
Pikiran Devani masih saja tidak tenang, dia harus bisa mencegah Bastian. Sampai-sampai dia berpikir nanti malam akan meminta kepada Mahen agar mengizinkannya pergi ke tempat balapan.
Walau bagaimanapun dia harus jujur, bahwa hari ini telah pergi menemui Bastian.
Devani sudah merasai bagaimana saat pikiran kalut di bawa balapan dan akhirnya bukan masalah yang selesai tapi celaka yang ada. Cukup dia saja yang mengalami hal itu, jangan sampai Bastian mengalaminya juga.
Saat pikiran Devani sedang galau, tiba-tiba Mahen menghubunginya. Mahen menanyakan, dimana Devani saat ini berada.
Devani tidak mau berbohong, lalu dia berkata, jika saat ini sedang dalam perjalanan pulang dari menemui teman.
Kemudian Mahen meminta Devani untuk menemui dan menemaninya makan siang di cafe indah dan mengatakan ada hal penting yang ingin dia tanyakan.
Devani tidak menolak, lalu diapun menuju ke tempat yang di sebutkan oleh Mahen. Dia berencana ingin mengatakan kepergiannya hari ini.
Mahen pun menunggu kedatangan Devani sambil memainkan ponselnya, dia melihat foto-foto Devani saat tadi menemui Bastian.
Devanipun melajukan mobilnya ke cafe Indah sesuai dengan permintaan Mahen, dia tidak tahu apa sebenarnya yang ingin Mahen bicarakan.
Sesampainya di sana ternyata Mahen sudah menunggu, lalu pelayan mempersilakan Devani
masuk dan mengantarnya ke tempat utama yang telah Mahen pesan.
"Silahkan duduk Van," pinta Mahen. Kali ini wajah Mahen terlihat sangat serius, hingga membuat Devani merasa tidak enak dan yang pasti takut karena dia bersalah, pergi menemui Bastian tanpa izin.
Tiba-tiba Mahen berkata, "Kamu tahu apa yang ingin aku bicarakan?" tanya Mahen.
Devani pun menggeleng, lalu dia balik bertanya, "Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan Hen?"
"Kamu dari mana pagi ini Van?" tanya Mahen yang membuat Devani takut, apa dia harus jujur atau berbohong.
"Kenapa diam?" Tolong, jawab dengan jujur pertanyaanku!" ucap Mahen.
Kemudian Devani menjawab, "Maaf Hen, aku tadi pergi tanpa izinmu, aku menemui Bastian."
Mahen diam, dia menatap Devani dengan tatapan dingin,
__ADS_1
kemudian Mahen berkata, "Kamu percaya sama aku atau tidak Van?" tanya Mahen.
"Tentu saja aku percaya, nggak mungkin aku memutuskan memilihmu, jika aku tidak mempercayai mu," jawab Devani.
"Jika kamu mempercayaiku, kenapa kamu pergi menemui Bastian secara diam-diam!" ucap Mahen.
"Aku 'kan sudah bilang Van, akan berusaha memahami duniamu dan aku mohon kamu juga memahami bagaimana perasaanku," ucap Mahen lagi sambil mendesah, dia merasa kecewa.
"Aku minta maaf Hen, aku salah, aku takut kamu marah dan tidak memberiku izin untuk pergi menemui Bastian."
"Justru sekarang aku kecewa Van, harusnya kamu jujur, mungkin aku bisa mengantarmu, jika itu memang untuk kebaikan."
"Sebenarnya, tadi aku lagi beberes di kamar, saat Nindi telepon. Kamu masih ingatkan dengan Nindi, temanku yang ada di cafe waktu itu."
"Dia meminta tolong agar aku mencegah Bastian untuk ikut balapan nanti malam. Mereka sudah berusaha mencegahnya, tapi Bastian tetap saja keras kepala, tidak mengindahkan omongan teman-teman."
"Teman-teman pikir hanya aku yang bisa membatalkan niat Bastian, makanya mereka mohon agar aku mencegahnya."
"Apa dia mendengarkanmu?" tanya Mahen.
"Aku takut dia celaka, cukup aku yang mengalaminya Hen, syukur masih tangan dan kakiku saja yang terluka seandainya waktu itu nyawaku yang melayang, apa yang akan terjadi dengan keluargaku."
"Begitu juga yang aku pikirkan dengan Bastian, dia anak lelaki tunggal di keluarganya, jika terjadi apa-apa dengan dia, bagaimana nasib orang tuanya terutama mamanya," ucap Devani.
"Hanya itu?" tanya Mahen ingin memastikan.
"Maksud kamu apa Hen?" tanya balik Devani.
"Apa kekhawatiranmu hanya sebatas karena memikirkan orang tuanya atau memang dirimu masih menyayangi dia," selidik Mahen.
Devani terdiam, lalu dengan berani Devani menjawab, "Jujur, mungkin iya, aku masih menyayangi dia, tapi aku tahu dimana batasanku," ucap Devani.
"Nanti malam kita kesana! setelah pulang dari cafe," ucap Mahen yang membuat Devani terkejut.
"Kenapa? Kamu tidak percaya, jika aku akan mengantarmu kesana?" ucap Mahen lagi saat melihat reaksi Devani.
__ADS_1
"Kamu serius Hen?" tanya Devani takut. "Kamu tidak marah?" tanya Devani lagi.
"Selagi kamu jujur, aku tidak akan marah, semua orang punya masa lalu yang tidak mungkin begitu saja bisa dilupakan," ucap Mahen.
"Kamu tidak cemburu?" tanya Devani.
"Siapa bilang aku tidak cemburu, justru karena aku cemburu, makanya aku memintamu ke sini. Aku ingin mendengar langsung penjelasan darimu, walaupun aku telah membayar seseorang untuk mengawasi Bastian. Aku hanya tidak ingin, dia mengganggu calon istriku," ucap Mahen.
"Terimakasih Hen, maafkan aku karena sempat tidak jujur terhadap kamu," ucap Devani.
"Aku juga minta maaf. Aku bukan bermaksud diktator terhadapmu, bukan melarangmu untuk berteman tapi aku cuma minta, jujurlah! Apalagi hal itu menyangkut Bastian." ucap Mahen.
"Iya Hen, aku akan ingat itu, sekali lagi maafkan aku," ucap Devani yang merasa bersalah.
"Kita makan siang dulu ya! setelah itu, kamu ikut aku ke kantor, kita berangkat ke makam sama-sama dari sana."
"Mama dan Nisa bagaimana?"
"Nanti aku minta tolong supir kantor untuk menjemput mereka. Lagi pula tanggung jika kamu pulang, capek di jalan. Saat ini sudah jam 1, nah kita akan pergi ke makam jam 3."
"Terserah saja, bagaimana baiknya. Tapi aku telepon Mama dulu ya, supaya tidak khawatir menungguku pulang."
"Aku sudah beritahu mereka kok, jika kamu ada bersamaku. Saat tadi aku telepon ke rumah, katanya kamu keluar, aku langsung beralasan jika kita sudah janjian dan aku yang lupa," ucap Mahen.
"Terimakasih Hen, kamu menutupi kebohonganku kepada mereka," ucap Devani.
"Aku hanya ingin tidak menambah beban pikiran mama saja, jika beliau sampai tahu kamu masih bertemu dengan Bastian."
"Ayo kita makan, sudah telat nih, jadi perut keroncongan," ucap Mahen sambil memegangi perutnya.
Mereka pun menikmati makan siang bersama, Devani bersyukur Mahen tidak marah dan menyikapi kebohongannya dengan bijak.
Selesai makan, Mahen langsung mengajak Devani ke kantornya. Lusy yang melihat Bos nya kembali ke kantor bersama seorang wanita, menjadi sedikit jeles. Selama ini dia sudah berharap, bisa menempati kedudukan sebagai Nyonya Mahen.
Ternyata perubahan Mahen yang sudah kembali ke kebiasaannya yang lama dan berdandan rapi, karena pengaruh kehadiran seorang wanita.
__ADS_1
Sia-sia, apa yang telah Lusy lakukan selama ini, dia tampil se seksi mungkin untuk menarik perhatian Mahen, ternyata tak pernah di lirik. Malah wanita berpakaian feminim lagi yang berhasil mendapatkan cinta bos nya itu.