
Mahen sudah tiba di rumah keluarga Andara, dengan langkah gontai dia masuk ke dalam rumah. Papa dan Mama serta Annisa sudah menunggunya sejak tadi.
"Papa..." panggil Annisa sambil berlari memeluk Mahen.
Mahen pun menggendong Annisa lalu menciumnya dan bertanya, "Nisa sudah makan?"
"Belum Pa, Nisa tunggu Bunda. Bunda mana Pa? Kenapa tidak pulang bersama Papa?" tanya Annisa.
Mahen bingung mau menjawab apa, lalu diapun memandang ke arah Papa Andara dan Papa Andara langsung menjawab, "Bunda kamu masih ada pekerjaan di luar kota Sayang," ucap Papa Andara sambil mengelus kepala cucunya.
"Lama ya Eyang, bunda pulangnya?" tanya Annisa.
"Tergantung, cepat selesai atau tidaknya pekerjaan Bunda kamu Sayang."
"Bunda perginya, kok nggak pamit dengan Annisa Eyang?" tanya Annisa lagi.
"Tapi, Annisa 'kan tadi sedang di sekolah, dan Bunda terburu-buru ke bandara," jawab Mahen.
Mahen dan Papa Andara terpaksa berbohong, agar Annisa tidak sedih. Kemudian Mahen berkata, "Nisa pergi ke kamar dulu ya! Atau pergi main sama Simbok, Papa mau bicara penting dulu dengan Eyang," pinta Mahen.
"Iya Pa. Nisa ke kamar dulu ya Eyang," pamit Annisa kepada Eyang putri dan Eyang kakungnya.
Setelah Annisa tidak terlihat, Mama Intan pun bertanya kepada Mahen,
"Bagaimana Nak? Apa Kamu bertemu Bastian? Apa dia yang menculik Devani?" tanya Mama Intan yang sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Mahen.
Mahen menggeleng, lalu menjawab, "Bukan Bastian pelakunya Pa, Ma."
"Memangnya kamu yakin, bukan dia pelakunya?" tanya Papa Andara.
"Aku yakin Pa, soalnya Aku ngobrol dengan Bastian tadi di butik milik Mamanya. Dia sekarang kerja di sana untuk sementara menggantikan mamanya dan teman-teman Devani juga mengatakan jika Bastian selalu rutin datang ke tempat latihan."
"Jadi, kita harus mencari kemana Nak? Nggak ada petunjuk sama sekali. Mama sangat cemas, bagaimana keadaan Devani sekarang."
"Sekarang kita tenang, berdoa dan tunggu sampai besok, siapa tahu ada yang menelepon minta tebusan. Kamu istirahat dulu Hen! Papa tahu kamu sangat lelah dan jangan lupa makan, agar tidak sakit," ucap Papa Andara.
"Iya Pa, Ma. Aku ke kamar dulu. Mudah-mudahan segera ada kabar dari si penculik."
Setelah pamit kepada mertuanya, Mahen pun menaiki anak tangga menuju kamarnya. Malam ini dia akan tidur di kamar Devani.
Baru sebentar sang istri pergi, tapi Mahen sudah sangat merasa kehilangan. Kebahagiaan rumah tangga yang baru saja mereka rasakan, terusik dengan penculikan Devani.
Mahen membersihkan diri, lalu rebahan di kasur sambil memandangi foto Devani yang ada di ponselnya.
"Di mana kamu Yang? Semoga tidak terjadi apapun yang membahayakan mu," monolog Mahen.
Rasa lelah tidak membuat Mahen mengantuk, saat ini dia hanya berharap ada seseorang yang menelepon dan memberitahu jika istrinya itu baik-baik saja.
__ADS_1
Sementara Devani di gubuk yang ada di tengah kebun itupun termenung, memikirkan keluarganya. Bagaimana keadaan Annisa, Mahen dan juga orangtuanya. Mereka pasti sangat cemas memikirkan dirinya.
Kamar, dimana Devani di sekap hanya memiliki penerangan yang remang-remang hingga membuat suasana jadi seram, apalagi di luar tidak ada penerangan karena rumah ini dikelilingi oleh tanaman-tanaman keras yang ada di kebun, seperti pohon manggis, pohon kelapa dan pohon buah lainnya.
Saat tubuhnya bergidik ngeri, tiba-tiba pintu kamar itupun terbuka dan kali ini yang mengantar makanan pun orangnya berbeda.
"Kau!" seru Devani.
"Iya, ini Aku! Selamat malam Nyonya Bos!"
"Kenapa kamu mengurungku di sini? Tolong lepaskan aku! Apa memangnya salahku kepadamu!" seru Devani lagi.
"Mau tahu salahmu apa? Salahmu adalah kau telah mengambil orang yang aku cintai!" jawab wanita itu sambil mencengkram dagu Devani.
"Semua sudah terlambat! Aku tidak bisa mendapatkanya, jadi siapapun juga tidak boleh mendapatkan Mahen. Termasuk Kau! Jadi bersiaplah, kau akan tinggal di sini selamanya, sampai dia menganggapmu telah mati dan akhirnya melupakan mu!" ucap Wanita itu lalu melepaskan cengkraman tangannya dan mendorong Devani hingga jatuh ke atas tempat tidur.
"Jangan mimpi! Kak Mahen pasti akan menemukan dan membebaskan Aku!" lawan Devani.
"Hahaha, silahkan kamu bermimpi. Kamu tahu, sekarang sedang berada di mana? Tempat terpencil yang tidak bakal ada orang yang kesini selain aku dan para pengawalku!"
"Jadi nikmatilah hari-hari mu di sini, sampai kamu tua dan mati!" ucap wanita itu sambil menutup pintu dengan keras hingga membuat Devani terkejut.
Devani pun berlari ke pintu menggedor, sambil berteriak, "Buka pintunya! Dasar pengecut! Beraninya main culik. Hai! Sekretaris gila! Ayo buka! Kau akan menyesal telah mengurungku di sini! Kak Mahen pasti bisa menemukanku dan kau akan segera di tendang dari perusahaan. Camkan itu!" ancam Devani.
Tapi percuma dia berteriak-teriak, perempuan itu telah pergi, sebab terdengar suara mobil meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Tubuh Devani luruh ke lantai, dia sudah berusaha tegar, tapi akhirnya menangis juga.
"Hiks...hiks...hiks, Kak Mahen cepatlah kesini! Kakak harus tahu, sekretaris mu itu sudah gila! Gila karena mencintaimu," monolog Devani sambil menangis.
Devani bangkit, dia mengambil kursi, lalu memukulkan kursi tersebut ke pintu, hingga kaki kursinya patah.
Pengawal Lusi datang, membuka pintu, lalu berkata, "Hai, kau! Jangan berisik, atau mau aku ikat dan bungkam mulutmu selamanya!"
Devani pun terdiam. Walau bagaimanapun, saat ini dia tidak bakal bisa menang jika melawan tenaga laki-laki.
Pengawal itu kembali mengunci pintu, saat melihat Devani diam dan kembali duduk di atas tempat tidur yang ada di sana.
Saat ini Devani mengalah dulu, tapi dia tidak akan pernah menyerah. Pasti ada jalan keluar agar dia bisa memberitahu Mahen dan kembali ke rumahnya.
Devani pun berbaring, dia mencoba memejamkan mata, di pelupuk matanya, terbayang wajah Annisa yang sedang menangis karena menunggu dan mencari dirinya.
Rasa marah, sedih serta rindu campur jadi satu. Devani kembali meneteskan air mata, lalu diapun bergelung dan akhirnya tertidur.
Malam pun berlalu, Devani terbangun saat subuh, lalu dia berteriak minta pengawal untuk membuka pintu, karena Devani mau ke toilet, membersihkan diri, untuk melaksanakan ibadah.
Pengawal pun datang, lalu mengikuti Devani berjalan ke arah toilet. Devani masuk dan pengawal itupun menunggu di depan pintu.
Selesai membersihkan diri dan berwudhu, Devani pun melaksanakan ibadah dengan fasilitas terbatas yang ada di sana.
Pengawal pun mengunci kembali kamar itu, lalu dia meminta rekannya untuk pergi membelikan sarapan.
__ADS_1