BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 78. PENCULIKAN KEDUA


__ADS_3

Lusy datang membawa kotak P3K yang Mahen minta, dia terkejut saat melihat tangan bosnya berdarah.


"Apa yang terjadi Bos?" tanya Lusy khawatir.


Kemudian dia berkata lagi, "Sini Bos, biar aku saja yang bersihkan luka Bos," ucap Lusy sambil mengeluarkan kapas, alkohol, kain kasa, perban dan juga Betadine.


Lusy dengan cekatan melakukannya, dia senang, sekaranglah kesempatannya untuk bisa memegang tangan bosnya.


Jantung Lusy berdegup kencang, saat dia mendongak dan ternyata Mahen sedang menatapnya.


Ternyata Mahen memujinya dengan berkata, "Kamu cocok untuk jadi perawat Lus, lihatlah balutan perban itu begitu rapi dan kamu cekatan melakukannya."


Lusy senang, hatinya berbunga-bunga mendapatkan pujian dari Mahen dan dia bertekad, bagaimanapun caranya dia harus mendapatkan pria di hadapannya ini. Lusy tidak peduli walau Mahen sudah menikah.


Tugas Lusy sudah selesai tapi karena dia melamun, Lusy tidak melepaskan pegangan tangannya terhadap tangan Mahen.


"Lus, tugasmu sudah selesai, kembalikan kotak P3K itu ke tempatnya semula. Oh ya, petugas cleaning service nya sudah kamu hubungi?" tanya Mahen sambil menarik tangannya.


"Eh...iya sudah Bos! sebentar lagi juga kesini."


Lusy meninggalkan ruangan, berbarengan dengan datangnya cleaning service yang akan membereskan pecahan kaca tersebut.


Mahen yang masih merasa perasaannya tidak enak, segera melakukan panggilan kepada Devani.


Telepon Devani berdering, tapi tidak di angkat. Mahen mengulangnya beberapa kali tapi hasilnya tetap sama.


"Ayo Yang angkat, kamu kemana?"


Mahen semakin cemas, lalu dia menelepon rumah Andara dan mbok Ijah yang sedang membereskan dapur buru-buru mengangkatnya.


"Hallo, eh...Aden. Ada apa Den?" tanya Simbok.


"Mbok, Devani kemana ya, kenapa aku telepon ponselnya berdering tapi tidak di angkat," tanya Mahen.


"Non Vani pergi ke pasar Den, sudah satu jam yang lalu, barangkali ponselnya di dalam tas, karena di pasar kalau pagi sangat ramai, jadi mungkin saja Non Vani nggak dengar ada panggilan," ucap Mbok Ijah.


"Oh, mungkin juga ya Mbok. Di rumah, semua baik-baik saja 'kan Mbok?" tanya Mahen lagi.


"Semua baik kok Den, Nyonya baru saja masuk ke kamar dan Tuan sudah pergi ke kantor," jawab Mbok Ijah.


"Memangnya ada apa Den?" tanya Mbok Ijah.

__ADS_1


"Ntahlah Mbok, perasaanku tidak enak, baru saja foto pengantin kami yang ada di ruang kerjaku jatuh dan pecah padahal baru kemaren aku minta orang untuk memasangnya dan gelas yang aku pegang juga retak Mbok," cerita Mahen.


"Mudah-mudahan bukan pertanda buruk ya Den," ucap Simbok.


"Iya Mbok. Nanti, jika Devani pulang, minta tolong suruh telepon Aku ya Mbok. Sekarang aku mau hubungi guru Annisa untuk menanyakan keadaannya," ucap Mahen.


"Iya Den, semoga semua baik-baik saja," ucap Simbok lagi.


Mahen mencari nomor kontak guru Annisa, lalu melakukan panggilan untuk menanyakan tentang keadaan Annisa dan apakah sopir barunya juga masih menunggu di sana.


Ternyata Annisa baik-baik saja, bahkan dia sedang gembira, bermain dengan teman-temannya di halaman sekolah. Sementara Pak Sopir masih anteng menunggu bersama ibu-ibu yang lain.


Mahen merasa lega, Annisa aman di sekolah, saat ini pikirannya terfokus kepada Devani.


Mahen mencoba menghubunginya lagi dan ternyata ponsel Devani sudah tidak aktif. Hal ini semakin membuatnya khawatir. Akhirnya Mahen putuskan untuk keluar kantor dan mencari Devani.


Lusy yang melihat Bosnya tergesa-gesa keluar dari ruangannya pun bertanya, "Bos mau kemana? Bukankah sebentar lagi kita akan ada rapat dengan para pemegang saham?" tanya Lusy.


"Cancel jadwalku Lusy, bilang ke mereka ada kondisi darurat. Aku harus keluar sekarang juga," ucap Mahen.


"Baiklah Bos!" jawab Lusy.


Dia malah tersenyum melihat Bosnya pergi. Kemudian Lusy menghubungi seseorang dan terdengar jawaban di sana yang mengatakan semuanya beres.


Karena merasa penasaran, Mahen pun turun dan bertanya kepada salah seorang yang berkerumun di sana.


"Maaf Mas, ada kejadian apa ya! Kok banyak orang berkerumun?" tanya Mahen.


"Anu Mas, seorang warga menemukan sebuah sepeda motor dan kuncinya masih tergantung di motor tersebut, tapi tidak tahu siapa pemiliknya," ucap salah satu orang yang ikut berkerumun di sana.


"Kok bisa, jadi sekarang sepeda motornya mana Mas?" tanya Mahen yang ikut penasaran.


"Baru saja di bawa oleh seorang polisi ke kantor. Kebetulan tadi ada polisi yang sedang patroli keliling dan melihat keramaian di sini, mereka pun turun tangan."


"Memangnya merek sepeda motornya apa ya Mas?" tanya Mahen lagi.


Kalau nggak salah Honda Scoopy warna merah hitam keluaran tahun 2021 dan gantungan kuncinya adalah sebuah boneka kecil.


"Terimakasih ya Mas atas informasinya," ucap Mahen sambil kembali naik ke dalam mobilnya dan melajukan ke arah pasar.


Saat ini kecemasan pun melanda hati Mahen, dia jadi teringat jika merek dan warna motor yang di sebutkan oleh orang itu sama persis seperti motor milik Devani.

__ADS_1


Tapi sayangnya, Mahen lupa menanyakan nomor platnya. Karena jalanan macet, Mahen tidak mungkin berbalik lagi.


Lalu Mahen menghubungi Papa Andara dan menanyakan apakah Devani pagi ini ada menghubungi beliau atau tidak.


Sang Papa pun menjawab bahwa Devani tadi berangkat ke pasar saat papa hendak pergi ke kantor.


Akhirnya Mahen menceritakan bahwa dia tidak bisa menghubungi Devani dan di rumah juga tidak ada. Saat ini bahkan dirinya sedang ke pasar untuk mencari Devani.


Papa Andara pun cemas, beliau jadi teringat penculikan sebelum pernikahan Devani, apa hal itu akan terulang lagi di saat putrinya sekarang sudah bahagia.


Kemudian sang papa pun berkata kepada Mahen, "Kamu cari dulu ya Hen, ini papa segera menyusul kesana. Papa juga jadi khawatir."


Mahen yang sudah sampai di pasar pun mencari tempat untuk memarkirkan kendaraannya. Dengan di bantu oleh seorang petugas parkir, Mahen telah berhasil memarkirkan mobilnya.


Lalu, diapun turun dan mencoba bertanya kepada petugas parkir dengan menunjukkan foto Devani yang ada di dalam ponselnya.


Petugas parkir menggelengkan kepala, dia tidak bisa mengingat setiap orang yang datang ke pasar. Dan pagi ini saja sudah ratusan orang yang datang.


Mahen menghela nafas dan membuangnya perlahan. Dia memandang pasar tradisional yang begitu ramai pengunjung menjadi bingung darimana akan memulai pencarian.


Sebelum masuk ke pasar, Mahen mencoba menghubungi ponsel Devani kembali tapi tetap tidak aktif. Lalu dia menghubungi Mbok Ijah lagi, hasilnya tetap sama.


Ketika teringat gantungan kunci yang disebutkan orang tadi, Mahen pun bertanya kepada Simbok barangkali simbok tahu tentang gantungan kunci motor millik Devani.


Selama ini Mahen kurang memperhatikan hal itu, karena motor itu tidak pernah digunakan oleh siapapun selain Devani. Dan belakangan motor itu hanya menjadi penunggu garasi saja.


Simbok yang memang tahu langsung menyebutkan bahwa gantungan kunci motor Devani adalah sebuah boneka.


"Jantung Mahen berdetak kencang, apakah benar firasat buruknya tadi, telah terjadi sesuatu terhadap istrinya itu.


Untuk memastikan, Mahen berkeliling pasar, tapi dia tidak melihat Devani di antara para pengunjung.


Papa Andara juga telah sampai di sana, lalu beliau menelepon Mahen. Mahen langsung kembali ke parkiran untuk menemui Papa Andara, lalu dia menggelengkan kepala yang menandakan bahwa Devani tidak ada di sana.


Papa Andara mencoba menelepon sang istri untuk menanyakan apakah selain tujuan ke pasar, Devani memiliki tujuan lain kepergiannya pagi ini.


Mama Intan terkejut, setahu beliau Devani hanya pamit untuk pergi ke pasar. Mama menangis, lalu di tenangkan oleh Mbok Ijah.


Mahen yang teringat dengan motor tanpa pemilik yang di tinggal di tengah jalan pun segera menarik lengan sang papa dan berkata, "Ayo Pa! Kita ke kantor polisi!"


Papa awalnya menolak, karena Devani baru hilang sekitar 4 jam-an, jadi tidak mungkin untuk lapor polisi dan bakal tidak di tindak lanjuti oleh aparat kepolisian sebelum 2×24 jam.

__ADS_1


Namun Mahen menjelaskan tentang masalah motor tadi. Papa pun penasaran, beliau ingat nomor plat motor Devani dan ingin segera melihat apakah benar yang ada di kantor polisi itu, benar motor milik Devani atau bukan.


__ADS_2