kembali.
"Dandannya jauh lebih cantik yang sekarang," ucap Azril.
"Mas bisa aja."
"Aku serius. Lebih suka yang saat ini, tadi terlalu menor."
"Apakah kita akan keluar lagi?"
"Iya, sayang. Tamu undangan pasti sudah tak sabar ingin melihat pengantin wanitanya. Pasti nanti semua kagum melihat kecantikan kamu."
"Jangan gombal terus mas."
"Siapa yang gombal, aku bicara apa adanya.Sini pegang tanganku,jangan pernah melepasnya."
Zeya langsung menggenggam tangan suaminya itu. Mereka berjalan dengan bergandengan.
Terima kasih Tuhan, kamu telah mengirimkan seorang pria seperti Azril dalam hidupku.
Bersambung
__ADS_1
***********************
Terima kasih