
"Hans... apakah kamu jadi pergi?" tanya Mahen.
"Jadi lah Kak!" jawab Hansen.
"Ayolah bersiap, Annisa juga sudah nunggu tuh di mobil, dia sudah tidak sabar."
"Sebentar Kak, tinggal pakai jaket dan sepatu saja kok," jawab Hansen.
"Aku tunggu di mobil ya!" ucap Mahen.
"Siap Kak!"
Mahen pun pamit kepada kedua orangtuanya, lalu menunggu Hans di mobil bersama Annisa.
"Ma...Pa, aku pergi dulu ya!" pamit Hans.
"Pergilah! Jangan kau buat marah lagi kakakmu ya," pinta mama.
Hans tidak menjawab, hanya memberi tanda oke dengan jarinya sambil bergegas pergi.
"Nis kita duduk di sini saja yuk!" ajak Hans agar Annisa duduk di bangku belakang bersamanya untuk memberi kesempatan agar Mahen dan Devani duduk berdua di bangku depan.
"Oke Om, kita main tebak-tebakan ya," ucap Annisa sambil pindah ke belakang.
"Siap! Om duluan ya."
"Rambut putih namanya uban, rambut merah adalah pirang, nah kalau rambut hijau disebut apa Nis?" tanya Hans.
Nisa pun berpikir sejenak, lalu dia menjawab, "Rambutan belum mateng!" seru Annisa sambil tertawa kesenangan karena yakin jawabannya benar.
"Ya...ketebak," ucap Hans.
"Sekarang giliran Nisa ya Om, Jus apa yang turun dari langit?" tanya Nisa.
Hans pun berpikir keras, menurutnya mana ada dan tidak mungkin jus turun dari langit. Hal yang mustahil menurutnya, lalu dia menjawab, "Justru itu aku tidak tahu."
"Hahaha...Om ternyata pintar," ucap Annisa sambil cekikikan.
"Sekarang giliran Om lagi ya, apa buktinya sayuran wortel baik untuk kesehatan?" tanya Hans lagi.
"Gampang itu Om," ucap Annisa.
"Ya apa jawabannya?" tanya Hans yang sangat yakin kalau Nisa pasti tidak bisa menjawabnya karena lama terdiam.
"Jawabannya, apa om pernah lihat kelinci pakai kacamata?"
__ADS_1
"Hahaha...kamu pintar banget sih," ucap Hans sambil mengelus rambut keponakannya.
"Ya iyalah Om...aku 'kan sering main tebak-tebakan sama bunda," jawab Annisa.
"Wow...bunda kamu ternyata pintar ya! Kalau begitu Om mau juga ikut belajar dengan bunda," ucap Hansen sambil melirik kakaknya yang sedang fokus menyetir.
Mahen pun melirik sang adik dari kaca spion mobilnya.
"Satu lagi ya Om, apa bahasa India nya bumbu dapur? ayo tebak...Om 'kan menguasai banyak bahasa," ucap Annisa.
"Jadee bootee," jawab Hans sangat yakin karena dia memang mahir berbahasa India.
"Om salah! hahaha..." ucap Annisa kegirangan.
"Jadi apa dong! itu sudah benar Nis, Om 'kan jago berbahasa India," ucap Hans.
"Bukan itu Om, yang benar adalah tumbar miri jahe," jawab Annisa sambil tertawa.
"Ah...kamu curang," ucap Hans sambil menggaruk kepalanya. Mahen yang melihat kegembiraan putrinya ikut tersenyum dibalik setirnya.
"Ini yang terakhir ya, kamu pasti tidak bisa nya," ucap Hans yakin.
"Apa Om, jangan sepele dengan Nisa Om! Nisa pasti bisa menjawabnya," ucap Annisa.
"Kenapa orang takut kehujanan?" tanya Hans.
"Nisa tahu!" seru Annisa.
"Tidak mungkin, kali ini kamu pasti kalah," ucap Hans lagi.
"Kalau Nisa yang menang, apa hadiahnya Om?"
"Terserah Nisa mau minta apa, pasti Om turuti, asal jangan minta Om pulang, karena Om masih rindu sama Nisa," ucap Hans sambil mencubit pelan kedua pipi Annisa yang chubby.
"Nanti saja nyusul apa hadiah yang akan Nisa minta, Nisa pikir-pikir dulu ya Om. Sekarang Nisa jawab tebakannya, jawabannya adalah karena hujan beraninya keroyokan, coba kalau satu-satu pasti nggak ada yang takut Om."
"Ha-ha-ha..."
Semua tertawa begitu juga Mahen.
Mahen akui putrinya memang pintar tapi dalam hatinya, dia juga berterima kasih kepada Devani, semua kepintaran Annisa tak lepas, berkat didikannya.
"Horee...kita sudah sampai. Bunda sudah siap apa belum ya, Pa...ayo kita turun jemput bunda," ucap Annisa.
Mahen pun berpikir sejenak dan akhirnya ikut turun, karena dia merasa tidak enak dengan mertuanya jika harus menyuruh Hans yang menjemput Devani.
__ADS_1
Hans tersenyum, dia senang melihat sang Kakak ternyata masih mengutamakan rasa tanggungjawab ketimbang egonya.
Mahen dan Annisa mengucap salam, ternyata yang membuka pintu adalah Papa Andara.
Annisa pun langsung berlari ke gendongan eyangnya dan Papa Andara mencium kedua pipi cucunya itu sambil berkata, "Baru sebentar cucu eyang pergi, eyang sudah kangen dan rumah eyang jadi sepi, nggak ada kamu di sini."
"Maaf ya eyang, besok Annisa pasti main lagi ke sini," ucap Annisa.
"Bunda mana Yang?" tanya Annisa dengan celingukan melihat ke dalam rumah.
"Silahkan masuk dulu Nak! Devani sedang bersiap," ucap Papa Andara.
Mahen dan Annisa pun masuk dan duduk menunggu kedatangan Devani sambil ngobrol dengan Papa Andara. Tidak lama menunggu Devani pun muncul.
Seperti biasa Devani hanya menggunakan celana jeans beserta kaos ketat, karena itu adalah mode pakaian kesukaannya.
Mahen memandangnya dengan perasaan kurang suka, karena baginya wanita akan terlihat lebih anggun jika menggunakan blush, rok ataupun gaun.
Papa Andara yang melihat tatapan Mahen menyiratkan ketidak puasan dengan penampilan Devani lalu berkata, "Kenapa memakai pakaian seperti itu Van?" tanya Papa Andara.
"Papa 'kan tahu, pakaianku semuanya memang seperti ini, karena aku bukanlah Devina Pa, yang hampir semua pakaiannya serba gaun. Jadi maaf Pa, Hen...jika penampilanku mengecewakan dan membuatmu malu, lebih baik aku nggak jadi ikut," ucap Devani sambil berbalik hendak pergi.
"Bunda tunggu!" ucap Annisa sambil menarik tangan Devani.
"Bunda cantik kok dengan dandanan seperti itu, Papa juga nggak masalah, iya 'kan Pa?"
Mahen tidak menjawab, hanya berkata, "Ayo Van...kita berangkat kasihan Hans sudah lama menunggu kita di dalam mobil."
"Pergilah Nak," ucap Papa Andara.
Annisa pun menatap Devani, sorot matanya terlihat begitu memohon agar Devani ikut.
"Ayo kita berangkat. Pa...kami berangkat dulu ya, salam dengan mama," ucap Mahen.
Mahen tahu kebiasaan mama Intan, jam segitu mama pasti sedang istirahat di kamar, sambil menunggu datangnya waktu isya.
Devani tidak bisa menolak ketika Annisa menarik tangannya untuk berangkat.
Hans yang melihat mereka keluar rumah merasa lega, tadinya dia sempat khawatir jika Devani membatalkan kepergiannya.
"Bunda duduk di Devan ya, Nisa biar duduk dengan Om Hans, karena kami mau melanjutkan bermain tebak-tebakan.
"Bunda biar duduk bersama kalian saja, karena Bunda juga ingin ikut main," ucap Devani sambil membuka pintu belakang. Dia memang sengaja ingin menghindari Mahen.
Mahen yang melihat hal itu, langsung membuka pintu depan, lalu memegang tangan Devani sambil berkata, "Duduklah di depan, biarkan Annisa bersama Hans."
__ADS_1
Annisa dan Hansen saling mengerlingkan mata, keduanya berharap rencana ingin mendekatkan Mahen dengan Devani berjalan lancar.