
Bastian masih berada di tempatnya, samar-samar dia melihat Devani tergeletak, tapi tubuhnya yang sempoyongan, membuatnya susah untuk turun dari sana.
Setelah berusaha, akhirnya Bastian berhasil turun dan mendekati Devani serta bersimpuh di hadapannya. Mata Bastian membulat, dia berteriak tak percaya dan menyesal karena perbuatannya telah melukai gadis yang dia cintai.
Ketika Bastian hendak membantu mengelap darah yang masih menetes di wajah Devani, Mahen menepis tangan Bastian sambil berkata, "Jangan kamu sentuh dia! Bisamu hanya menyakiti dia saja!" seru Mahen.
Namun, Bastian tidak memperdulikan ucapan Mahen, dia bermaksud menarik Devani ke dalam pelukannya, tapi Mahen kembali melayangkan tangannya sambil berkata, "Sudah aku bilang, jangan sentuh dia! kali ini kesempatan yang aku berikan untuk mu benar-benar habis!" ucap Mahen.
Lalu dia melanjutkan lagi ucapannya, "Padahal, aku sudah putuskan, jika pertemuan kalian hari ini, bisa membuatnya bahagia dan hubungan kalian bisa kembali, aku ikhlas melepaskannya."
"Tapi, saat melihat perilaku mu seperti ini, maaf! Bagaimana kamu bisa membahagiakannya, jika perbuatan mu selalu membuat hati dan raganya terluka."
"Pergilah! urus dirimu sendiri, aku akan membawanya ke rumah sakit," ucap Mahen sambil bangkit dan menggendong Devani berjalan meninggalkan tempat itu menuju mobil Devani.
Bastian memegang pipinya, sudut bibir Bastian pecah serta mengeluarkan darah akibat tepisan tangan Mahen yang tidak sengaja, ternyata kuat mengenai wajahnya.
Melihat Mahen pergi dengan kepayahan karena berjalan di atas pasir sambil menggendong Devani yang masih pingsan, Bastian pun mengejarnya, dia hendak membantu mengangkat Devani ke mobil.
Mahen tetap bersikeras, tidak mengizinkan Bastian untuk menyentuh Devani, tapi Bastian tidak peduli tetap ingin membantu.
Karena kesal, Mahen menurunkan Devani dan menyandarkan tubuhnya di dekat sebuah batang pohon yang telah mati, lalu dia mengepalkan kedua tangannya dan memukul Bastian hingga terjatuh dan terguling di pasir.
Mahen kemudian menggendong Devani kembali, berjalan cepat ke arah mobil tanpa menghiraukan bagaimana kondisi Bastian.
Setelah sampai ke mobil, Mahen langsung melajukan mobil itu keluar dari area pantai yang terlihat remang-remang karena rembulan baru mulai menampakkan wajahnya.
__ADS_1
Mahen sangat khawatir karena Devani belum juga sadar, sementara darah masih menetes dari lukanya. Dengan menyetir mobil diatas kecepatan rata-rata, Mahen berharap mereka akan segera sampai di rumah sakit.
Devani menggerakkan tubuhnya, ketika Mahen kembali mengusap darah yang menetes. Dia sudah sadar dan mengaduh begitu merasakan sakit serta perih di bagian wajahnya.
"Sabar Van, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit, kamu pegang kain ini dan tekan lukamu perlahan ya, untuk menghambat keluarnya darah," ucap Mahen.
"Apa sebenarnya yang terjadi Hen? Kenapa wajahku berdarah dan ini 'kan kemeja kamu, jadi kotor 'kan dengan darahku dan kamu sampai tidak memakai baju gara-gara aku," ucap Devani yang masih belum paham apa yang membuatnya terluka.
"Jangan kamu pikirkan lagi hal itu, sekarang yang terpenting, kita obati dulu lukamu," ucap Mahen.
Mereka pun sudah tiba di rumah sakit, dokter segera membersihkan luka Devani dengan sebuah cairan agar tidak terjadi infeksi, setelah itu memberinya obat dan menempelnya dengan perban.
Syukurnya, luka di pelipis Devani tidak terlampau dalam, hanya saja di sekitar pelipisnya itu jadi membiru dan membengkak.
Selesai diobati, dokter meminta Mahen agar mengompresnya dengan air es nanti, saat sudah tiba di rumah untuk mengurangi bengkak dan rasa sakit.
Dengan kepala yang pusing, Bastian berusaha pokus menyetir, walau terkadang laju mobilnya rada oleng.
Akhirnya, Bastian sampai juga di rumah sakit, dia langsung mencari Mahen dan Devani ke ruangan UGD. Bastian melihat Devani sedang duduk dengan perban menempel di pelipis matanya yang bengkak dan membiru.
Kemudian dengan malu, Bastian pun mendekati keduanya yang masih mengobrol tentang apa yang saat ini Devani rasakan pada lukanya.
Lalu dia pun berkata, "Maafkan aku Van, maafkan aku Hen, aku tidak bermaksud melukai Devani. Aku tidak sengaja, emosi dan pengaruh alkohol telah menguasai egoku hingga membuatmu jadi terluka," ucap Bastian sambil mengatupkan kedua tangannya dan tertunduk malu.
"Sudahlah Bas, aku tidak apa-apa kok, hanya luka kecil, sebentar juga sembuh. Cuma aku mohon, berhentilah minum, karena pengaruhnya bisa merusak akal sehat dan membuat orang jadi arogan hingga bisa melukai orang lain," ucap Devani.
__ADS_1
"Aku juga minta maaf Bas, karena ini juga salahku, hingga kamu seperti ini. Ku mohon, tata lah hidupmu lagi, kamu pasti akan menemukan wanita yang lebih baik dari," ucap Devani.
"Yakinlah Bas, jika kita memang berjodoh pasti Allah tetap mempertemukan kita, apapun itu ujiannya. Tapi maaf, mungkin aku memang bukan jodohmu dan Allah telah mengatur pertemuan antara aku dan Mahen," ucap Devani lagi.
Bastian terdiam, dia tidak tahu harus bagaimana bersikap, hatinya masih saja sakit dan belum ikhlas jika Devani bersama Mahen.
Kemudian Mahen berkata, "Aku juga minta maaf Bas, telah hadir di antara hubungan kalian, tapi mungkin memang takdir yang menentukan bahwa Devani adalah jodohku."
"Datanglah Bas, jika kamu berkenan, pernikahan kami akan diadakan lusa pukul 9 pagi dan anak-anak juga kami undang. Tapi, kami hanya mengadakan syukuran kecil-kecilan bukannya pesta," ucap Mahen lagi.
Mahen sebenarnya tidak tega dan terpaksa mengatakan hal itu, dia masih kesal karena Bastian telah melukai Devani.
Bastian hanya diam, tidak mampu menjawab ya ataupun tidak. Undangan Mahen telah menyadarkannya lusa Devani benar-benar akan menjadi milik Mahen sepenuhnya.
Devani kemudian berkata, "Pulanglah Bas, jangan bertindak yang aneh lagi, kamu harapan keluargamu. Sekali lagi maafkan aku Bas, dari sekarang kita hanya bisa temanan saja."
Selesai mengatakan hal itu, ponsel Mahen pun berdering, ternyata panggilan dari mamanya.
Mahen mengangkat panggilan tersebut, lalu menjelaskan kepada sang mama, agar jangan khawatir karena Devani diperbolehkan pulang oleh Dokter, tidak perlu rawat inap.
Saat ini mereka hanya menunggu perawat dan Dokter yang sedang mempersiapkan obat untuk di bawa pulang.
Mendengar bahwa Devani tidak perlu rawat inap dan segera pulang, Bastian pun akhirnya pamit sembari meminta maaf sekali lagi, atas apa yang telah dia lakukan.
Devani dan Mahen pun mengangguk, mereka hanya berharap, Bastian kelak akan menemukan kebahagiaannya meski tanpa Devani.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa waktu, perawat pun datang menyerahkan obat dan menjelaskan aturan minum, barulah dia memperbolehkan Devani pulang.
Mahen membayar terlebih dahulu biaya perobatan, lalu menggandeng tangan Devani, mengajaknya untuk pulang kerumah, karena para orangtua sangat mencemaskan keadaannya.