BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 10. UNEK-UNEK HATI


__ADS_3

Polisi yang datang ke rumah sakit membawa Bastian ke kantor untuk dimintai keterangan. Untuk sementara Bastian lah tersangkanya sampai polisi menemukan bukti-bukti yang menyatakan bahwa Bastian tidak bersalah.


Bastian pun ikut naik ke dalam mobil polisi, tapi dia kemudian teringat dengan motor besarnya yang ditinggalkan di tempat kejadian saat dia menolong Devina.


"Pak! aku boleh minta tolong, motorku sekarang 'kan masih ada di tempat kejadian, sedangkan kuncinya ada padaku. Bisakah salah satu anggota Bapak mengambilkan dan membawanya ke kantor?" tanya Bastian.


"Baik Dek, itu memang tugas kami, karena motor kamu juga akan kami periksa dan mungkin bisa jadi salah satu bukti. Berikan kuncinya biar saya minta anggota untuk mengambilnya," ucap Pak Polisi.


"Oh ya Pak, pedagang es dan rujak yang berjualan di sana bisa jadi saksi, karena mereka yang melihat kejadiannya dan mereka pasti tahu jika aku tidak bersalah."


"Iya, besok kami akan panggil mereka. Untuk hari ini kamu harus menginap di kantor dulu atau ada pengacara dari pihak kamu yang bisa menjamin, kamu bakal tidak lari jika kami tidak menahanmu?"


"Iya Pak, ini nomor pengacara saya dan ini nomor telepon orang tua saya. Tolong Bapak yang menghubungi mereka, kalau saya tidak jadi masalah jika harus menginap di kantor Bapak malam ini," ucap Bastian sambil menyerahkan kartu nama.


Pak Polisi yang membaca kartu nama itupun terkejut, lalu beliau berkata, "Maaf Dek, ternyata kamu anak Pak Iman Nawawi, Bapak anggota dewan."


"Iya Pak, Bapak nggak usah sungkan, itukan Papa saya, bukan saya yang anggota dewan, jadi nggak ada yang bisa saya banggakan. Kalau saya salah ya tetap salah dan harus menjalani hukumannya," ucap Bastian dengan santai.


"Tapi kami tetap tidak bisa mengabaikan kamu begitu saja Dek, baiklah nanti sampai di kantor saya akan menghubungi pengacara dan juga papa kamu," ucap Pak Polisi.


"Terimakasih jika begitu Pak," ucap Bastian lagi.




Devani yang melihat Bastian dibawa oleh polisi merasa khawatir, lalu dia meminta sang Papa untuk membantu Bastian, Mahen yang mendengar hal itupun berkata, "Kamu ngapain membela dia yang jelas-jelas telah membuat kakakmu terbaring, berjuang untuk hidup!" ucap Mahen sinis.



"Jelas lah aku membela Bastian, dia 'kan tidak bersalah, malahan dia yang telah menolong Devina," bantah Devani.



"Inilah akibat pergaulanmu dengan orang-orang yang tidak benar, yang suka ugal-ugalan. Akhirnya istriku yang kena dampak buruknya, Kamu dan temanmu itu harus bertanggungjawab!" ucap Mahen dengan marah, sambil berjalan meninggalkan ruangan itu.



"Pa! kenapa sih...aku yang dipersalahkan? toh aku bergaul masih dalam batas wajar. Aku bukan pengguna narkoba, aku bukan perokok, aku bukan pemabuk, aku bukan penjudi atau yang lebih buruk lagi, aku bukan pelacur," ucap Devani kesal.



Sejenak Devani terdiam dan mendesah, lalu dia berkata lagi, "Hanya karena penampilan kami yang mengikuti trend anak zaman sekarang, apa itu salah! Jika itu salah menurut kalian, salahkan saja pemerintah, kenapa tidak melarang pengusaha yang memproduksi barang-barang yang kami pakai."


__ADS_1


"Masalah kami balapan, toh nggak semua anak yang suka balapan itu liar dan urakan. Tergantung pribadinya masing-masing 'kan Pa!"



"Jika masalah perkuliahan, aku memang tidak sepintar Devina, ya...janganlah aku dibanding-bandingkan dengan dia. Kalau Tuhan menciptakan manusia semua sama, nggak seru hidup ini Pa! Aku nggak mau hidup dibawah bayang-bayang Devina. Aku adalah aku, jadi aku bukanlah Devina! Maafkan aku Pa, jika telah mengecewakan kalian!" ucap Devani sambil menangis dan berlari keluar ke arah taman rumah sakit.



Papa Andara terdiam, dia merasa terpukul mendengar semua yang dikatakan oleh Devani.



Selama ini mereka tidak sadar jika telah membuat putri kecilnya merasa dibanding-bandingkan hidupnya dengan sang Kakak yang memang selalu lebih dalam segala hal. Lebih pintar, lebih feminim, lebih pendiam, lebih penurut dan kata orang lebih cantik, walaupun Devani untuk ukuran gadis seusianya sudah masuk dalam kategori gadis yang sangat cantik.



Devani telah mengungkapkan unek-unek hati yang bertahun-tahun dia pendam kepada sang papa dan ternyata Mama Intan juga mendengarnya, saat beliau baru saja terbangun karena mendengar perseteruan antara Devani dengan Mahen menantunya.



Selama ini Devani berusaha menyimpan perasaannya itu rapat-rapat, berusaha masa bodoh, dengan cara menyenangkan dan menenangkan hati, bergaul dengan para pemuda pembalap jalanan.



Menurut Devani, sebagian besar temannya itu adalah anak baik, asyik dalam bergaul, bahkan lebih peduli dan perhatian dengan sesama teman.




Saat Devani berlari sambil menangis, Mahen sempat melihatnya dan dia bermonolog, "Gadis aneh dan terlalu naif, kenapa dia malah membela dan menangisi Bastian. Pemuda itu tidak pantas untuk mendapatkan tangisanmu Van! Sampai kapan, kau baru akan sadar, jika pergaulanmu itu hanya akan merugikan dan merusak hidupmu" monolog Mahen sambil menggelengkan kepala.



Mahen yang selalu menjunjung tinggi norma-norma hidup sehat, hari ini mengesampingkan semuanya itu.



Dia stress, sedih memikirkan nasib istri dan calon bayinya. Saat ini Mahen duduk menyendiri, di bawah sebuah pohon yang ada di belakang kantin rumah sakit, melampiaskan perasaannya itu dengan merokok.



Karena tidak terbiasa, Mahen terbatuk-batuk dan hal ini mengundang perhatian Devani yang sedang berjalan, hendak kembali ke ruang rawat mamanya, setelah dia puas menangis.


__ADS_1


Devani, tanpa sepengetahuan Mahen, berjalan mendekat dan menarik rokok yang ada di mulut Mahen, sambil berkata, "Ini hanya akan membuat Devina kecewa dan sedih!" ucap Devani sambil menginjak puntung-puntung rokok yang masih mengeluarkan asap.



"Kamu! Kenapa ikut campur urusanku!" seru Mahen.



"Aku ikut campur? nggak kebalik ya? Bukankah selama ini kamu yang selalu mencampuri urusan hidupku, pergaulanku!" ucap Devani.



Mahen tidak membalas ucapan Devani, dia langsung bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Devani begitu saja.



Devani kesal, lalu dia berkata, "Huh! lebih baik tadi aku biarkan saja dia! Jika sakit, toh dia yang akan merasakannya bukan aku," ucap Devani.



Kemudian Devani kembali ke ruang rawat mamanya, tapi dia tidak melihat Mahen ada di sana.



"Bunda dari mana?" tanya Annisa yang baru saja bangun. Annisa yang capek bermain bersama Bastian tadi, ternyata tertidur di samping eyang putrinya.



"Oh...bunda dari kantin," jawab Devani, dia terpaksa berbohong.



"Kok mata bunda merah dan sembab? Bunda habis nangis ya?" tanya Annisa lagi.



"Nggak kok, tadi kelilipan pas mau jalan ke kantin," jawab Devani.



Kemudian dia berkata lagi untuk mengalihkan percakapan, "Makan yuk! Nisa 'kan dari tadi belum makan, apa Nisa nggak lapar?" tanya Devani.



"Nisa nggak lapar Bun, Nisa cuma ingin ketemu mama," jawab Annisa dengan wajah sedih.

__ADS_1



Devani bingung, bagaimana lagi dia harus menjelaskan kepada Annisa, tentang keadaan mamanya. Devani sedih kenapa anak sekecil Annisa harus menghadapi kenyataan hidup seperti ini.


__ADS_2