
"Bersiaplah Sayang sama bunda, tadi Papa sudah pesan ke bunda untuk menolongmu bersiap, setelah ashar kita berangkat bersama Oma, Opa dan Om Hans. Kita akan tinggal di rumah plamboyan selama Opa dan Oma kamu di Indonesia," ucap Mahen.
"Jadi bunda ikut tinggal di sana Pa?" tanya Annisa.
"Bunda tetap di sini Sayang, jika bunda ikut, siapa yang akan menemani eyang," ucap Mahen.
"Kan ada Simbok!"
Devani yang baru turun, mendengar perkataan Annisa langsung menjawab, "Besok bunda 'kan sudah harus masuk kerja Sayang, kalau dari rumah Papa ke kantor eyang... jauh, bisa-bisa bunda telat ngantor setiap hari," ucap Devani sambil mengelus rambut Annisa.
"Ya sudah, Bunda nggak usah kerja, temani Annisa saja di rumah, biar Papa yang kasi uang untuk Bunda. Papa 'kan direktur, uangnya banyak seperti eyang kakung juga."
Semua yang mendengar perkataan Annisa terdiam, hanya mama Mahen yang senyum-senyum sendiri. Beliau jadi dapat akal lagi, bahwa Annisa bisa dijadikan titik kelemahan untuk Mahen dan Devina.
Melihat semua cuma diam, Annisa berlari dan duduk di pangkuan eyang kakungnya, lalu dia berkata, "Yang Kung, boleh ya, bunda tinggal di rumah papa, di perusahaan Eyang 'kan sudah banyak yang kerja, jadi bunda biar dirumah saja untuk temani Nisa."
"Kalau Eyang nggak bisa memutuskan, semua terserah Papa sama bunda saja," ucap Papa Andara sambil memandang Mahen yang tertunduk.
Hansen yang melihat sang Kakak hanya diam, langsung menanggapi ucapan Papa Andara.
"Nisa beneran mau? Bunda di rumah saja, temani Nisa?" tanya Hans.
"Iya Om," jawab Nisa sungguh-sungguh.
"Sekarang... mintalah sama Papa kamu agar menikahi bunda, jadi bunda bisa selamanya tinggal bersama Nisa dan jadi mama Nisa," ucap Hans sambil menatap sang Kakak.
"Hansen! Lancang sekali kamu! Nisa itu hanya anak kecil yang belum ngerti apa-apa, nggak perlu kamu kompor-kompori," bentak Mahen.
Hansen santai saja menghadapi sikap kakaknya, lalu dia berkata lagi, "Kalau papa kamu nggak mau, ya sudah, Nisa tinggal sama Om saja, biar Om yang minta sama Eyang untuk mengijinkan Om menikahi bunda dan kamu boleh panggil bunda itu mama dan kamu panggil Om, papa," ucap Hans tanpa takut semua akan marah.
"Jadi... Papa tinggal sama siapa Om? Kasihan 'kan, Om, jika Papa harus tinggal sendiri."
__ADS_1
"Sama keegoisannya. Kamu saja yang masih kecil punya rasa iba, nah! Papa kamu yang tidak lagi muda hanya memikirkan dirinya sendiri," ucap Hans telak membuat Mahen naik darah.
Mahen bangkit dari tempat duduknya, lalu menarik Hans ke teras dan spontan menamparnya di sana. Mahen tidak ingin melakukan hal itu di hadapan para orang tua tapi dia harus memberi pelajaran ke adiknya agar jangan terlalu lancang mencampuri urusan pribadinya.
"Devani yang mengejar mereka dan melihat Mahen sudah mengangkat tangannya, ingin menampar Hans lagi, segera berteriak, "Hentikan! Kalian jangan seperti anak kecil. Kalian berdua nggak berhak mengikut campur 'kan aku dalam masalah ini."
Sejenak Devani terdiam, lalu melanjutkan ucapannya lagi, "Aku menyayangi Annisa seperti putriku sendiri, tapi siapa bilang aku mau memilih diantara kalian berdua. Aku bukan barang yang bisa seenaknya kalian oper kesana sini!"
Setelah mengatakan hal itu, Devani pun berlari ke kamar, mengunci pintu dan menangis dibalik bantalnya.
"Kalian! Lihat itu...Devani jadi nangis gara-gara kalian! Papa nggak mau tahu, sekarang juga kalian selesaikan masalah ini, sebelum kita pulang ke rumah Kamboja," ucap Papa Emir.
Keduanya saling pandang, lalu Mahen berkata, "Kamu sih, yang mulai!"
"Karena Kakak egois dan keras kepala. Apa sih susahnya menyenangkan hati orang tua dan anak. Jangan sampai Kakak menyesal, saat Devani sudah dilamar pria lain. Dia itu gadis baik Kak, walau dia kegemarannya di jalanan tapi demi Annisa dia rela meninggalkan itu semua," ucap Hansen.
"Kamu kok tahu banyak tentang dia, aku jadi curiga nih!" ucap Mahen.
"Ayolah Kak, kita minta maaf sama Devani, jangan gara-gara hal ini nanti malam kita gagal jalan-jalan. Nanti Annisa bakal kecewa lho!" ucap Hansen lagi.
Mereka berdua berjalan menuju ke lantai atas, ingin meminta maaf kepada Devani.
Mahen mengetuk pintu kamar Devani sambil berkata, "Van...tolong buka pintunya, kami ingin bicara. Aku tahu...aku salah, aku ingin minta maaf," ucap Mahen.
Devani tidak menghiraukan panggilan Mahen, dia menutup telinganya sambil masih terisak.
Melihat sang Kakak gagal, Hansen maju, dia ingin mencoba, siapa tahu berhasil membuat Devani membuka pintu kamarnya.
"Van...ini aku Hansen. Aku minta maaf Van, semua ini salahku. Aku janji setelah ini tidak akan pernah mencampuri urusan kalian lagi," ucap Hansen.
Untuk beberapa saat keduanya menunggu, tetap tidak ada reaksi dari dalam kamar Devani. Akhirnya kedua kakak adik itu menyerah dan hendak kembali ke ruang tamu.
__ADS_1
Annisa yang melihat Papa dan Om nya hendak turun tanpa bundanya, segera berlari menghampiri dan bertanya, "Mana bunda Pa? bunda masih marah ya Om?" tanya Annisa.
Keduanya hanya mengangguk, lalu menuruni anak tangga, masih dua langkah Annisa berkata, "Stop! Ayo ikut Nisa Pa, ayo Om," ucap Annisa sambil menggandeng tangan papa dan om nya untuk kembali ke kamar Devani.
Annisa mengetuk pintu kamar Devani sambil berkata, "Bunda...ini Nisa, buka pintunya dong Bun. Nisa mau minta maaf, semuanya salah Nisa Bun."
"Sekarang Nisa nggak akan paksa Bunda lagi, Bunda boleh kerja di kantor eyang, kok. Nisa sudah besar, jadi Nisa harus bisa mandiri, nggak akan nyusahin Bunda lagi."
"Nisa janji Bun, tapi Bunda juga harus buka pintu ya, dan maafin Nisa. Kalau Bunda nggak mau maafin Nisa, Nisa akan berdiri di sini terus sampai Bunda mau bukain pintu," ucap Annisa.
Awalnya Devani tidak mengindahkan omongan Annisa, tapi setelah sekitar 20 menit berlalu masih terdengar suara batuk Annisa di depan pintu kamarnya, Devani pun tidak tega.
Annisa tidak bersalah, kenapa dia harus menghukumnya dengan membiarkan gadis kecil itu berdiri lama di sana.
Perlahan pintu kamar Devani terbuka, tapi begitu dia melihat Mahen dan Hansen juga berdiri di sana, Devina hendak menutupnya kembali. Mahen langsung menahannya, lalu dia meminta maaf, begitu juga dengan Hansen.
Annisa tersenyum lalu dia memegang tangan Mahen dan Devina sambil berkata, "Maafin Papa Nisa ya Bun."
Setelah itu Annisa memegang tangan Hans dan mengulurkan kepada Devani, lalu berkata, "Maafin Om Hans juga ya Bun."
Kemudian dengan senyum ceria, Annisa pun bersorak, "Horee...nanti malam kita jadi perginya 'kan Pa? Iya 'kan Om dan Bunda juga ikut 'kan?" tanya Annisa.
Melihat semua terdiam, Annisa menggoyang-goyangkan tangan sang papa, wajahnya tampak memelas hingga membuat Mahen tidak mampu untuk berkata tidak.
"Iya," jawab Mahen.
"Bunda?" tanya Annisa sambil menarik tangan Devani.
Devani juga tidak tega melihat bocah kecil itu kecewa, lalu diapun mengangguk.
Kali ini yang bersorak bukan lagi Annisa tapi Hansen hingga membuat Mahen menarik telinganya.
__ADS_1
Hansen mengelus telinganya yang sakit hingga membuat Annisa dan Devani tertawa.