
Mahen kini berada di halaman cafe di mana sahabat Devani dan para anak asuh mereka sedang berlatih memainkan alat musik.
Saat melihat Mahen, anak-anak tersebut berlarian mendekat, mereka berterimakasih atas pemberian Mahen. Lalu mereka menanyakan kenapa Devani hari ini tidak ikut datang bersama dengan Mahen.
Mahen tidak bisa menjelaskan permasalahannya dengan anak-anak tersebut, dia hanya mengatakan jika Devani sedang ada tugas di kantor yang tidak bisa dia tinggal.
Anak-anak pun akhirnya paham dan mereka kembali pada kegiatannya masing-masing. Sedangkan Mahen mendekati salah satu teman Devani yang hampir seumuran dengan istrinya itu.
"Maaf Mbak, sebenarnya aku kesini ingin menanyakan apa Bastian ada datang hari ini kemari?" tanya Mahen.
"Belum Mas, kemaren Kak Bastian kesini dan mengatakan jika sekarang dia sudah bekerja, jadi hanya bisa datang saat malam hari."
"Oh, memangnya Bastian kerja di mana ya Mbak?" tanya Mahen.
"Kata Kak Bastian, dia membantu menangani pemasaran Butik milik mamanya. Sang Mama lagi repot mengurus bayi, makanya Kak Bas yang menangani untuk sementara."
"Oh gitu ya, terimakasih atas informasinya ya Mbak. Aku permisi dulu dan aku titip ini buat di bagikan ke anak-anak," ucap Mahen sambil memberikan sejumlah uang.
Melihat Mahen pergi, gadis itupun mengejarnya, "sebentar Mas! masih ada yang ingin aku tanyakan!"
Kemudian Mahen menoleh dan bertanya, "Ada apa Mbak?"
"Sebenarnya, kenapa Mas mencari Kak Bastian?"
Mahen pun menceritakan tentang hilangnya Devani, dan sebelum ini juga pernah menghilang, tapi akhirnya bisa di temukan ternyata ulah Bastian yang tidak merelakan jika Devani memutuskan untuk menikah.
"Tapi Mas, aku rasa kali ini bukan Kak Bas, soalnya dia selalu rutin kesini setiap hari. Sebelum Kak Bas bekerja, dia di sini seharian, mengajari anak-anak, aku memang melihat ada kesedihan dibalik senyum yang dia paksakan. Nah setelah bekerja, Kak Bas baru bisa malam hari kesini. Cobalah Mas selidiki, hari ini Kak Bas ada di Butik ibunya atau tidak. Semoga saja bukan Kak Bas pelakunya ya Mas."
"Iya, aku juga tidak ingin dia menjadi musuhku, karena kita sama memiliki tujuan untuk memperbaiki generasi muda yang lebih baik, apalagi dia penggagas dan pendiri kegiatan di sini," ucap Mahen.
"Iya Mas, kalian orang-orang baik, kami bersyukur bisa bertemu orang-orang seperti kalian."
"Baiklah aku permisi dulu ya, aku ingin mencarinya."
Mahen pun pergi, dia akan mencari Bastian di Butik mamanya sesuai yang dikatakan oleh gadis tadi.
Di sebuah rumah yang jauh dari pemukiman penduduk.
Devani yang baru sadar dari pingsan, matanya mengerjap-ngerjap, melihat sekeliling yang begitu sepi. Dia belum menyadari di mana saat ini dirinya berada.
Setelah kesadarannya pulih, Devani melihat di sebelahnya ada jendela berterali yang terbuka, lalu dia bangkit dan melihat keluar, ternyata di sana yang tampak hanya sebuah hamparan kebun yang sangat luas.
__ADS_1
Devani berjalan ke arah pintu dan mencoba membukanya tapi pintu itu terkunci.
"Dimana ini! siapa yang membawaku kesini?" monolog Devani sambil memegangi kepalanya yang masih pusing.
Kemudian Devani kembali duduk di atas dipan yang ada di kamar itu, karena rasa pusing telah membuatnya sempoyongan dan hampir saja terjatuh.
Sembari memijat kepalanya, Devani mengingat kejadian terakhir saat dia di hadang sebuah mobil box dan tiba-tiba di bekap mulutnya, setelah itu dia tidak mengingat apapun.
"Tas, tasku mana ya," ucap Devani sambil mencari ke sekelilingnya.
Ternyata tasnya terletak di atas meja yang ada di sudut ruangan. Lalu Devani mengambil tas tersebut, ternyata isinya masih lengkap, dompet yang berisi kartu-kartu Atm juga masih ada, tapi ponselnya yang tidak ada di sana.
Rumah itu sangat sepi, tidak ada suara satu orangpun di sana, tapi Devani mendengar suara deru mesin mobil, mungkin itu dia si penculik.
Lalu dia mencoba berteriak lewat jendela, hasilnya juga sama.
Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 12 siang, perutnya pun keroncongan karena pagi tadi dia hanya sarapan sedikit.
Saat Devani beranjak ingin menggedor lagi, tiba-tiba terdengar suara orang membuka kunci dan membuka pintu.
Seorang lelaki tinggi dan kekar memakai penutup wajah membawa sebungkus makanan. Devani mencoba mendekat, walau sebenarnya diapun takut, tapi tidak ada pilihan lain.
"Siapa kamu! Kenapa aku di kurung di sini! Tolong lepaskan aku, berapapun uang yang kamu minta pasti akan aku berikan!" teriak Devani.
Orang itu hanya diam, lalu keluar dan mengunci pintu kembali.
__ADS_1
Devani heran, sebenarnya apa maksud dia di kurung di sini. Jika memang uang yang mereka inginkan pastilah uang tunai 3jt di dompetnya ludes beserta 3 kartu Atm yang dia punya.
Karena lapar, akhirnya Devani putuskan untuk membuka bungkusan tersebut, ternyata isinya nasi Padang beserta air minum.
Devani harus punya tenaga untuk bertahan dan mencoba keluar dari tempat itu, makanya tanpa menunggu lagi diapun menyantap makanan itu hingga habis.
Setelah itu, dia berpikir bagaimana caranya untuk keluar. Devani mencari alat yang bisa digunakan untuk mencongkel pintu atau terali, tapi dia tidak menemukan apapun di kamar itu selain lemari usang yang isinya hanya beberapa helai baju.
Tanpa berputus asa, Devani berteriak, menggedor pintu sambil berkata bahwa dirinya ingin ke toilet.
Tadinya teriakan Devani tidak di gubris, tapi karena dia bilang akan buang air besar di dalam kamar, jika tidak di buka juga, akhirnya lelaki yang mengantar makanan itupun membuka pintunya kembali.
"Cepat! Aku tidak boleh membiarkan kamu berlama-lama di luar!" ucap pria itu dengan suara berat.
Ternyata di luar terdengar suara seorang wanita sedang memberi perintah kepada seseorang dan Devani sepertinya mengenal suara itu tapi diapun tidak ingat siapa.
Di dalam toilet Devani mencoba mencari jalan keluar tapi dia hanya menemukan sebuah lubang angin yang kecil.
Karena kelamaan di dalam toilet, penjaga pun menggedor pintu dan memintanya agar cepat keluar.
Kali ini Devani terpaksa menyerah, dia harus mencari jalan lain untuk bisa keluar dari tempat itu. Sementara ini dia harus mengikuti setiap aturan dari penjaga.
Devani kembali di kurung di dalam kamar, dia hanya bisa memandang hamparan kebun dari jendela dan menyaksikan sebuah mobil keluar dari tempat itu.
Dia merenung sambil menduga, bahwa wanita tadi mungkin dalang dari penculikannya. Sebab dari nada suaranya yang memberi perintah kepada para penjaga, sudah bisa di pastikan dialah bos para penjaga itu.
__ADS_1
Setahu Devani, dia tidak pernah bermusuhan dengan seorang wanita, malah tadinya dia menduga bahwa ini adalah ulah Bastian lagi.