
"Mbak...aku ingin lihat gaun terbaik di toko ini, jika ada gaun yang edisi terbatas ya!" pinta Mahen.
"Baik Pak, sebentar saya ambilkan, oh ya Pak, untuk ukurannya bagaimana?" tanya pelayan toko.
Sejenak Mahen berpikir, lalu dia berkata, "Orangnya seperti Mbak, tinggi, langsing tapi sedikit berisi badannya," jawab Mahen.
"Baiklah Pak, saya akan ambil beberapa jenis merek, biar Bapak bisa memilihnya," ucap pelayan toko sambil meninggalkan Mahen setelah memberinya kursi agar duduk menunggu sampai dia kembali.
Dalam waktu sepuluh menit, pelayan itu telah kembali sambil menunjukkan gaun-gaun terbaik yang mereka jual, diantaranya tiga gaun edisi terbatas.
Setelah melihat warna dan bentuknya yang kebetulan Mahen suka, lalu dia meminta pelayan agar membuat notanya. Mahen membeli lima buah gaun terbaik yang ditunjukkan oleh pelayan tersebut.
Dengan senyum sumringah, berharap akan mendapatkan bonus dari pemilik toko, karena barang terbaik di toko itu laku banyak, pelayan itupun membuatkan nota pembelian dan memasukkan gaun-gaun tersebut ke dalam paperbag serta menyerahkan ke kasir.
Mahen langsung menuju kasir untuk membayarnya, lalu setelah itu dia kembali ke toko pakaian anak untuk menemui Devani, Annisa dan Hans.
Sesampainya di sana ternyata Annisa belum juga selesai memilih baju, dia mengajak Devani memutari seluruh ruangan toko. Sementara Hans tidak terlihat di tempat duduknya tadi.
Mahen menitipkan barang belanjaannya ke bagian penitipan barang, lalu dia berniat ingin mencari Hans.
Tapi apa yang dia lihat, ternyata Hans sedang mengikuti seseorang yang mengendap-ngendap memperhatikan Devani dan Annisa.
Mahen menepuk pundak Hans hingga membuat pemuda itu terkejut, tapi Mahen berhasil membungkam mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Dia juga penasaran siapa sebenarnya orang yang sedang mengintai Devani dan putrinya itu.
Bastian yang saat ini, menggunakan jaket serta topi dan masker membuat Mahen tidak dapat mengenalinya.
Mahen mendekati Bastian lalu dia menarik kedua tangan Bastian dan memelintirnya ke arah belakang layaknya seperti seorang penjahat yang sedang di tangkap polisi.
Bastian kaget hingga dia berusaha meronta ingin melepaskan diri, tapi dia tidak berhasil.
Hansen yg melihat sang Kakak berhasil membekuk pria itupun ikut mendekat, lalu dia melepaskan topi serta masker yang dikenakan oleh Bastian.
Mahen pun terkejut saat melihat siapa orang itu, lalu dia melepaskan pelintiran tangannya sambil berkata, "Kamu! ngapain mengendap-ngendap seperti maling!" seru Mahen.
__ADS_1
"Terserah aku lah, kamu tidak perlu ikut campur dengan urusanku!" jawab Bastian.
"Selagi Devani bepergian bersamaku, dia adalah tanggungjawabku, jadi aku harus melindungi dia dari siapapun, termasuk kamu!" seru Mahen lagi.
Annisa yang sedang berlari ke arah papanya terkejut, saat melihat perdebatan itu, lalu dia berkata kepada bundanya, "Bun...coba lihat itu! Papa dan Om Hans sedang bertengkar dengan seseorang!"
Devani menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Annisa, matanya membulat saat melihat Bastian ada di sana, sedang berdebat bersama Mahen. Lalu Devani bergegas mengajak Annisa untuk menghampiri mereka.
"Bas! Apa yang terjadi?" tanya Devani.
Bastian menoleh lalu dia berkata, "Ini kakak iparmu, main tangkap orang sembarangan saja," ucap Bastian.
"Kamunya yang salah, malah menuduh Kakak saya! Ngapain coba kamu mengendap-ngendap, mengintai keponakan dan calon Kakak ipar saya," ucap Hansen yang tidak mengetahui siapa itu Bastian.
"Apa kamu bilang! Calon kakak iparmu? Dia itu pacarku tahu!" ucap Bastian marah.
"Pantas... kamu merijek panggilan dariku, ternyata kamu selingkuh Vin! Aku tidak menyangka, ternyata kamu dan papaku sama saja, sama-sama tidak bisa di percaya. Mulai hari ini kita putus! Aku tidak sudi berhubungan dengan wanita yang tidak setia!" seru Bastian sambil berbalik pergi meninggalkan tempat itu.
"Bas...tunggu Bas! Maafkan aku Bas, aku tidak bermaksud membohongi mu! Aku 'kan bilang, tadi sedang berkumpul dengan keluarga ku! Bukankah mereka memang keluargaku Bas!" seru Devina sambil mengejar Bastian.
Barang belanjaan mamanya bertabur, Bastian meminta maaf tanpa melihat siapa yang dia tabrak. Bastian pun buru-buru memungut barang-barang itu sebelum Devani tiba di tempat itu.
Sang Mama yang melihat hal itupun berkata, "Bas! Ada apa denganmu, kenapa kamu berjalan terburu-buru seperti dikejar setan saja, coba lihat barang-barang mama rusak dan berantakan!" seru sang Mama.
Mendengar suara itu Bastian pun mendongak, sambil berkata, "Mama!"
"Kamu kenapa?" tanya mama Bastian.
Belum sempat Bastian menjawab, Devani pun sampai di tempat itu, lalu dia berkata, "Maaf Bu, jika teman saya telah membuat rusak barang-barang Ibu," ucap Devani sambil membantu Bastian mengumpulkan barang-barang tersebut.
"Tidak perlu kamu bantu! Aku bisa sendiri!," seru Bastian.
"Tolong dengarkan aku Bas, beri kesempatan aku untuk menjelaskannya, please Bas!"
__ADS_1
"Pergilah! Nggak ada lagi yang perlu untuk dijelaskan, semua sudah berakhir," ucap Bastian.
Kemudian Bastian menghampiri mamanya dan berkata, "Ayo Ma, kita pulang."
Mama Bastian pun bingung, beliau pemasaran, sebenarnya siapa gadis yang Bastian cuekin tersebut. Tapi beliau tidak bisa menolak saat tangan Bastian menarik tangannya untuk meninggalkan tempat itu.
Devani tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia terpaku ditempatnya. Apalagi saat dia tahu, wanita yang barang belanjaannya berserakan adalah mamanya Bastian.
Mahen yang dari kejauhan melihat hal itu, lalu berkata kepada Hansen adiknya, "Hans...tolong kamu jaga Annisa sebentar ya, aku akan menyelesaikan masalah ini," pinta Mahen.
"Baik Kak," jawab Mahen.
Mahen pun berlari ke arah Devani, lalu dia berkata, "Pergilah Van!tunggu aku di sana bersama Annisa dan Hans, biar aku yang akan mengejar Bastian, untuk menjelaskan semuanya," ucap Mahen.
Ketika Mahen hendak pergi, Devani menarik tangannya sambil berkata, "Tidak usah Hen! Percuma kamu mengejarnya, dia tidak akan mendengarkan perkataan mu. Biarlah, hatinya saat ini sedang panas, dia cemburu. Masalah yang menimpa rumah tangga orangtuanya telah membuatnya trauma akan pengkhiatan," ucap Devani.
"Tapi dia harus tahu, kamu tidak bersalah, akulah yang bersalah telah mengajakmu jalan," ucap Mahen lagi.
"Nggak apa-apa Hen, besok saat dia sudah tenang, aku akan coba mengajaknya bicara," ucap Devani.
"Ya sudah, kalau itu mau mu. Tapi, jika besok kamu butuh bantuanku untuk memberi penjelasan kepada Bastian, aku siap!"
"Iya, terimakasih. Ayo kita ke Annisa lagi, dia belum selesai tadi memilih bajunya," ucap Devani.
Devani lalu kembali ke tempat Annisa dan Hansen duduk, lalu dia berkata, "Ayo Sayang, kita lanjutkan memilih bajunya."
"Tidak usah Bun, itu saja sudah cukup, sebaiknya kita pulang, biar bunda bisa beristirahat."
Hans pun merasa bersalah, lalu dia berkata, "Maafkan aku ya Van, karena ucapanku, pacarmu jadi marah."
"Nggak perlu minta maaf Hans, aku tahu kamu hanya bercanda. Besok Bastian pasti bakal paham kok setelah aku jelaskan," ucap Devani.
Kemudian mereka pun ke kasir untuk membayar belanjaan Annisa. Sesuai janji, Hans lah yang membayar semuanya.
__ADS_1
Lalu Mahen mengambil barang yang tadi dia titipkan di tempat penitipan barang. Rencananya nanti saat mengantar Devani pulang, dia akan memberikannya.