BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 44. LEBIH BERSAHABAT


__ADS_3

Ini pertama kali Mahen pergi berduaan dengan Devani, kecanggungan pun ada di antara keduanya.


Mereka saling diam selama perjalanan, Mahen pokus dengan stirnya dan Devani menatap jalanan dari kaca mobil.


Mahen berusaha memecah keheningan dengan bertanya, "Memangnya mama membawa Annisa kemana Van?"


"Eh...katanya ke taman bermain, habis itu mau makan di Mall atau di mana ya. Tapi kata mama, terserah Annisa saja maunya kemana," jawab Devani.


"Oh...soalnya mama nggak bilang sama aku jika ingin membawa Annisa, makanya aku mau kita pergi bertiga," ucap Mahen.


"Akupun sudah bilang sama Mama bahwa kita akan pergi, tapi Annisa malah memilih ikut mereka, kata mama mumpung Hans masih di sini, jadi dia ingin mengajak Annisa bermain dan jalan sepuasnya," ucap Mahen.


"Iya sih, aku tahu Hans selalu memanjakan Annisa sejak dulu. Setiap yang diminta oleh Annisa selalu dituruti, meski hanya sebuah penjepit rambut yang di kirim dari Turki," ucap Mahen.


"Mungkin karena keponakan satu-satunya maka Hans tidak tega menolak permintaan Annisa."


"Iya kamu benar, bukan hanya Hans tapi Oma dan Opanya juga sama," ucap Mahen lagi.


Oh ya Vin, maaf sebelumnya, apa Bastian ada menghubungimu?" tanya Mahen.


Devani memberanikan diri menatap Mahen, lalu dia menjawab, "Jangan bicarakan dia lagi Hen, hubungan kami sudah selesai," ucap Devani.


"Walaupun dia memohon dan datang saat pernikahan kita, apakah kamu akan tetap menolaknya?" tanya Mahen lagi.


"Iya, sekali aku putuskan sesuatu, aku tidak akan menariknya kembali," jawab Devani.


Mahen menarik nafas lega, lalu dengan tersenyum diapun memutuskan menambah kecepatan mobilnya supaya cepat sampai ditujuan.


"Oh ya Van, nanti temani aku untuk menemui tamu dari Jepang ya," ucap Mahen.


Devani hanya mengangguk, mungkin ini salah satu keseriusan Mahen, hingga mengajak dan akan memperkenalkan diri Devani di depan rekan bisnisnya.


Mahen terus melajukan mobilnya ke area pertokoan di dekat Mall, dia parkirkan kenderaannya lalu mengajak Devani ke salah satu toko perhiasan langganan almarhumah istrinya.


"Selamat sore Pak! ada yang bisa kami bantu," sapa salah satu pelayan toko.


Begini Mbak, kami ingin pesan satu set perhiasan dengan desain terbaik yang ada di sini.


"Oh, sebentar ya Pak," ucap pelayan toko.


Setelah menunggu beberapa menit pelayan datang bersama pemilik toko dengan membawa berbagai bentuk perhiasan yang memang lagi ngetrend saat ini.

__ADS_1


Ketika melihat siapa yang datang ke tokonya, pemilik toko pun tersenyum sambil berkata, "Apa kabar Pak Mahen, senang sekali Anda masih mau datang ke toko kami," ucap pemilik toko yang ternyata masih mengenal Mahen.


"I-ini...?" pemilik toko tercengang saat melihat ke arah Devani.


Mahen tahu apa yang pemilik toko maksud, lalu Mahen pun segera menjelaskannya, "Ini kembaran almarhumah istriku dan calon istri saya," ucap Mahen.


"Oh... selamat Pak Mahen, selamat Nona, aku sempat terkejut tadi, kupikir..." ucapan pemilik toko kembali terhenti.


"Istri Saya hidup kembali," ucap Mahen sambil tersenyum.


"Iya, maaf ya Pak, Nona. Habisnya sama persis sih, dan selama ini Bapak serta almarhumah tidak pernah cerita jika Ibu memilliki kembaran," ucap pemilik toko lagi


"Nggak apa-apa Pak," jawab Devani singkat.


"Oh ya Pak, Nona, silahkan di lihat lihat, ini koleksi terbaik bulan ini yang lagi trend, ada satu lagi tapi barang belum masuk dan itu hanya khusus pesanan saja," ucap pemilik toko.


"Van silahkan dilihat dan pilih saja mana yang kamu suka," pinta Mahen.


"Aku terserah kamu saja Hen, kamu kan tahu sejak dulu, aku tidak terlalu memikirkan tentang perhiasan, jadi aku tidak paham mana yang terbaik," jawab Devani.


Memang sejak dulu Devani selalu menolak jika sang mama mengajaknya untuk membeli perhiasan beda dengan Devina yang suka berhias diri.


"Baiklah kalau begitu, boleh Saya lihat desain perhiasan yang belum masuk Pak?" tanya Mahen.


"Jadi kapan barangnya ready Pak," tanya Mahen.


"Besok siang Pak, besok karyawan saya yang akan mengantar ke kantor seperti biasa," ucap pemilik toko.


"Oke kalau begitu Pak, kami permisi dulu, aku tunggu besok ya Pak," ucap Mahen.


"Terimakasih atas kunjungannya Pak, dan semoga terus menjadi langganan toko kami. Senang berkenalan dengan Nona," ucap pemilik toko sambil tersenyum.


Devani membalas dengan senyum dan ucapan terimakasih, lalu mereka pun pergi meninggalkan toko tersebut menuju ke cafe dimana Mahen berjanji untuk menemui tamunya.


"Kenapa kamu tidak menyukai perhiasan, bukankah itu paling umum di sukai oleh para wanita?" tanya Mahen semakin heran dengan kepribadian Devani.


"Hanya mengundang kejahatan dan menimbulkan dosa," jawab Devani.


"Ya memang sih mengundang kejahatan tapi dipakainya jangan setiap hari, saat pada momen istimewa atau moment penting saja. Kalau menimbulkan dosa, kita beli, bukannya mencuri?" tanya Mahen balik.


"Pamer...itu yang menimbulkan fitnah dan akhirnya jadi dosa. Perhiasan 'kan termasuk barang mahal apalagi intan berlian, jadi hanya golongan tertentu yang sanggup membelinya. Iri dan dengki, sedikit banyak pasti ada, tapi ya sudahlah...itu cuma pemikiran ku," jawab Devani.

__ADS_1


Mahen terdiam, ternyata selama ini dia salah, telah memandang sebelah mata kepada wanita yang duduk di sebelahnya.


"Lengan dan kaki kamu bagaimana? masih terasa sakit?" tanya Mahen.


"Nggak, hanya sesekali terasa ngilu, " jawab Devani.


"Kenapa waktu itu tidak dioperasi saja atau dipasang gips Van? lalu ikut fisioterapi," ucap Mahen.


"Aku takut," jawab Devani malu.


"Lho...aku nggak nyangka kamu punya rasa takut juga. Saat balapan, kemana menghilangnya rasa takutmu Van?"


"Itu jelas beda, jika sudah hoby dan cinta apapun bisa kita lakukan, bahkan terkadang tanpa pakai logika," jawab Devani lagi.


"Nah itu yang salah! Kalau membahayakan harus dipikir, untuk apa dilakukan!" ucap Mahen.


"Asyik aja sih, jika sudah di atas motor seperti sedang di atas angin, penuh tantangan," ucap Devani.


"Oh...mau yang seperti, merasa di atas angin, suatu hari nanti akan aku bawa kamu kesana, pastinya lebih asyik dan bisa mensyukuri keindahan ciptaan-Nya, tapi pilih yang resiko bahayanya lebih kecil," ucap Mahen.


"Ngomong-ngomong, besok belum ngantor 'kan?" tanya Mahen.


"Pinginnya ngantor sih, tapi belum dibolehin sama Papa, tunggu sehat benar katanya."


"Iya, papa kamu benar, besok aku temani ke dokter ya? Aku rasa tulang kamu belum menyatu dengan baik," ucap Mahen.


"Karena proses penyembuhan yang tidak sempurna, penanganan yang tidak tepat serta adanya kelainan bentuk tulang, atau akibat aktivitas yang terlalu berat pada saat proses pemulihan, itulah yang sering menimbulkan rasa ngilu."


"Selain itu rasa ngilu juga bisa karena adanya ketegangan otot, tarikan pada ligamen, atau cidera pada otot," ucap Mahen lagi.


"Kok kamu tahu? Kamu sebenarnya pengusaha atau Dokter?" canda Devani.


"Pingin jadi Dokter, tapi nggak kesampaian," jawab Mahen sambil nyengir kuda.


Keduanya kini sudah mulai bisa berkomunikasi dengan hangat, lalu Mahen berkata lagi, "Jika masih merasakan rasa nyeri, dan dirasa ada gangguan pergerakan maka harus segera diperiksakan Van, hingga dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik secara langsung dan dapat dilakukan foto rontgen atau CT scan untuk mencari tahu penyebab keluhan," ucap Mahen.


"Dan untuk mengurangi nyeri, sementara bisa mengkonsumsi paracetamol sesuai dengan dosis, hindari aktivitas yang terlalu berat, serta kompres dengan handuk dingin atau hangat untuk mengurangi nyeri tersebut," lanjut Mahen.


"Salut lihat Pak Dirut yang satu ini, jangan-jangan di perusahaan, sambil buka praktek," ucap Devani lagi.


"Kamu bisa saja Van, ayo kita turun! nggak enak jika keduluan tamunya yang sampai," ucap Mahen sambil membukakan pintu mobil.

__ADS_1


"Oke Pak Bos," ucap Devani.


Devani merasa Mahen hari ini, berbeda dengan Mahen yang biasanya, dia terlihat lebih bersahabat, nggak kaku serta otoriter seperti anggapan Devani selama ini.


__ADS_2