BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 46. TERNYATA SALAH DUGA


__ADS_3

Di dalam cafe ternyata mereka berlatih bermain musik, mengadakan pertunjukan pentas drama, mengajari anak-anak pengamen jalanan serta pengemis yang tidak pandai baca tulis. Bukan itu saja, mereka juga membekali anak-anak itu dengan berbagai keterampilan.


Ternyata cafe tersebut mereka bangun dari sumbangan Devani dan teman-temannya yang merupakan anak-anak dari keluarga berada.


Sementara pengelolaannya dipercayakan kepada keluarga dari salah satu pengamen yang mereka percaya. Sedangkan keuntungan dari penjualan makanan dan minuman tersebut mereka gunakan untuk biaya pelatihan serta untuk membeli alat-alat yang dibutuhkan dalam belajar.


Satu hal lagi yang membuat mata Mahen terbuka dan malu, ternyata mereka tidak meminum-minuman keras seperti dugaannya.


Di cafe tersebut hanya menjual makanan dan minuman yang halal. Malah dirinya yang pernah salah langkah, menghilangkan stres dengan pergi ke klub serta meminum minuman beralkohol.


Devani di sana bertugas sebagai salah satu pengajar untuk mengenalkan baca tulis.


Akhirnya Mahen ikut bergabung dengan mereka, dia membantu mengajarkan bagaimana bermain gitar dengan baik.


Permainan Mahen ternyata berhasil memukau mereka semua yang hadir di sana dan dia berjanji akan menyumbang satu set alat musik lengkap, termasuk drum dan gitar listrik.


Kali ini Devani yang terpukau, dia tidak menyangka Mahen pandai memainkan berbagai alat musik serta memiliki suara yang merdu dalam bernyanyi.


Anak-anak senang, mereka mengerumuni Mahen minta di ajarkan untuk memainkan alat musik. Tapi berhubung hari telah malam, Mahen tidak bisa memenuhi permintaan mereka malam ini, dia berjanji akan datang lagi kesana saat hari libur.


Devani memandang kagum, satu sisi kebaikan Mahen, baru dia ketahui hari ini, padahal mereka sudah menjadi bagian keluarga hampir 8 tahun.


Sebelum pulang, Mahen memberikan anak-anak itu uang jajan, lalu diapun pamit kepada teman-teman Devani, belajar melakukan Tos dengan mereka.


Sementara Devani memenuhi permintaan Mahen, dia hanya bertos dengan para teman wanita, sementara dengan para teman pria, Devani hanya melambaikan tangan saja.


Malam ini Mahen merasakan kesenangan tersendiri, dia bisa berbagi ilmu dan materi kepada anak-anak yang membutuhkan.


Selama perjalanan pulang, Mahen senyum-senyum sendiri, dia ingat selama ini telah mencaci, menganggap sepele pergaulan Devani dan teman-temannya.


"Kenapa ku perhatikan sejak tadi kamu senyum-senyum sendiri Hen?" tanya Devani yang merasa heran.


"Aku salah sangka selama ini terhadapmu, aku pikir pergaulanmu sangat buruk, ternyata aku yang buruk menuduh tanpa bukti," ucap Mahen.


"Jadi kamu benar serius, mau datang lagi untuk membantu mengajari anak-anak itu?" tanya Devani.


"Kenapa, apa tidak boleh?" tanya Mahen.


"Oh...dengan senang hati Pak Bos, tentu saja boleh kalau bisa pun jadi donatur buat mereka," ucap Devani.

__ADS_1


"Boleh juga usulmu. Oh ya Van, kenapa tadi kamu tidak memperkenalkan aku sebagai calon suamimu, melainkan hanya sebagai teman. Apa kamu malu? atau takut Bastian nanti tahu?" tanya Mahen.


Sejenak Devani diam, dia memang belum siap, untuk memberitahu mereka.


"Sudah nggak usah dipikirkan pertanyaanku tadi, aku nggak apa-apa kok jika kamu memang belum siap untuk memberitahu mereka. Oh ya, bagaimana tadi dengan suaraku, nadanya masih kurang pas ya?" tanya Mahen.


"Nggak kok, sudah sangat bagus malah menurutku, seperti penyanyi sungguhan, bedanya nggak punya panggung," ucap Devani sambil tertawa.


"Oh...kalau itu mah gampang, mau panggung yang seperti apa, aku tinggal booking," ucap Mahen.


"Percaya...Pak Direktur."


Mereka berdua bisa tertawa lepas malam ini, ternyata kesepakatan yang mereka buat bisa membawa kebahagiaan pada diri mereka masing-masing.


Pukul sepuluh malam Mahen dan Devani baru sampai rumah, kedua mama papa sudah menunggu kepulangan mereka sejak tadi.


Mama Mahen mengintip dari balik jendela, saat mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah.


Beliau melihat Mahen membukakan pintu mobil untuk Devani, lalu terlihat mereka berdua saling menyunggingkan senyum.


Mama Mahen mengelus dadanya sambil berkata alhamdulilah, ternyata rencananya untuk memberikan kesempatan mereka berduaan berhasil.


"Rencana kita berhasil, mudah-mudahan nantinya kita bisa secepatnya nambah cucu," ucap Mama Mahen sambil main mata kepada Mama Devina.


Para Papa hanya geleng-geleng kepala melihat kerjasama para istri mereka, yang berusaha membuat anak-anak agar akur.


Mahen dan Devani mengetuk pintu sambil mengucap salam, lalu Mama Mahen pura-pura agak lama membuka, dan batuk-batuk kecil dan menguap seperti habis bangun tidur, supaya Mahen dan Devani tidak curiga jika para orang tua sengaja menunggu kepulangan mereka dan sempat mengintip dari balik jendela.


"Ma... maaf ya, kami pulang kemalaman jadi mengganggu waktu tidur Mama," ucap Devani yang merasa tidak enak.


"Oh...pasti ulah Mahen nih, yang bawa kamu kemana-mana, sampai pulang larut. Pamali lho Hen, calon pengantin keluar rumah terlalu lama," pura-pura mama, padahal beliau senang, berarti mereka berdua sudah merasa nyaman jalan berduaan.


"Bukan salah Mahen Ma, aku yang salah, tadi Mahen aku ajak bertemu dengan teman-teman ku," bela Devani.


"Wah...nggak bisa lagi kita jewer putra kita Ma, sekarang sudah ada yang ngebela," ucap Papa Emir.


Mahen hanya tersenyum menanggapi ucapan orangtuanya, lalu dia mengalihkan pembicaraan, dengan menanyakan keberadaan Annisa.


"Ma, Annisa sudah tidur ya?" tanya Mahen.

__ADS_1


"Iya, tadi waktu pulang dia tertidur di mobil, kecapekan yang bermain barangkali, jadi langsung Hans pindahkan ke kamarnya," ucap Mama.


Oh...ya udah Ma, aku mau lihat Annisa dulu ya Ma, Pa," ucap Mahen.


"Aku juga mau ke kamar ya Ma, Pa," ucap Devani.


"Ya, istirahat lah kalian Nak, kami juga mau istirahat," ucap mama.


Mereka pun kembali ke kamarnya masing-masing. Mahen melihat Annisa dulu, setelah memberikan kecupan selamat malam, Mahen pun kembali ke kamarnya.


Devina dan Mahen masing-masing sudah bersiap untuk tidur, tapi mata mereka belum mau terpejam. Mahen teringat kejadian saat kebersamaannya tadi bersama Devani, begitu juga sebaliknya.


Karena tidak bisa tidur juga, Mahen kemudian menelepon Devani, "Hallo, Van! Ngobrol dulu yuk, aku belum bisa tidur, apa kamu sudah mengantuk?" tanya Mahen.


"Belum juga sih, ya sudah kalau begitu, aku buat teh dulu ya, barangkali setelah minum teh, kita bisa tidur nantinya," ucap Devani.


"Ya, aku tunggu di balkon ya, kita ngobrol di sana saja, sambil menikmati semilir angin dan kerlap kerlip lampu serta lalu lalang kendaraan yang masih lewat."


Mahen sudah menunggu di balkon saat Devani datang membawa dua cangkir teh dan keripik talas.


"Sudah malam masih mau ngemil?" tanya Mahen.


"Biarin deh...habisnya belum ngantuk, biasanya kalau habis ngemil aku baru bisa tidur," ucap Devani.


Mereka pun ngobrol tentang rencana kapan akan bertemu anak-anak di tempat tongkrongan Devani bersama teman-temannya.


Mahen banyak bertanya tentang anak-anak itu dan dia bertanya darimana awalnya Devani serta teman-temannya bisa punya ide kreatif seperti itu.


Sebenarnya Devani ragu untuk menjawab, tapi dia tidak mau berbohong, lalu diapun menyebutkan sebuah nama dengan ragu, "Bastian."


"Oh...jadi semua itu idenya Bastian?"


Devani pun mengangguk, lalu dia menyeruput teh buatannya, begitu juga dengan Mahen. Seketika suasana hening, lalu Devani memakan cemilan yang dia bawa tadi.


Mahen yang melihat Devani tidak berhenti mengunyah cemilan, lalu merampas toples yang ada di tangan gadis itu.


"Eh...sini dong Hen! Aku masih mau makan," ucap Devani sambil berusaha mengambil toples dari tangan Mahen.


"Nggak! Sudah malam, jangan ngemil terlalu banyak, nanti kamu sakit," ucap Mahen sambil berdiri dan mengangkat toples itu tinggi tinggi, lalu Devani melompat untuk mengambilnya, tapi naas, kakinya tersandung kursi, dan tubuhnya pun jatuh kedalam pelukan Mahen.

__ADS_1


__ADS_2